Memang kang MH...
Tentang beda teh ROHMAT, pernah hiji waktu aya pimpinan pesantren ngajelaskeun 
yen dalil "ikhtilafu ummati rohmatun" itu bukan hadits.. tapi teu ngajelaskn 
lebih panjang ttg alasan kesimpulan eta.Upami ceuk Jalaluddin Rahmat mah kudu 
"mendahulukan akhlaq di atas fiqih". Baktos, Zya

--- On Wed, 8/11/10, mh <[email protected]> wrote:

From: mh <[email protected]>
Subject: Re: [kisunda] Puasa - Awal Puasa Bareng?
To: [email protected]
Date: Wednesday, August 11, 2010, 1:02 AM















 
 



  


    
      
      
      nu karasa ku uing, ku mindengna beda poe ngarayakeun idul fitri aya efek 
pisologis 
nu rada ngaganggu. diantarana, asa rasa ngurangan kasyahduan mapag lebaran.
coba bayangkeun dihiji kulawarga: indung bapana nuturkeun kaputusan pamarentah, 

lebaran poe isukna, anak-minantuna lebaran anggal, da nuturkeun kaputusan 
muhamadyah. suasana takbir nu baheula guyub salelembur, jadi teu puguh. nu awal 
lebaran, kudu takbir
gegerenyeman, da batur can lebaran. kitu deui curak-curak murak kupat lebaran 
jadi

pabaliut. 

salila ieu, urang nyumputkeun maneh make alesan beda teh rohmat, padahal nu 
sabenerna
mah urang teu bisa ngahiji dina nangtukeun hiji kaputusan. sains teknologi geus 
sakitu mekarna, piraku teu bisa dipake pikeun alat bantu keur nguruskeun 
masalah jiga kieu.


2010/8/11 Muhammad Ziaulhaq <em_...@yahoo. com>
















 



  


    
      
      
      Satuju Kang MH."lebah dieu, bedana hasil ngitung awal bulan puasa, jeung 
awal bulan syawal

bisa nuduhkeun sababaraha hal. kahiji kerok tea, kaduana (kerok oge); urang 
masih keneh teu bisa ngahijikeun pamanggih. "

BaktosZya..

--- On Wed, 8/11/10, mh <khs...@gmail. com> wrote:


From: mh <khs...@gmail. com>
Subject: Re: [kisunda] Puasa - Awal Puasa Bareng?
To: kisu...@yahoogroups .com

Date: Wednesday, August 11, 2010, 12:25 AM















 
 



    
      
      
      mun teu sarua, ngitungna tangtu kerok tah. hahaha.
piraku fenomena nu sarua, noong bulan nu eta, eta keneh.
di kawasan nu sarua, geus puluhan taun deuih, masih keneh kerok.

lebah dieu, bedana hasil ngitung awal bulan puasa, jeung awal bulan syawal


bisa nuduhkeun sababaraha hal. kahiji kerok tea, kaduana urang masih keneh
teu bisa ngahijikeun pamanggih. 

2010/8/11 Ah Sa <ahs...@ymail. com>

















 



  


    
      
      
      nya kudu sarua... da teu sarua ge teu nanaon... kan rohmat beda teh; 
Tarekat di Padang leuwih ti heula...



--- Pada Sel, 10/8/10, mh <khs...@gmail. com> menulis:


Dari: mh <khs...@gmail. com>

Judul: [kisunda] Puasa - Awal Puasa Bareng?
Kepada: "Ki Sunda" <kisu...@yahoogroups .com>
Tanggal: Selasa, 10 Agustus, 2010, 8:07 PM









 



    
      
      
      Semua Sepakat Awal Ramadan

                                        
                                
                                
JAKARTA, (PR).-

Pemerintah melalui Kementerian Agama menetapkan 1 Ramadan 1431 H/2010 M 
jatuh pada Rabu 11 Agustus 2010. Keputusan ini diambil setelah melakukan
 sidang isbat yang dihadiri Majelis Ulama Indonesia, ormas-ormas Islam, 
duta besar dan perwakilan negara-negara sahabat.
"Setelah mencermati laporan Badan Hisab dan Rukyat 
(BHR), serta pandangan ormas Islam dan ulama, bahwa di antara kita semua
 sudah sepakat 11 Agustus adalah tanggal 1 Ramadan 1431 H/2010. Saya 
menyatakan dan menetapkan 1 Ramadan 1431 Hijriah jatuh pada 11 Agustus 
2010," kata Menteri Agama Suryadharma Ali, dalam sidang isbat di 
Operation Room, Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Selasa (10/8).
Sidang penetapan awal Ramadan yang dipimpin Menteri 
Agama Suryadharma Ali dihadiri Ketua MUI K.H. Maruf Amin, Direktur 
Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung Wahyu Widiana, Sekretaris 
Jenderal Kemenag Bahrul Hayat, Direktur Jenderal Bimas Islam Nasaruddin 
Umar, pimpinan ormas-ormas Islam, perwakilan negara sahabat, dan anggota
 Badan Hisab dan Rukyat Kemenag.
Suryadharma mengatakan, sebelum menetapkan I Ramadan 
1431 H, Kemenag melakukan pengamatan hilal di sepuluh tempat. Adapun 
sepuluh tempat itu adalah Biak, Makassar, NTB, Kupang, Tenggarong 
Kaltim, Bukti Condrodipo Gresik, Parang Kusumo Yogyakarta, Bosshca 
Bandung, Riau, dan Aceh. Kemenag melakukan rukyat bersama mahkamah 
syariah dan ormas-ormas Islam.
"Seluruh komponen yang melakukan hisab dan rukyat 
sudah menyampaikan hasilnya. Dari hasil laporan menunjukkan secara hisab
 hilal di atas ufuk 1 derajat 14 menit sampai 2 derajat 32 menit, hilal 
dapat dirukyat," kata Menag.
Ketua Badan Hisab Rukyat yang juga Direktur Urusan 
Agama Islam Rohadi Abdul Fatah mengatakan, ijtima menjelang awal Ramadan
 jatuh pada Selasa (10/8) pukul 10.09 WIB dan pada saat matahari 
terbenam posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia sudah di atas ufuk, 
dengan ketinggian hilai antara 1 derajat 14 menit sampai dengan 2 
derajat 32 menit. Dengan demikian, akhir Syaban jatuh pada Selasa 10 
Agustus (29 Syaban), maka 1 Ramadan 1431 Hijriah jatuh 11 Agustus 2010.
Dari laporan pelaksanaan rukyat hilal pun disampaikan
 oleh sepuluh orang yang telah melihat hilal. Mereka pun sudah disumpah 
di pengadilan agama setempat.
Dalam kesempatan itu, Perwakilan ormas Persatuan 
Islam Syarif Rahman Hakim meminta Kemenag untuk memberikan pencerahan 
kepada umat Islam yang sudah berpuasa lebih dulu.
Perwakilan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional
 (Lapan) Thomas Djamaluddin meminta Kemenag menyelesaikan perbedaan 
kriteria dalam penentuan hisab dan rukyat dan kemudian dikeluarkan fatwa
 MUI untuk hal tersebut. 
Thomas mengatakan, selama ini ada dua perbedaan 
kriteria hisab yang dipakai masing-masing ormas. Pertama, ada yang asal 
bulan (hilal) sudah di atas ufuk maka itu sudah bulan baru. Kedua, ada 
yang menggunakan batas bahwa jika hilal sudah di atas ufuk minimal dua 
derajat, maka sudah masuk bulan baru. 
"Kalau ini tidak diselesaikan selalu ada kemungkinan 
terjadi perbedaan dalam menentukan awal Ramadan dan bulan Islam 
lainnya," ujarnya.
Menurut Thomas, jika tidak ada kesepakatan dalam 
penentuan hisab, hingga 2014 kemungkinan perbedaan penentuan 1 Ramadan 
dan 1 Syawal itu akan terus terjadi.
Menanggapi itu, Menteri Agama berjanji akan 
mengadakan pertemuan bersama ormas-ormas Islam untuk menyamakan kriteria
 penentuan hisab dan rukyat. "Ke depan kami kumpul lagi untuk menetapkan
 kriteria secara bersama-sama sehingga bisa bertemu pandangan satu 
titik," katanya. 
Tak terlihat
Sementara itu, tim hilal di Observatorium Bosscha 
Lembang tidak berhasil melihat hilal. Itu disebabkan pada saat 
pengamatan cuaca di sekitar daerah pengamatan mendung sehingga 
menghalangi penampakan bulan.
"Berdasarkan hasil pengamatan sejak matahari 
terbenam, kami tidak bisa melihat bulan, karena mendung dan sama sekali 
gelap. Sesuai dengan ketentuan, pengamatan dilakukan pada 29 Syaban atau
 hari ini (kemarin-red. ) ssetelah matahari terbenam yakni pukul 17.53 
WIB. Jika cuaca cerah seharusnya bulan bisa terlihat," kata Evan Irawan 
Akbar dari Tim Hilal dan Peneliti Bosscha yang ditemui di lokasi 
pengamatan, Selasa (10/8) malam. (A-128/A-157/ A-130)***web: http://newspaper. 
pikiran-rakyat. com/prprint. php?mib=beritade tail&id=152316








    
     



 





    
     

    
    






  










    
     



 








      

    
     

    
    






  










    
     

    
    


 



  











      

Kirim email ke