Numutkeun spesialis ahli politik asal amrik, anu namina (mun teu lepat) Anderson, ningali "dinamika" politik di nagara urang mah ibaratna ningali cai susukan anu ngalir tenang ngan kadang osok ujug-ujug mucunghul we aya kempelan buaya ngamuk" Nyaeta siganamah "jurig kekerasan tea".
Kunaha bisa kitu? Kulantaran siganamah "keterbatasan" berbahasa, sesah ngungkapkeun kakeuheul jeung perbedaan anu aya dina alam pikirana sewang-sewangan, teu tiasa dikompromikeun. Kumargi teu tiasa "ucap" nya nya tungtungna pa adu peureup. Kirang puas, nya mesat gobang. --- In [email protected], richadiana kartakusuma <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > oooooooooo INDONESIA , > poor thing! tak aneh orang2 seperti Kang Imun mucunghul > dengan segenap ironis kritikannya.... > apa ini tanda ZAMAN Kaliyuga menuju PRALAYA > aHUUUUUUUUUUUUUNNNNNNNNNNNNNGGGGGG.... > > > > > ________________________________ > From: Waluya <[EMAIL PROTECTED]> > To: Urangsunda <[EMAIL PROTECTED]>; [email protected] > Sent: Tuesday, December 9, 2008 3:25:46 PM > Subject: [kisunda] Sate Jelema? > > > Cenah aya buku judulna "In Time of Madness", resensina tina Kompas dihandap > ieu. Nu matak kaget, geuning aya kanibalismeu sajeroning kekerasan di > Indonesia. Nu ngarang buku ieu, Lloyd Parry, kungsi ditawaran sate manusa di > Sambas Kalbar. Naha bener kitu? > > Hantu-hantu (tentang) Indonesia > KO M PA S > Selasa, 9 Desember 2008 | 03:00 WIB > > Oleh TRISNO S SUTANTO > > Mungkin, suatu kali, akan ada sebuah buku tentang Indonesia-atau, > lebih tepat, tentang sejarah mengindonesia- yang dibuka dengan kalimat > begini: "Ada hantu yang memambangi Indonesia. Dan hantu itu adalah > kekerasan." > > Sebab sejarah Indonesia, yakni proses yang tidak kunjung selesai > untuk "menjadi Indonesia", dipenuhi narasi kekerasan yang menebarkan > pesona serta aroma memikat, tetapi sekaligus menakutkan. Seperti > misteri: Anda tidak pernah dapat menebak atau membayangkan, tetapi > tiba-tiba menyergap dan membuat lidah kelu. Karena itu, untuk > mengendus jejaknya dibutuhkan jurnalis investigatif tingkat atas > yang, sekaligus, seorang sastrawan dengan kehalusan bahasa ala > realisme magis Gabriel Marquez. > > Dan Richard Lloyd Parry memiliki keduanya. Ia bukan seorang > "indonesianis" yang dengan gampang membuat klasifikasi konseptual dan > mereduksi kekayaan fenomena yang serba karut-marut ke dalam perangkat- > perangkat akademis. Malah, seperti diakuinya sendiri, Indonesia > adalah teritori antah berantah yang tidak pernah (dan tidak kunjung) > dipahami, selain jejeran nama pulau di atas peta. > > Akan tetapi, inilah keuntungan seorang "pemula". Bermodalkan rasa > ingin tahu (walau mulanya terpaksa sebagai koresponden yang > ditugaskan atasannya), dengan kejelian insting jurnalistik piawai (ia > pernah bertugas di dua puluh empat negara) dan kecakapan mengolah > bahasa, Lloyd Parry berhasil mengendus wilayah misterius, hantu-hantu > yang selalu menguntit dan memambangi proses mengindonesia. Buku In > Time of Madness (dialihbahasakan dengan bagus oleh Yuliani Liputo) > tidak sekadar menyajikan laporan jurnalistik tentang kurun tiga tahun > (1996-1999) yang paling krusial dalam sejarah Indonesia kontemporer, > tetapi sekaligus permenungan tentang kekerasan dan rasa takut yang > bagai racun menyebar dan melumpuhkannya. > > Monster kekerasan > > Lloyd Parry mengolah bahan- bahannya bak sastrawan realisme magis- > genre penulisan yang mencuat dari Benua Amerika Latin, benua yang > juga dipenuhi oleh hantu sejarah. Bagian awal bukunya, tentang "Mimpi > Buruk di Bali 1996", seperti lukisan novel surealis yang memberi > setting dan nada dasar seluruh narasinya. > > Apa yang dikisahkan Lloyd Parry memang melangkaui rasa, pemahaman, > atau bahkan kosakata realitas yang waras dan dapat dicerna nalar > modern, misalnya konflik suku di Kalimantan yang membuat orang-orang > Madura di sana terusir keluar, selalu mrucut (lolos) dari kategori- > kategori penjelasan yang biasa dibuat. Sebab, "di dalam perang > terhadap orang Madura ini, tidak ada jejak keyakinan yang mengilhami > konflik kesukuan yang lain-tidak ada doktrin superioritas, tidak ada > ajakan ekspansionisme atau kenangan tentang ketidakadilan sejarah," > tulisnya. "Tidak ada juru propaganda atau ideolog; nyaris pula tidak > ada pemimpin. Bahkan, tribalisme tidak dapat menjelaskannya karena > tidak ada sifat kesukuan yang menyatukan orang Melayu dengan orang > Dayak