rada di kerepkeun saringanna... Komo mun nyangkut kana kaISLAMan...

Roza Rahmadjasa Mintaredja wrote: 
>             kg Waluy, uin panuju pisan mun topik2 CP.GM Tempo di alungkeun ka 
> milist sabab wawasan sosialna jero, aktual jeung abadi. conto kritik na tajam 
> , emutaneun. uin penggemar GM, komo sual agama jeung politik mung tos lami 
> teu maca. nhn.0ca From: Waluya <waluya2...@yahoo. co.id> To: 
> kisu...@yahoogroups .com; Baraya Sunda <Baraya_Sunda@ yahoogroups. com>; 
> Urangsunda <urangsu...@yahoogro ups.com> Sent: Monday, December 15, 2008
>  12:05:30 PM Subject: [kisunda] Fw: Pelacur 
> Urang Sunda nyarebutna ungkluk, tapi kecap ieu ayeuna jarang diucapkeun, 
> diganti ku kecap WTS, awewe teu boga susila. Tapi naha bener ungkluk sagoreng 
> nu disangka, nyanggakeun Catatan Pinggir Goenawan Muhamamd dina Tempo minggu 
> ieu: Pelacur Senin, 15 Desember 2008 Catatan Pinggir, Tempo 15 Desember 2008 
> http://www.tempoint eraktif.com/ hg/caping/ /2008/12/ 15/mbm.20081215. 
> CTP129003. id.html Dengan tubuhnya yang gempal perempuan itu memecah batu, 
> dengan tubuhnya yang tebal ia seorang pelacur. Namanya Nur Hidayah, 35 tahun, 
> kelahiran Tulungagung, Jawa Timur. Ia seorang istri yang ditinggalkan suami 
> (meskipun mereka belum bercerai), ia ibu dari lima anak yang praktis yatim. 
> Tiap pagi, setelah Tegar, anaknya yang berumur enam tahun, berangkat ke 
> sekolah dengan ojek, Nur datang ke
>  tempat kerjanya. Di sana ia mengangkut batu, kemudian memecah-mecahnya, 
> untuk dijual ke pemborong bangunan. Nova, empat tahun, anak bungsunya, selalu 
> dibawanya. Nur bekerja sekitar lima jam sampai tengah hari. Lalu ia pulang. 
> Tegar akan sudah kembali ke rumah kontrakan mereka, dan Nur bisa bermain 
> dengan kedua anak itu. Sampai pukul tiga sore. Matahari sudah mulai turun 
> ketika Nur membawa kedua anaknya ke tempat penitipan milik Ibu In, yang ia 
> bayar Rp 20 ribu sehari. Lalu ia berdandan: memasang lipstik tebal, berpupur, 
> mengenakan baju terbaik. Lepas magrib, ia naik ojek dari kampung Mujang itu 
> ke Gunung Bolo, 45 menit jaraknya dengan sepeda motor. Di kegelapan malam di 
> tempat tinggi yang jadi kuburan Cina itu, Nur menjajakan seks. Ia menjual 
> tubuhnya. Ia tak memilih pekerjaan itu. Sutrisno, suaminya, yang menikah 
> dengan perempuan lain, tak memberinya nafkah. Ia bertemu dengan lelaki
>  itu pada 1992 dalam bus ke Trenggalek. Mereka saling tertarik, dan Sutrisno 
> menemukan lowongan buat Nur di Pabrik Rokok "Semanggi" di Kediri. Pekerjaan 
> mengelinting sigaret itu hanya dijalaninya dua bulan. Nur hamil. Ia harus 
> menikah. Ia pun jadi istri seorang suami yang menghabiskan waktunya di meja 
> judi dan botol ciu. Tak ada penghasilan. Tak ada pengharapan. Setelah anak 
> yang kelima lahir, dalam keadaan putus asa, Nur ikut ajakan tetangganya, 
> seorang pelacur di Gunung Bolo. Ia bergabung dengan sekitar 80 pekerja seks 
> di tempat itu, dan jadi sahabat Mira, yang lebih muda setahun tapi sudah 
> hampir separuh usianya menyewakan kelamin. Mereka menghabiskan malam mereka 
> mencari konsumen di pekuburan Cina itu. Tarif: Rp 10 ribu sepersetubuhan. 
> "Pernah ada pengalaman yang membuat Mbak Nur senang, selama ini, ketika 
> melayani tamu?" "Ah, ya ndak ada," jawabnya. Tapi suara itu tak getir.
>  Nur, juga Mira, bukanlah keluh yang pahit. Dalam film dokumenter yang dibuat 
> Ucu Agustin-salah satu dari Pertaruhan, empat karya dokumenter tentang 
> perempuan yang layak beredar luas di Indonesia kini-kedua pelacur itu 
> berbicara tentang hidup mereka seperti seorang pedagang kecil (atau guru 
> mengaji yang miskin) berbicara tentang kerja mereka sehari-hari. . Bahkan 
> dengan kalem mereka, sebagai undangan Kalyana Shira Foundation yang 
> memproduksi Pertaruhan, duduk bersama peserta Jakarta International Film 
> Festival di sebuah kafe di Grand Indonesia-seakan- akan mall megah itu bukan 
> negeri ajaib dalam mimpi seorang Tulungagung. Ketika saya menemui mereka di 
> tempat minum Goethe Haus pekan lalu, Mira duduk seperti di warung yang amat 
> dikenalnya, dengan rokok yang terus menyala (tapi ia menolak minum bir), dan 
> Nur memeluk Nova yang dibawanya ikut ke Jakarta. Haruskah Mira, Nur, merasa 
> lain: nista? Produser,
>  sutradara, dan aktivis perempuan yang menjamu mereka tak membuat para 
> pelacur itu asing dan rikuh. Bahkan Tegar dan Nova diurus panitia seakan-akan 
> kemenakan sendiri-dan dengan kagum saya melihat sebuah generasi Indonesia 
> yang menolak sikap orang tua dan guru agama mereka. Mira dan Nur tak akan 
> mereka kirim ke neraka, di mana pun neraka itu. Ucu Agustin, 32 tahun, 
> sutradara dokumenter ini, telah berjalan jauh. Ia lulus dari IAIN pada tahun 
> 2000 setelah enam tahun di pesantren Darunnajah di Jakarta, di mana murid 
> perempuan bahkan dilarang membaca majalah Femina. Ia kini tahu, agama tak 
> berdaya menghadapi Nur dan kaumnya. Di Tulungagung terdapat setidaknya 16 
> tempat pelacuran. Ada dua yang legal, yang tiap Ramadan harus tutup. Tapi 
> sia-sia: di tiap bulan puasa pula para pelacur yang kehilangan kerja datang 
> antara lain ke Gunung Bolo. Pekerja di tempat itu bertambah 50 persen. Dan 
> bagaimana
>  agama akan punya arti bila tak memandang dengan hormat ke wajah Nur: seorang 
> ibu yang mengais dari Nasib untuk mengubah hidup anak-anaknya? "Mereka harus 
> sekolah, mereka ndak boleh mengulangi hidup emak mereka," Nur berkata, 
> berkali-kali. Dengan memecah batu ia dapat Rp 400 ribu sebulan, dengan 
> melacur ia rata-rata dapat Rp 30 ribu semalam. Dengan itu ia bisa mengirim 
> Tegar ke sebuah TK Katolik sambil membantu hidup anak-anaknya yang lain yang 
> ia titipkan di rumah seorang saudara. Nur tegak di atas kakinya sendiri. Ia 
> contoh yang baik "dialektika" yang disebut Walter Benjamin: seorang 
> pelacur-seorang pemilik alat produksi dan sekaligus alat produksi itu 
> sendiri, seorang penjaja (Verkäuferin) dan barang yang dijajakan (Ware) dalam 
> satu tubuh. Ia buruh; ia bukan. Bagi saya ia "Ibu Indonesia Tahun 2008". 
> Setidaknya ia kisah tentang harapan dalam hidup yang remang-remang. Memang 
> tuan dan



      Buat sendiri desain eksklusif Messenger Pingbox Anda sekarang! Membuat 
tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah. 
http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/


------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke