Saliwatan kuring nempo dina TV, yen di Sabang Aceh aya nelayan
Myanmar (Birma) "terdampar". Nempo beja eta, ah biasa we, da
pamayang (nelayan) terdampar mah hal nu lumrah. Ngan nu rada aneh na
loba-loba teuing eta nelayan nu terdampar teh, da biasana mah nu
ngala lauk make parahu tradisional, nelayanna paling loba oge 10
urang. Eta oge lamun kapal gede, lain parahu nu make mesin ukur 10
PK.
Ari singhoreng maranehna teh lain pamayang, tapi pangungsi ti
Myanmar, nu kabur ti nagarana. Maranehna minoritas Muslim nu asalna
ti tapel wates Myanmar jeung Bangla Desh. Saperti dibejakeun dina
Kompas dihandap ieu. Anehna beja "pangungsi" ieu teu dibejakeun ku
warta TV, ukur disebut nelayan Birma kasasab ....
Kumaha atuh? Ieu mah malah di nagara urang sorangan. Meureun ari
keur pamarentah mah "heurin ku letah", maklum Myanmar anggota
ASEAN. Keur media, lain beja nu "menarik", atuh keur organisasi
massa ...ah ieu mah lain KOMODITI keur narik massa ...ha33x
Nyanggakeun wartosna:
JALAN PANJANG MENUJU KESELAMATAN
(Sumber: Kompas, 9 Januari 2009)
Imam Husen (34) mengatupkan kedua telapak tangannya dan meletakkan di
dada. Mulutnya melafalkan Surat Yasin dengan perlahan dan suara
lirih. Dari kedua sudut matanya menetes air mata.
Imam Husen adalah salah seorang dari 193 warga Myanmar yang selamat
sampai perairan Indonesia. Berkat dua nelayan Desa Ie Meulee -
Sukajaya, Sabang, Ujang dan Nurdin, perahu layar yang digunakan para
pelarian asal Myanmar bisa bersandar dengan selamat di Dermaga
Pangkalan TNI Angkatan Laut, Sabang, Rabu (7/1) siang.
Ujang (37) menuturkan, semula ia takut melihat para penumpang kapal
tersebut. Ia mengira mereka perompak. "Tapi setelah mereka
menggunakan bahasa isyarat yang menyatakan kehausan dan kelaparan,
saya berani mendekat. Seluruh perbekalan saya berikan pada mereka,"
katanya.
Keduanya lantas menarik perahu yang berisi ratusan orang asal Myanmar
dan Bangladesh menuju Kota Sabang.
Kekerasan
Imam Huen dengan bahasa inggris patah - patah menjelaskan, dirinya
bersama ratusan orang asal wilayah Mondu, Myanmar, melarikan diri
karena tidak tahan kekerasan yang dilakukan junta militer. Selain
itu, kaum Muslim yang merupakan minoritas dalam struktur masyarakat
Myanmar dianiaya oleh junta militer dan masyarakat mayoritas.
Husen menuturkan, wilayah tempat tinggal mereka dekat dengan
perbatasan Myanmar dan Bangladesh. Bahasa sehari - hari yang mereka
gunakan bahasa Urdu yang berbeda dengan bahasa mayoritas rakyat
Myanmar.
Husen menuturkan, ratusan pelarian asal Myanmar meninggalkan negara
itu awal Desember. Ada empat kapal layar, satu diantaranya berisi
anak - anak dan kaum perempuan, berlayar menuju Malaysia dan negara -
negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.
"Pakistan, Afganistan, Saudi Arabia, Indonesia, Malaysia. Muslim.
Yes", katanya lirih.
Dalam perjalanan, mereka sempat singgah dan masuk e perairan
Thailand. Namun, mereka diusir oleh Armada Angkatan Laut
Thailand. "Kami dipukuli, bahkan ada yang ditusuk senjata tajam,"
katanya.
Husen menunjuk teman sekapalnya, Qadir, yang dianiaya tentara
Thailand. Luka tusukan benda tajam masih terlihat jelas.
Menurut dr. Togu Siburian, anggota tim medis RSUD Kota Sabang, para
pengungsi banyak mengalami trauma karena kekerasan benda tumpul.
Ajijullah, salah seorang pelarian juga menuturkan hal yang
sama. "perahu kami diusir dan kami dipukuli oleh anggota Angkatan
Laut Thailand saat mengisi bahan bakar dan tambahan logistik,"
katanya.
Kapal berukuran panjang sekitar 10 meter dengan lebar empat meter
yang mereka tumpangi hanya bermesin dengan kapasitas 16 PK. Dua
layar yang mereka gunakan sudah banyak berlubang.
Para pengungsi yang ditempatkan di lapangan Pangkalan Angkata Laut
Sabang sebenarnya ingin bercerita banyak tentang penderitaan selama
tinggal di Myanmar dan perjalanan panjang mereka. Namun, aparat
keamanan di Sabang melarang mereka melakukan kontak fisik dan kontak
suara dengan para wartawan.
Padahal, mereka hanya ingin bebas dari penyiksaan dan tinggal di
wilayah yang mampu menjamin keselamatan kecil mereka.
------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[email protected]
mailto:[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/