Nyanggakeun salah sahiji padamelan Ambu Dian, nu dipublikasikeun  ku media:

Sejarah Sunda Mulai Terkuak
Jakarta, Kompas tanggal 21-02-1995

Prasasti koleksi Museum Adam Malik Jakarta, ikut memperkuat dugaan adanya 
kesinambungan Kerajaan Pasundan dengan Kerajaan Mataram Hindu di Jawa 
Tengah. Bahkan bila dikaitkan dengan temuan - temuan prasasti di Jawa Barat 
termasuk temuan tahun 90-an, prasasti ini ikut memberi titik terang sejarah 
klasik di Tanah Pasundan yang selama ini masih gelap.

Kepala Bidang Arkeologi Klasik pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit 
Arkenas) Dr Endang Sri Hadiati didampingi peneliti arkeologi spesialis 
Sunda, Richadiana Kartakusuma SU, mengemukakan itu saat ditemui Kompas di 
ruang kerjanya di Jakarta, Senin (20/2). Keduanya ditemui dalam kaitan 
dengan Sejarah Klasik Sunda yang selama ini masih gelap, bila dibanding 
dengan sejarah klasik di Jawa Tengah, yang telah mampu memberikan sejarah 
lebih runtut.

Bila benar dugaan adanya kesinambungan antara Raja Sunda dan Jawa Tengah 
ini, maka ini merupakan asumsi sejarah baru dalam perkembangan sejarah 
nasional selama ini. Endang Sri Hadiati menyatakan, kesinambungan atau 
adanya dugaan hubungan antara Kerajaan Pasundan dan kerajaan di Jawa Tengah 
itu disebut-sebut dalam lontar Carita Parahiyangan yang ditemukan Ciamis, 
Jawa Barat.

Lontar yang ditemukan tahun 1962 ini mengisahkan tentang raja-raja Tanah 
Galuh Jawa Barat. Salah satu lontar dari Carita Parahiyangan yang belum 
diketahui angka tahunnya itu di antaranya menyebut nama Sanjaya sebagai 
pencetus generasi baru yang dikenal dengan Dewa Raja.

Apa yang disebut dalam Carita Parahiyangan, menurut Richadiana, ada kesamaan 
makna dengan prasasti yang ditemukan di Gunung Wukir, yang berada di antara 
daerah Sleman dan Magelang (Jawa Tengah). Prasasti batu abad VII yang 
kemudian disebut sebagai Prasasti Canggal itu secara jelas menyebut, bahwa 
di wilayah itu telah berdiri wangsa atau kerajaan baru dengan Sanjaya nama 
rajanya, atau dikenal kemudian sebagai Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. 
'Saya belum berani memastikan adanya kesinambungan Raja Sunda dan Jawa. Yang 
pasti, Carita Parahiyangan yang berisi tentang cerita raja-raja Galuh itu, 
salah satunya menyebut nama Sanjaya yang membuat kerajaan baru, dan itu sama 
persis yang disebutkan dalam prasasti Canggal di Jawa Tengah," tegas 
Richadiana.

Menurut Richadiana, dugaan itu diperkuat pula dengan prasasti yang dikoleksi 
oleh Adam Malik (almarhum), yang dikenal dengan prasasti Sragen (ditemukan 
di Sragen Jateng). Richadiana tidak tahu persis kapan prasasti itu dikoleksi 
Adam Malik. Yang pasti, prasasti itu isinya juga bisa menjadi fakta adanya 
dugaan kesinambungan antara Kerajaan Pasundan dan Jawa.


Dua abad hilang

Endang Sri Hadiati dan Richadiana mengakui, sejarah Pasundan memang masih 
gelap, artinya belum mempunyai alur sejarah yang mendekati pasti."Tonggak 
sejarah klasik Jawa Barat hanya pada 6 buah prasasti Raja Tarumanegara 
sekitar abad V. Temuan prasati lain tidak mendukung adanya kelanjutan 
sejarah, karena selisih waktunya berabad-abad," tandasnya. Namun begitu, 
jika dicermati dan dikaitkan dengan temuan tahun 90-an ini, sebenarnya hanya 
rentang waktu dua abad saja sejarah Klasik Sunda yang hilang, bila dihitung 
sejak Raja Tarumanegara, yaitu antara abad ke V - VII.

Richadiana mengatakan, setelah abad Raja Tarumanegara V sampai abad ke VII 
memang tidak ditemukan prasasti. Namun lontar Carita Parahiyangan 
mengisahkan adanya kehidupan raja-raja di Tanah Galuh pada abad VII, disusul 
kemudian adanya temuan prasasti abad VIII Juru Pangambat. Prasasti ini 
ditemukan di seputar prasasti Tarumanegara, yang mengisahkan tentang adanya 
seorang pejabat tinggi yang bernama Rakai Juru Pangambat.

Menurut Richadiana, prasasti Huludayueh yang ditemukan di Cirebon tahun 1990 
mengisahkan bahwa antara abad 10 sampai 12 hidup seorang Raja bernama 
Pakuan. Sebelum itu ditemukan prasasti di Tasikmalaya yang dikenal dengan 
prasasti Rumatak. Prasasti berangka tahun 1.030 ini mengisahkan bahwa pada 
masa itu hidup seorang Raja Jaya Bupati. 'Sebenarnya kalau kita runut 
prasasti-prasasti itu sudah mengindikasikan adanya urutan sejarah klasik 
Sunda. Tidak ada peminat yang mempelajari sejarah klasik orang Sunda, selain 
orang Sunda sendiri. Itu yang menyebabkan sejarah Sunda seperti merana,' 
tegasnya. (top)

KOMPAS, Selasa, 21-02-1995. Hal. 16
PUSAT INFORMASI KOMPAS
Palmerah Selatan 26-28
JAKARTA 10270 


------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke