Lumayan, kanggo lenyepaneun .....

Caping Goenawan Mohammad, Tempo, Senin, 01 Desember 2008

Mumbai

"..yes, it was my Bombay, but also not-mine"

Saleem kembali ke kota kelahirannya, Bombay: tempat tinggal nostalgianya 
yang paling dalam. Tapi di awal tahun 1970-an itu, kota itu telah berubah.

Tokoh utama novel Salman Rushdie Midnight's Children ini tak menemukan 
kembali toko penjual tumpukan komik Superman. Dan nun di bukit itu tak ada 
lagi rumah-rumah megah yang dirias bunga bougenville, menatap ke laut. Tak 
ada lagi lapangan sirkus di masa kanak. Kini yang tampak adalah 
"monster-monster yang mengangkang menjulang ke langit, memanggul nama asing 
yang ganjil: OBEROI-SHERATON."

Saleem, yang dilahirkan di tengah malam 15 Agustus 1947, persis di hari 
India lahir, akhirnya cuma punya masa lalu. Ia memasuki kota itu seraya 
memeluk erat Aadam, si bocah yang jadi anaknya, dan berseru gembira: 
"Back-to-Bom!" Tapi ia tak bisa kembali. Sebab itu ia harus musnah. Durga 
telah berkata kepadanya: ".ketika orang kehilangan minat pada hal-ihwal yang 
baru, ia membuka pintu bagi Malaikat Hitam".

Kini Bombay disebut Mumbai - hampir sepenuhnya sebuah hal baru, dibentuk 
minat baru. Orang jadi penting bila berlalu lalang di ruang pasar modal yang 
terus membubung, atau di koridor industri film yang menjangkau dunia. Dengan 
glamor dan kalkulator mereka membuat hotel megah seperti Oberoi dan Taj 
Mahal bukan ebagai monster yang asing, melainkan sebuah kegairahan yang tak 
dimengerti Saleem.

Tapi berbeda dengan Saleem, para penghuni Mumbai di lapisan atas itu tak 
hendak sepenuhnya berpijak ke kota yang oleh orang Portugis disebut "Teluk 
yang Baik" (Bom Bahia) itu. Dalam sebuah buku yang memukau tentang pesona 
dan kebrutalan Bombay, Maximum City, Suketu Mehta menggambarkan sebuah 
kalangan atas, the society set, yang sebenarnya benci hidup di sana. Mereka 
tinggal di Mumbai karena tak bisa hidup di tempat lain di India. Bila mereka 
pindah, mereka pindah ke New York atau London. Atau mereka bawa New York dan 
London ke ibukota negara bagian Maharashtra itu. "Jika kita berjalan lepas 
dari jalanan Bombay yang jorok, kita akan berada di Soho", tulis Mehta. 
"Seluruh usaha dicurahkan untuk membuatnya 'luar-negeri': para pelayannya, 
makanannya, dekornya".

Tapi mungkin tak hanya kalangan atas yang memimpikan negeri lain. Dengan 
akses yang relatif mudah ke kancah diaspora orang-orang India di seluruh 
dunia, terutama di Amerika dan Eropa, sebenarnya tak jelas betul mana yang 
"asing" dan bukan, mana yang "luar" dan "dalam".

Saleem dalam Midnight's Children -- yang riwayatnya oleh Salman Rusdhie 
diparalelkan dengan bangsa dan negara "India" - sebenarnya berdarah Inggris; 
ia anak haram William Methwold, yang ditukar jadi anak Ahmed dan Amina 
Sinai. Sampai akhir hayatnya, Saleem adalah sebuah keragaman dalam satu 
sosok, keanekaan yang batasnya tak jelas. Agaknya menyadari ini, kutipan 
awal dalam Maximum City diambil dari ucapan Kabir: "Aku sendirian, tapi 
beberapa".

Bahkan dalam kesendirian, apakah makna batas? Di mana ia ditarik? Hari-hari 
ketika Mumbai kena gempur sejumlah teroris yang tak dikenal, para pemimpin 
politik dan komentator India berbicara tentang "kekuatan luar" dan 
"perbatasan yang bolong-bolong" yang menyebabkan serangan sehebat itu 
terjadi. Tapi jika Mumbai, seperti Saleem - ya, seperti India seluruhnya - 
tak hanya satu, melainkan kebhinekaan, maka yang "asing" dan yang "luar" 
adalah identifikasi yang mudah runyam.

Maximum City mengutip Victor Hugo: semua kota besar dirundung skizofrenia. 
Mumbai dirundung gejala kepribadian ganda yang bisa parah. Mehta berhasil 
menghadirkan kepada kita dunia gelap yang tersembunyi di kota terkaya di 
India ini: ada Monalisa, penari kabaret yang memotong pergelangan tangannya 
sendiri, ada Vijay Lal, perwira polisi yang jujur tapi tak enggan menyiksa 
tahanannya. Ada Sunil, Satish, dan Mohsin, yang bisa bercerita dengan acuh 
tak acuh bagaimana membunuh orang.

Mehta tak menjerit menghakimi mereka, meskipun kita bisa merasakan horor 
yang merayap ke dalam laporannya.

Dalam cerita Sunil, misalnya. Ia anggota Shiv Sena, organisasi Hindu yang 
tumbuh dengan dendam dan kebencian kepada minoritas Muslim. Pada Januari 
1993, setelah sebuah bentrokan antara Hindu-Muslim, Sunil dan teman-temannya 
bergerak membabat orang Muslim, menjarah milik mereka, membakar tubuh mereka 
hidup-hidup.

Dengan rinci ia gambarkan bagaimana seseorang mati terbakar. "Minyak menetes 
dari tubuhnya. Matanya jadi besar, besar.. dan jika kau sentuh tangannya, 
putihnya kelihatan, putih, putih.terutama di hidung".

Horor, dia sendiri mengakui itu. Tapi ia dengan tenang membasmi habis tubuh 
penjual roti lengganannya. "Kejahatannya terbesar adalah ia Muslim", seperti 
kata seorang anggota Sena yang lain.

Hal yang sama bisa dikatakan oleh seorang Muslim yang memenggal leher 
seorang Hindu: "Kejahatannya terbesar adalah ia Hindu" - dan sebab itu 
identitas di Mumbai, sebagaimana dikisahkan Mehta, harus bisa dikaburkan: 
kartu nama dicetak dalam dua versi, Muslim dan Hindu.

Ini cara untuk selamat, ini mungkin bukan heroisme, tapi jangan-jangan ini 
menunjukkan dasar persoalan: bagaimana kita mendefinisikan diri dan orang 
lain?

Dalam novel Salman Rushdie, Saleem menutup kisahnya dengan sebuah kalimat 
amat panjang. Tapi kata-katanya bukan sebuah ucapan selamat tinggal kepada 
India yang beraneka-ragam. Justru sebaliknya:

"Akulah bom di Bombay, simaklah aku meledak, tulang pecah-retak tertekan 
desakan tak enak kelimunan manusia, kantung berisi belulang yang jatuh, ke 
bawah ke bawah ke bawah.

..aku telah jadi yang-begitu-banyak-terlampau-banyak."

"Terlampau banyak": perbedaan bukanlah sesuatu yang gampang berhenti. Siapa 
yang memaksakan sesuatu yang tunggal, akan batal.

Goenawan Mohamad 


------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke