Pesta Rakyat, "Palika" dan "Lulun Samak"
Kenangan Kemeriahan Sungai Cimanuk

SEJUMLAH warga berdiri di bibir Sungai Cimanuk, Dusun Balerante, Desa
Palabuan, Kec. Ujungjaya, Kab. Sumedang, beberapa waktu lalu.* DOK."PR"

 Sejak tahun 1930 hingga 1980-an, Sungai Cimanuk merupakan tempat "pesta
rakyat". Para penduduk kampung dan desa dekat sungai sering menyelenggarakan
acara "marak" massal. Menangkap ikan dengan tangan kosong, atau alat-alat
sederhana seperti sair, ayakan, kecrik, dan susug.

Salah satu tempat "marak" di Sungai Cimanuk yang termasyhur sejak dulu
adalah Leuwi Gombong. Pada waktu-waktu tertentu--terutama puncak musim
kemarau--para menak dari kabupaten (termasuk Kangjeng Dalem) sengaja datang
ke situ untuk beramai-ramai menangkap ikan kancra sebesar guling.

Agar Leuwi Gombong penuh dengan ikan kancra besar-besar itu, para kepala
desa mengerahkan para palika dari kampung masing-masing. Palika adalah
sebutan bagi orang yang ahli menyelam ke dalam lubuk hingga satu dua jam
tanpa alat bantu pernapasan semacam tabung oksigen dan alat selam modern
lainnya.

Ternyata para palika itu tahan berada dalam air karena mereka sudah hafal
betul situasi sekitar lubuk yang mereka selami. Di dasar tebing-tebing
lubuk, banyak lubang-lubang yang mengarah ke sedong (ceruk) yang membentuk
danau kecil. Di setiap sedong terdapat rongga udara cukup luas, tempat
ikan-ikan besar tinggal.

Para palika masuk ke situ. Mereka mendekati ikan-ikan yang matanya bersinar
di tengah gulita. Para palika mengajak bicara kepada ikan-ikan tersebut agar
mau berkorban untuk kesenangan Kangjeng Dalem. Banyak ikan yang mau dibujuk.
Mereka segera ke luar, masuk ke lubuk yang sedang "diparak".

Beberapa ekor di antaranya menyangkut ke heurap atau sair Kangjeng Dalem.
Begitu ikan berhasil ditangkap, menggemalah sorak sorai diiringi tabuhan
"kebo jiro" dari gamelan yang sengaja sudah disiapkan untuk memeriahkan
pesta "marak".

Empat sampai lima ekor kancra besar, rata-rata berbobot 5 hingga 10 kilogram
per ekor, cukup sudah untuk "seba" kepada Kangjeng Dalem dan para menak.
Sisanya yang lolos dari tangkapan, masuk lagi ke dalam sedong, disambut
ucapan terima kasih para palika yang segera ke luar melalui lubang tempat
masuk semula.

Kemunculan para palika menandai akhir pesta "marak". Kangjeng Dalem memberi
hadiah sebatang cerutu merek Karel In kepada masing-masing palika agar
mereka tidak kabulusan.

**

Kisah di atas dituturkan oleh (alm.) Aki Amin, palika terkenal dari Kampung
Gombong, Desa Surabaya, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Garut, yang pada
tahun 1980 berusia 85 tahun, serta wafat pada usia 90 tahun.

Pesta semacam itu, hingga tahun 1980-an, masih suka dilangsungkan di Kampung
Jemah, Desa Jatigede, Kecamatan Cadasngampar, Kabupaten Sumedang. Akan
tetapi bukan untuk menghibur Kangjeng Dalem, melainkan untuk mencari
tambahan dana kas desa.

Sejak awal kemarau, para aparat desa setempat dibantu masyarakat memasang
rumpon yang terbuat dari ranting-ranting bambu di empat atau lima leuwi yang
berdekatan. Rumpon tersebut dimaksudkan sebagai tempat tinggal ikan.

Setelah air surut, rumpon dibuka dan pesta rakyat pun dimulai. Biasanya
seminggu setelah perayaan 17 Agustus.

Setiap orang yang ingin ikut turun menangkap ikan diwajibkan membeli karcis
seharga Rp 500-Rp 2.500, tergantung alat yang digunakan. Yang paling mahal
jika menggunakan heurap (jala besar).

Seperti zaman Kangjeng Dalem, di pinggir sungai dipasang papalayon. Panggung
tempat tabuh-tabuhan, gamelan, kendang penca, reog, calung, dan lain-lain.
Setiap orang yang mendapat ikan besar disambut riuh tabuh-tabuhan.

Pesta rakyat "marak" di Jemah ini suka berlangsung dua sampai tiga malam.
Sayang, sekarang pesta rakyat sudah tak pernah ada lagi setelah Jemah kelak
akan berada di dasar genangan Waduk Jatigede. Penduduk setempat telah pindah
bertransmigrasi sejak tahun 1984.

Juga tidak ada lagi palika yang ditugaskan menyelam ke dalam sedong,
seadanya ikan yang berkeliaran di lubuk saja.

Menangkap ikan beramai-ramai, selain menimbulkan suasana riang gembira, juga
cukup aman dari ancaman "lulun samak". Nama misterius ini, entah sejenis
binatang, entah sejenis hantu, cukup menakutkan penduduk sekitar sungai.

Banyak yang tenggelam, terus hilang atau ketemu lagi sudah menjadi mayat
setelah berhari-hari dicari.

Banyak yang percaya korban diseret "lulun samak". Atau di tempat lain
disebut "leled samak". Sama saja, dalam arti misterius. Bahkan para palika
yang piawai mengarungi lekuk-lekuk sungai dan lubuk, menerobos sedong, tidak
tahu apa dan bagaimana "lulun samak" itu. (H. Usep Romli H.M.)***

web:
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=150934

Kirim email ke