Sosok Panjtan yang Misterius

Siapa Bonokeling? Hingga kini tak ada seorang pun, yang tahu dengan pasti
siapa sosok satu itu. Ketua adat Bonokeling Sumitro yang juga warga Pekuncen
Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah mengakui, sosok Bonokeling merupakan tokoh
misterius.

Nama Bonokeling mempunyai makna Bono berarti wadah dan Keling berarti hitam.
Bonokeling dapat diartikan sebagai "wadah hitam". "Mungkin saja Bonokeling
bukan nama sebenarnya atau hanya alias. Nama Bonokeling kita peroleh dari
cerita leluhur secara turun-temurun," katanya menjelaskan.

Berdasarkan pitutur sesepuh keturunan Bonokeling, Bonokeling adalah tokoh
yang berasal dari Pasir Luhur, Kadipaten di bawah Kerajaan Padjajaran atau
Galuh Kawali.

Setelah agama Islam masuk, berbagai budaya Bonokeling tetap dipertahankan.
Dengan berjalannya waktu, tradisi adat budaya setempat mampu berkolaborasi
dengan agama Islam sehingga terbentuk akulturasi unik.

Mengenai makam Bonokeling yang digunakan sebagai tempat upacara
Unggah-unggahan, Sumitro mengatakan, wilayah di sekitar makam itu dihuni
oleh para tokoh yang masih trah Bonokeling. Hanya saja, seberapa dekat
kekerabatannya dengan tokoh Bonokeling, masih kurang jelas.

Yang jelas, keturunan Bonokeling kini masih bertahan. Mereka memiliki
kekhasan yakni pakaian yang dikenakan serba hitam dalam keseharian maupun
saat melakukan ritual.

**

Kapan dan bagaimana kiprah Bonokeling di wilayah Pekuncen? Sumitro lagi-lagi
hanya mengetahuinya, berdasarkan penuturan para sesepuh sebelumnya. Konon,
Bonokeling sudah ada jauh sebelum Islam masuk ke Banyumas.

"Tidak ada sejarah yang mencatat kapan tokoh Bonokeling berada di tempat
itu. Moyang kita juga tidak paham kapan meninggalnya," ujarnya.

Orang mengaku sebagai keturunan Bonokeling yang masih hidup, kini menjadi
juru kunci makam Bonokeling dan ketua adat Bonokeling. Tugas mereka dibantu
oleh lima orang Bedogol.

Tugas juru kunci adalah memimpin acara ritual. Dalam trah Bonokeling
terdapat ritual pembersihan makam, Unggah-unggahan, Sedekah Bumi, Kupatan
Senin Pahing atau upacara Melebuh. Unggah-unggahan merupakan ritual paling
besar, karena melibatkan warga Bonokeling luar daerah.

Peneliti dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto Ridwan
mengatakan, adanya local wisdom yang melekat pada kaum Bonokeling hingga
abad ke-21, yakni sikap guyub rukun atau persaudaraan yang sangat erat.

Doktor lulusan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang
pernah melakukan penelitan etnografi terhadap kaum Bonokeling tersebut
mengaku heran, karena mereka masih memegang teguh pranata dan budaya lokal,
meskipun pengaruh arus budaya globalisasi sangat gencar.

Ridwan menjelaskan, proses pengakuan sebagai cucu Bonokeling harus melalui
upacara mlebu atau masuk. Peran mlebu yang layaknya upacara pembaptisan ini
dilakukan oleh Bodogol dan istri Bedogol.

"Mereka sangat terbuka, baik secara komunitas maupun geografis. Sebagian
besar warga Bonokeling tersebar di Cilacap bahkan tidak sedikit sebagai
perantau," ujarnya menjelaskan.

Tingginya tingkat mobilitas antartrah atau keturunan Bonokeling, mau tak mau
menyebabkan terjadinya perubahan pada komunitas itu. Oleh karena itu, kata
Ridwan, local wisdom yang masih dimiliki kaum Bonokeling harus mendapat
perhatian pemerintah daerah, khususnya tentang akulturasi adat Bonokeling
dengan tradisi Islam. (Eviyanti/"PR")***

web:
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=152340

Kirim email ke