liuer uing macana ge

--- On Sat, 6/12/08, Gunawan Yusuf <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Gunawan Yusuf <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [kisunda] Bapa Raden Wijaya sanes sunda ?
To: [email protected]
Received: Saturday, 6 December, 2008, 2:43 AM










    
            punten teu disundakeun, rupina kedah ditaroskeun heula ka ahli 
sejarah Pa Aca, atanapi Abah Surya
 
Perlu diketahui bahwa catatan dari tanah Sunda tentang kaitan antara Raden 
Wijaya dengan Rakeyan Jayadarma ini hanya pendapat minoritas sejarawan. 
Kelemahan utamanya adalah nama Dyah Lembu Tal adalah nama laki-laki, yang 
umumnya diterima sebagai ayah dari Raden Wijaya.

Lembu, Kebo, Mahisa, dan Gajah adalah nama laki-laki. Seperti dalam nama-nama 
era Singasari-Majapahit : Kebo Ijo, Kebo Anabrang, Mahisa Cempaka, Mahisa Wong 
Ateleng, Gajah Mada, Raden Gajah, Lembu Peteng (Brawijaya VI), dan tentu saja 
Lembu Tal.

Dyah pada kerajaan Singasari-Majapahit bukanlah nama perempuan. Dyah adalah 
nama (gelaran) yang biasa dipakai oleh bangsawan kelas atas (laki-laki dan 
wanita). Contoh yang laki-laki: Dyah Kertawijaya (Brawijaya I), Sri 
Rajasanegara Dyah Hayam Wuruk, Dyah Ranawijaya (Girindrawardhana) .

Menurut saya pribadi, catatan Sunda ini kemungkinan dibuat setelah era 
Majapahit berakhir, oleh penulis yang kurang memahami latar budaya penamaan era 
Majapahit yang sudah berlalu, sehingga terjadi kesalahan jenis kelamin Lembu 
Tal.

Komentar: Pada dasarnya, Anda keberatan mengakui bahwa pendiri Kerajaan 
Majapahit adalah Putera Raja Sunda Galuh ke-26.
Reply to Komentar: Maaf, komentar anda terdengar emosional. Saya rasa tidak ada 
yang akan menulis pernyataan di atas seandainya catatan tanah Sunda itu lebih 
rasional. Misalnya begini, seandainya saja disebutkan Raden Wijaya adalah cucu 
Raja Sunda Galuh, atau anak Lembu Tal dari seorang Putri Raja Sunda Galuh, itu 
akan cukup masuk di akal. Inti permasalahannya adalah kalau sekarang ini ada 
yang berpendapat Lembu Tal itu nama perempuan, mungkin generasi akan datang 
akan ada yang malah berpendapat Gajah Mada itu perempuan juga.

Dukungan : Saya sependapat bahwa Lembu Tal adalah nama seorang pria. Dalam 
Terjemahan Nagarakretagama (saya lupa bab berapa) disebutkan bahwa lembu Tal 
adalah seorang prawira yuda dan merupakan ayah dari Raden Wijaya.

Komentar : Jika benar Dyah Lembu Tal adalah nama seorang pria dan bapak dari 
Raden Wijaya, lalu siapa Ibu dari Raden Wijaya (menurut versi orang yang 
percaya Lembu Tal adalah pria)? Jika tidak ada satu pun sumber sejarah yang 
menyebut Ibu Raden Wijaya, menurut versi tersebut, jelas hal ini sangat aneh 
dan irasional.Tampak ada sesuatu yang di sembunyikan. Karena silsilah Raja-raja 
Singhasari saja sebagai pendahulu kerajaan Majapahit, sudah begitu lengkap dan 
jelas asal-usulnya.

Selain itu, Nagarakretagama tidak bisa di terima begitu saja tanpa mempelajari 
sumber sejarah lain mengingat kitab ini sebagian besar hanya berisi pujian atas 
kebesaran Majapahit dan Raja-raja Majapahit dan tentu saja "mendem" semua hal 
dan kejadian yang di anggap bisa mengurangi kebesaran Majapahit termasuk 
peristiwa perebutan kekuasan berdarah di antara keluarga kerajaan Singhasari 
(pendahulu Raja-raja Majapahit).

1. Dyah dan RadenPada zaman Majapahit gelar dyah bukan khusus untuk kaum 
perempuan saja. Dalam Nagarakretagama yang dikarang abad ke-14, nama pendiri 
Majapahit ditulis DYAH WIJAYA, sedangkan dalam Pararaton yang ditulis sekitar 
akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16, nama tersebut berubah menjadi RADEN 
WIJAYA. Ini berarti gelar Dyah sama dengan Raden.222.124. 227.91 11:36, 20 
Februari 2008 (UTC

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      Start your day with Yahoo!7 and win a Sony Bravia TV. Enter now 
http://au.docs.yahoo.com/homepageset/?p1=other&p2=au&p3=tagline

Kirim email ke