dan orang Bugis." (hal 129). > > Yang menjadikannya lebih rumit, bukan saja penyebab konflik, tetapi > bentuk-bentuk ekspresi konfliknya menjungkirbalikkan tatanan lazim > dunia modern. Di Sambas, Lloyd Parry tidak saja menyaksikan > kanibalisme yang dipertontonkan secara terbuka, tetapi bahkan menjadi > sadar betapa tipis batas antara nalar modern dan dorongan purba itu. > > Ada bagian dari narasinya yang paling menyentuh. Seseorang > menyodorkan sekerat daging manusia yang sudah disate dan menyuruh > Lloyd Parry memakannya. Begini ia melukiskan perasaannya: "Sekali > lagi saya mengalami sensasi kesurupan itu dan seolah gravitasi lenyap > di sekitar saya. Saya pikir betapa mudahnya kalau saya ambil saja > daging itu dan memakannya. Saya berpikir tentang hewan-hewan yang > telah saya makan seumur hidup saya sampai sekarang, anjing, monyet, > ular, siput, keong. . Seberapa jauhkah seekor monyet dari manusia? > Seberapa dekatkah saya dengan seorang kanibal?" (hal 110). > > Lloyd Parry tidak memakannya karena "potongan daging itu tampak > dingin dan tak menggugah selera". Namun, ia sadar betapa tipis batas > antara kemodernan dan praktik kanibalisme purba. Di Jakarta, ia > menyaksikan bentuk lain dari monster kekerasan: mayat-mayat yang > terpanggang dalam kerusuhan Mei 1998. Jakarta pada Mei 1998 adalah > pentas teater yang juga mrucut dari penjelasan modern: ibu kota yang > dijarah oleh warganya sendiri (hal 209). Dan ujung akhirnya adalah > potongan-potongan tubuh yang hangus terpanggang. > > Di Dili, pada kerusuhan pascajajak pendapat yang memerdekakan Timor > Timur, monster kekerasan itu sungguh melumpuhkan. Bersama wartawan- > wartawan asing lain, ia terjebak di dalam markas UNHCR, persis di > samping lokasi sekolah yang menjadi tempat pengungsian ribuan warga. > > "Di Kalimantan dan Jakarta, saya sudah menyaksikan kekerasan dan > kekejaman. Tetapi, saya menyaksikannya dalam cara saya sendiri. > Kehidupan dunia selalu ada sebagai latarnya: setiap saat saya bisa > melangkahkan kaki dari tepinya dan menikmati makanan, teman, serta > ranjang yang nyaman," tulisnya. > > "Di Dili semua itu tidak ada. Hukum, nalar, rasa iba, dan peradaban > telah mengerut ke dalam batas-batas markas PBB, ke beberapa ribu > meter persegi di antara dinding bekas kampus keguruan." (hal 399). > > Ia akhirnya tidak tahan dan ikut melarikan diri. "Saya sudah > melompat," tulisnya jujur. "Saya sudah lari karena saya takut > terbunuh atau, lebih tepatnya, mati ketakutan." (hal 417). Dibutuhkan > waktu yang cukup panjang sebelum akhirnya Lloyd Parry menulis buku > yang sekaligus menjadi proses terapeutisnya. > > Lubang hitam sejarah > > Buku ini tidak menyajikan analisis menyeluruh, apalagi berpretensi > memberi jawaban dan penjelasan terhadap peristiwa-peristiwa yang > dituturkan. Bukan itu maksud Lloyd Parry. > > Sebagai seorang wartawan, ia hanya melaporkan apa yang dilihat, > dirasa, dan dialaminya. Laporannya sungguh jujur. Bukan saja tentang > ketakutan yang membuatnya lumpuh dan dihantui mimpi-mimpi buruk teror > Kolonel Mahmud, tetapi juga jujur mengakui bahwa monster kekerasan > yang disaksikan dan diikutinya sejak dari Kalimantan, Jakarta, sampai > Dili memang sesuatu yang tidak pernah dapat dipahaminya. > > Akan tetapi, justru karena itu, laporannya memberi kita cermin untuk > secara jujur merenungkan sejarah mengindonesia. Proyek untuk "menjadi > Indonesia"- suatu proyek modern par excellence!- tampaknya dibangun di > atas landasan yang sangat rapuh. Atau bahkan, kata Lloyd Parry, di > atas "lubang kelam", yakni lubang hitam sejarah warisan Orde Baru. > > "Apa pun bangunan kemajuan yang ditegakkan selama tiga puluh tahun > kemudian, di bawah itu semua adalah lubang kelam yang menyimpan tubuh- > tubuh orang yang mati dalam pembantaian antikomunis, " tulisnya. "Orde > Baru lahir dalam kekerasan yang teramat sangat; ancaman kekerasan > tersirat sepanjang sejarahnya; dan berakhir dalam ledakan kekerasan > yang beriak lama setelah pendirinya tumbang." (hal 169). > > Sampai kini lubang kelam itu masih terus menganga. Dari dalam lubang > itu, hantu-hantu bermunculan dan memambangi proses mengindonesia yang > kita jalani entah sampai kapan. > > Trisno S Sutanto Mahasiswa STF Driyarkara; Bekerja di Masyarakat > Dialog Antaragama > ------------------------------------ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kisunda/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
