Sayyidatuna Zainab Al-Kubra adalah putri Sayyidatuna Fathimah Az-Zahra dan
Sayyidina Ali bin Abi Thalib, cucu tercinta Rasulullah saw. Kelahirannya
menjadi penawar hati Rasulullah, yang sebelumnya kehilangan putrid
tertuanya, juga bernama Zainab. Sebagai rasa syukur, Rasulullah menjuluki
cucunya Al-Kubra ( yang Agung ), sehingga dibelakang hari beliau dikenal
dengan nama Zainab Al-Kubra. Kebetulan kelahiran Sayyidatuna Zainab Al-Kubra
bertepatan dengan tahun ditandatanganinya perjanjian damai antara kaum
muslimin dan musyrikin, yang kemudian disebut Perjanjian Hudaibiyah.
Menurut para Ahli Tarikh, Sayyidatuna Zainab Al-Kubra mewarisi keberanian,
kepahlawanan dan kefasihan dalam berbicara dari ayahandanya, Sayyidina Ali
bin Abi Thalib, serta kebajikan, kelembutan, dan pengorbanan dari ibundanya
Sayyidatuna Fathimah Az-Zahra. Sementara dua orang kakak lelakinya,
Sayyidina Hasan dan Husein mendapat gelar dari Rasulullah saw sebagai
Pemimpin para pemuda Ahli surga.
Seperti ayahandanya, Sayyidatuna Zainab Al-Kubra juga dikenal suka belajar
dan mencintai ilmu, itu sebabnya, pandangannya dalam ilmu dan makrifat cukup
mendalam. Berkat kecerdasannya itu pula, beliau dijuluki Aqilah Bani Hasyim
( wanita cerdas dari Bani Hasyim ).
Menjelang dewasa, Sayyidatuna Zainab Al-Kubra menyaksikan sebuah tragedy,
yang mendorongnya berkewajiban menyelamatkan Ahlul Bait ( keturunan
Rasulullah saw ). Ketika Sayyidina Husein, kakaknya gugur syahid dipancung
dalam perang Karbala. Bersama para wanita dan anak-anak, Sayyidatuna Zainab
meronta, merintih dan menjerit dibawah langit Karbala yang menghitam oleh
mendung.
Jauh sebelumnya, Allah swt sudah mengisyaratkan nasib Sayyidatuna Zainab
kepada kakeknya, Rasulullah saw. Kala itu pada hari tertentu, Rasulullah saw
sering menciumi wajah wajah mungil si kecil Zainab dengan isak tangis
tertahan dan linangan air mata. Terbayang oleh Rasulullah saw penderitaan
cucunda tercinta itu. Di sela-sela kegembiraan dan rasa bahagia atas
kelahiran Sayyidatuna Zainab, para sahabat melihat suasana mendung di rumah
Rasulullah saw.

Tragedy karbala.

Ketika Sahabat Salman Al-Farisi menjenguk Sayyidatuna Zainab yang baru lahir
dan mengucapkan selamat kepada orang tuanya, beliau menemukan Sayyidina Ali
bin Abi Thalib, ayahanda Sayyidatuna Zainab, bukannya bahagia,
melainkanmenangis dalam duka. Dengan terbata-bata Sayyidina Ali bin Abi
Thalib menceritakan kembali "ramalan" Rasulullah saw mengenai nasib
Sayyidatuna Zainab di masa kemudian sebagai saksi utama peristiwa
pembantaian keluarga Rasulullah saw di Padang Karbala, Irak.
Sayyidatuna Zainab Yang masih kecil, juga merasakan bagaimana orang tuanya
memperlakukannya secara istimewa. Hatinya yang bersih menangkap makna
butiran air mata di sudut mata ayah bundanya. Ketika baru berusia lima
tahun, beliau sudah mendapat latihan ketabahan. Misalnya, menyaksikan
ibundanya dengan setia berada disamping Rasulullah saw, kakeknya tercinta,
yang tengah sakit. Sampai suatu hari hari, beliau mendengar segenap warga
Madinah menangis.
Kala itu beliau melihat serombongan Sahabat secara bergiliran menyampaikan
penghormatan terakhir kepada kakeknya tercinta, Rasulullah saw. Sayyidatuna
Zainab juga melihat orang-orang menggali sebuah lubang di kamar Sayyidatuna
Aisyah, neneknya. Gundukan tanah galian itu menumpuk di kiri-kanan lubang
itu, sebagian butirannya mengenai baju Sayyidatuna Zainab. Tak lama
kemudian, beliau melihat ayahandanya dibantu dua Sahabat yang lain,
perlahan-lahan menurunkan jenazah Rasulullah saw kedalam lubang. Kemudian
tubuh mulia yang suci itu ditutupi tanah dan pasir.
Berbagai peristiwa kemudian terjadi. Namun tampaknya Sayyidatuna Zainab
tidak memahami semuanya, sebab yang paling beliau cemaskan ialah kesehatan
ibundanya. Sejak Rasulullah saw wafat, ibundanya selalu tampak murung,
wajahnya semakin kuyu, matanya sembab dan lebih sering mengasingkan diri.
Sayyidatuna Zainab pernah melihat ibundanya mengambil sekepal tanah di makam
datuknya, lalu mengusapkannya ke wajahnya sambil berlinang air mata.
Sekitar enam bulan setelah kakeknya wafat, apa yang dicemaskannya terjadi;
Asma binti Umaisy menemukan Sayyidatuna Fathimah Az-Zahra, ibunda
Sayyidatuna Zainab wafat di sebuah rumah disamping masjid dan maqam
datuknya. Untuk kedua kalinya, Sayyidatuna Zainab melihat tubuh orang yang
dicintainya dimasukkan ke dalam lubang lalu ditimbun tanah dan pasir.
Dalam usia sekitar lima tahun, beliau sudah kehilangan dua orang yang sangat
dicintainya; kakek dan ibundanya. Kala itu, selain beliau sendiri, di rumah
keturunan Rasulullah saw itu masih ada ayahandanya, Sayyidina Ali bin Abi
Thalib kw, dua kakak lelaki, Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein, serta
Adik perempuannya Ummu Kultsum. Setiap kali pulang, Sayyidatuna Zainab
menemukan rumah yang sepi.
Beliau tak lagi tertidur di pangkuan ibundanya, ketika malam mulai
mendingin, tak lagi mendengar panggilan ibundanya ketika matahari mulai
terbit. Namun samara-samar masih teringat wasiat ibundanya untuk merawat
kedua kakak lelakinya, Sayyidina Hasan dan Husein serta adik Perempuannya,
Sayyidatuna Ummu Kultsum. Tapi, apa yang dapat dilakukannya , kecuali
berkumpul dan berpelukan dengan mereka, sementara ayahandanya berusaha
menghibur mereka.
Sebelum genap berusia 10 tahun, Sayyidatuna Zainab sudah bertindak sebagai
ibu bagi abang dan adiknya, beliau tampak tabah, lembut, rajin, dan penuh
kasih sayang. Dan akhirnya menjelang dewasa, ayahandanya memilihkannya
seorang lelaki shaleh dan dermawan, Abdullah bin Ja'far. Pasangan ini
melahirkan tiga putra dan dua putri.
Belum puas mengecap kebahagiaan, musibah mengguncang rumah tangga mereka,
Sayyidatuna Zainab menyaksikan bagaimana ayahandanya, setelah diangkat
sebagai Khalifah, tak henti-hentinya bertempur. Sampai suatu hari, tak lama
setelah adzan subuh, beliau mendengar hiruk pikuk di masjid " Tangkap
pembunuh! Tangkap pembunuh!"
Betapa miris ketika dilihatnya ayahandanya diusung dengan wajah berlumuran
darah. Segera Sayyidatuna Zainab teringat percakapan ayahandanya dengan
Sayyidatuna Ummu Kultsum, adiknya, tiga hari sebelumnya;
"Anakku, tinggal sebentar lagi Ayah bersamamu" kata Sayyidina Ali bin Abi
Thalib kw.
"Mengapa ayah?" Tanya Sayyidatuna Ummu Kaltsum kaget.
"Aku bermimpi bertemu Rasulullah saw. Beliau mengusap debu dari wajahku,
sambil bersabda; "Ali, jangan cemas. Engkau telah melaksanakan apa yang
harus engkau lakukan" itulah mimpiku semalam" kata Sayyidina Ali bin Abi
Thalib kw.

Mendadak Sayyidatuna Zainab terguncang, perasaannya kalang kabut dipenuhi
hal-hal mencemaskan. Sesaat beliau menyaksikan adiknya Ummu Kultsum,
menjerit dan menghardik Abdurrahman bin Muljam, si pembunuh ayahandanya,
"Ayahku tidak berdosa, mengapa kau bunuh, hai musuh Allah!".
Sayyidatuna Zainab berlari, lalu memeluk ayahandanya, membanjiri wajah
ayahandanya dengan air mata, beliau melihat luka menganga di kepala
ayahandanya.
Kala itu, Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw masih bertahan hidup sampai dua
hari. Dan setelah itu, Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw, Singa Allah yang
lahir di dalam Ka'bah itu, wafat menghadap Allah swt dengan tenang.
Setelah Ayahandanya tiada, Sayyidatuna Zainab masih harus menanggung
kepedihan tatkala beliau menyaksikan kakak sulungnya, Sayyidina Hasan, wafat
karena diracun oleh pengikut Muawiyah. Derita batin rupanya belum lenyap
dari nasib Sayyidatuna Zainab, rupanya beliau ditakdirkan Allah swt untuk
mendampingi kakaknya, Sayyidina Husein yang syahid di Padang Karbala. Kepala
Sayyidina Husein dipancung oleh anggota pasukan Gubernur Kufah, Ubaidillah
bin Ziyad, kepalanya ditancapkan di ujung tombak, lalu diarak ke Kufah.
Dalam arak-arakan itu terdapat pula sejumlah wanita dan anak-anak berpakaian
kotor berdebu dan compang-camping, Sayyidatuna Zainab dan keluarganya
berjalan tertatih-tatih, letih, sedih, takut, geram, campur aduk jadi satu.
Mereka digiring seperti kawanan ternak tanpa makan dan minum.

Ahlul Bait

Ketika rombongan memasuki gerbang Kufah, ribuan orang turun ke jalan. Kepada
mereka Sayyidatuna Zainab berteriak;
"Hei Kaum Kufah, kaum penipu dan penghianat. Kalian telah membantai
orang-orang shaleh keturunan Rasulullah saw, pelanjut keteladanan utama!".
Dihadapan Gubernur Kufah, Ubaidillah bin Ziyad, nyawa Sayyidatuna Zainab
nyaris melayang, jika saja si Gubernur tak diingatkan oleh anak buahnya, Amr
bin Huraits.
Begitu pula Sayyidina Ali Zainal Abidin, putra Sayyidina Husein yang sempat
menantang Ubaidillah binZiyad dengan sangat berani;
"Engkau memang seorang Fasiq!"
ketika itu Ubaidillah bin Ziyad memerintahkan pengawalnya memenggal cicit
Rasulullah saw tersebut; dengan sigap Sayyidatuna Zainab segera meloncat
memeluk remaja kemenakaannya itu.
"Belum puaskah engkau menumpahkan darah kami? Demi Allah, aku tak akan
melepaskannya. Jika kamu membunuhnya, bunuhlah aku dulu!".
Ubaidillah bin Ziyad pun mengurungkan niatnya. Dengan begitu, Sayyidatuna
Zainab telah menyelamatkan pelanjut kepemimpinan Ahlul Bait, keturunan
Rasulullah saw. Setelah itu, dengan susah payah Sayyidatuna Zainab digiring
menghadap Khalifah Yazid bin Muawiyah di Damaskus, Syria. Dalam
iring-iringan itu Sayyidina Ali Zainal Abidin, yang masih remaja, harus
memikul belenggu pemasung kedua tangannya di atas tengkuk.
Ketika itulah Fathimah, putrid Sayyidina Husein yang cantik jelita, nyaris
menjadi rebutan antara seorang serdadu Syria dan Yazid. Tentu saja itu
menimbulkan kemarahan Sayyidatuna Zainab;
"Engkau memang penguasa Zalim. Engkau menindas orang dalam kekuasaanmu."
Sayyidatuna Zainab menantang dengan berani. Mendengar itu, Yazid jadi malu.
Ia terdiam. Sekali lagi, Sayyidatuna Zainab menyelamatkan kuncup keluarga
Rasulullah saw.
Kemudian Gubernur Ubaidillah bin Ziyad memulangkan Sayyidatuna Zainab dan
rombongannya ke Madinah. Warga Madinah menyambut mereka dengan ratap tangis,
Sayyidina Abdullah bin Ja'far, suami Sayyidatuna Zainab menyongsong istrinya
dengan perasaan haru tak terlukiskan. Namun, Sayyidatuna Zainab sekeluarga
tak dapat lama tinggal di Madinah, karena beberapa hari kemudian Yazid
mengusirnya.
Maka berangkatlah Sayyidatuna Zainab ke Mesir, enam bulan pasca tragedy
Karbala. Mereka disambut warga Kairo dengan penuh antusias. Bahkan Maslamah,
Gubernur Mesir, memboyongnya ke rumah dinas Gubernur, Al-Hamra al-Quswa,
sampai akhir hayatnya. Sejak itu kaum muslimin berduyun-duyun mendengarkan
tausiyahnya yang mempesona, dan mempelajari hadits-hadits yang
disampaikannya. Akhirnya, Sayyidatuna Zainab Al-Kubra wafat sekitar setahun
setelah tragedy Karbala.
Ratusan tahun kemudian, keturunan Sayyidatuna Zainab, yang juga keturunan
Rasulullah saw, mendirikan Kesultanan besar, Dinasti Fathimiyyah. Dan pada
abad ke 5 Hijriyah, 10 abad silam dibangunlah Universitas tertua di dunia,
Al-Azhar.


Sayyidatuna Zainab telah wafat, namun setiap saat puluhan ribu kaum muslimin
senantiasa menziarahi makamnya dengan hidmat. Kecerdasan, ketabahan dan
keberaniannya merupakan teladan bagi kaum Muslimah sepanjang masa.

Kirim email ke