Hehehe, kacaletot curuk euy, meungpeung can katohyan bah aa, judulna kuduna "Mang Ule Kasurupan Gamelan?"
2010/8/18 mh <[email protected]> > Komponis Kelahiran Argentina Merangkul Gamelan > Oleh *Joss Wibisono* > Dibuat *16 Agustus 2010 13:31* > > *Sekarang, pada abad 21 ini, gamelan Sunda, Jawa maupun Bali sudah makin > merasuk dalam musik Barat. Kini tidak terbayangkan ada karya musik baru di > Barat yang sama sekali tidak terpengaruh gamelan.* > > Bahkan bisa dikatakan kalau masih ada komponis Barat yang tidak memasukkan > unsur gamelan dalam karyanya, maka komponis itu akan dicap ketinggalan > zaman. Dalam dunia musik bisa dikatakan perbedaan Barat Timur sudah tidak > dianut orang lagi. Bahkan unsur-unsur gamelan bisa didengar pada karya > seorang komponis kelahiran Amerika Latin. > > *Ogah baca? Dengar atau unduh saja laporan ini dengan mengklik ujung tanda > panah berikut: > * > > Salah seorang komponis yang juga menggunakan unsur gamelan dalam karyanya, > adalah Carlos Micháns. Membaca namanya dia memang keturunan Amerika Latin, > Argentina, tepatnya. Tetapi sudah lama dia hidup dan berkarya di Belanda. > Kalau tinggal di Belanda, cepat atau lambat, maka seorang seniman pasti akan > bersentuhan dengan Indonesia. > > *Dialog biola harpa* > "Itu adalah *sinfonia concertante*," demikian Carlos Micháns mulai > menjelaskan karyanya, "untuk biola, biola alto dan orkestra. Khususnya di > bagian kedua bisa kita dengar unsur-unsur gamelan ini. Di situ berlangsung > dialog antara biola alto dengan harpa, lalu orkestra juga masuk. Itu > mengingatkan saya pada gamelan Sunda yang pernah saya dengar." Carlos juga > menunjuk pada gerakan ritmis dan melodi yang kemudian terdengar. Sesudah itu > tema ini masih dimainkan oleh unsur-unsur lain, tetapi intinya adalah Sunda. > "Itu harapan saya," karta Carlos, "Mungkin orang Sunda ada yang merasa > terhina, tapi saya harap tidak." > > Sulit dibayangkan kita sebagai asal usul gamelan akan terhina kalau > komponis Barat memasukkan unsur gamelan pada karyanya. Bukankah kita akan > merasa bangga, bahkan terhormat. Bahkan menjadi ingin tahu, bagaimana > gamelan bisa diintegrasikan ke dalam musik barat. Bagaimana Carlos Micháns > memasukkan unsur gamelan itu? Apakah dia terlebih dahulu mempelajari > gamelan, dalam hal ini gamelan Sunda? > > *Seekor serangga* > Komponis kelahiran Argentina ini membantahnya. Itu murni intuisi, katanya. > Itu murni ingatannya pada musik Sunda, yang waktu itu masih segar. "Saya > menggarap gubahan itu tidak lama setelah pulang dari Indonesia," Carlos > berlanjut. Ia mengaku rasanya seperti membuka jendela lalu masuk seekor > serangga. Serangga itu merupakan kesan yang digarapnya dalam karya itu. > Mungkin saja kedengarannya seperti serangga di dunia asing, tetapi itulah > yang terjadi. > > "Saya sendiri tidak langsung menggunakan unsur Sunda itu," katanya lagi. > "Pertama-tama unsur itu harus masuk dulu ke dalam sistem saya." Kalau > kemudian keluar secara spontan, tidak disengaja dan intuitif, maka itu > berarti bahwa memang pengaruh itu sudah menjadi bagian sistemnya. Itulah > yang terjadi dengan gamelan Sunda. Ketika mendengar kembali gubahan itu, > Carlos sadar, ini mengandung unsur yang pernah didengarnya di Indonesia. > > Walaupun unsur gamelan itu biasanya dikenali melalui suara atau bunyinya, > Carlos Micháns berpendapat dalam menggubah ia lebih memperhitungkan jiwa > gamelan Sunda. "Lebih jiwanya katimbang bunyinya," kata Carlos. "Saya kira > belokan-belokan tertentu, tangga nada tertentu, melodi-melodi tertentu > terdengar seperti gamelan. Gamelan kan memadukan suara tinggi *sindhèn*, > si penyanyi perempuan." Semua terdengar mengambang sementara instrumennya > sibuk mengeluarkan berbagai bunyi-bunyian. Suara penyanyinya terdengar > bergerak di atas suara gamelan. > > *Nafas Argentina* > "Pola itulah yang saya manfaatkan," tegas Carlos Micháns. Memang itulah > caranya menerjemahkan gamelan Sunda yang didengarnya ke dalam gubahannya. Di > sini Carlos kembali mengulang keraguannya. Bisa saja, katanya, setelah > mendengarnya, orang Indonesia akan berkata, wah saya tidak dengar unsur > Indonesianya. Pendengar harap ingat itulah kesan Micháns dan hasilnya ia > mengolah kesan itu ke dalam gubahannya. Tidak tertutup kemungkinan kesan > orang Indonesia akan lain dari kesan orang Belanda dalam mendengar musik > saya. > > Kalau begitu, bagaimana Carlos menjelaskan musiknya? Di Belanda para > kritisi menyebut musik Micháns bernafaskan Argentina. Artinya dengan luapan > emosi yang bukan merupakan kebiasaan komponis Belanda. Carlos dengan halus > menolak melukiskan karya-karyanya. > > "Itu sulitnya," demikian Carlos Micháns. Lebih baik orang lain saja yang > mengatakannya. Ia sendiri tidak pernah menyebut musiknya seperti ini atau > seperti itu. Ia hanya menggubahnya. Bunyi-bunyian itu miliknya. Tentu saja > ia menganut aliran tertentu dan suka pada komponis tertentu. Pilihan itu > tentu berpengaruh pada karyanya. Tidak ada seorang komponispun yang bisa > berkata dia tidak kena pengaruh siapapun. Itu omong kosong. Kalau mau > menggubah untuk piano, kita harus kenal gubahan orang lain untuk piano. > Pianonya juga sudah membawa pengaruh tersendiri. > > *Asli dan jiplakan* > Tidak seorangpun sepenuhnya asli dan tidak seorang komponispun hanya > menjiplak. Carlos mengaku banyak belajar dari komponis moderen, yang aktif > pada 30 atau 40 tahun pertama abad lalu. Tokoh-tokoh seperti Béla Bartók, > Sergey Prokofieff atau Igor Stravinsky, dan juga komponis sesudah mereka > seperti Olivier Messiaen. "Mereka membawa pengaruh pada karya-karya saya. > Saya tidak terlalu tertarik pada intelektualisme, bahwa musik itu harus bisa > dianalisa. Tidak, itu bukan kesukaan saya. Musik itu harus menyentuh secara > spontan," demikian Carlos Micháns. > > Tapi Carlos Micháns mengakui kalau orang tahu bahwa dirinya kelahiran > Argentina, maka mereka akan lebih memahami musik gubahannya. Masalahnya > memang kelahiran dan asal usul seseorang sangat sulit disembunyikan. > > Di sini Carlos Micháns menyebut Francis Poulenc, komponis Prancis yang juga > menggunakan gamelan, dalam hal ini gamelan Bali, dalam musiknya. Itu > terdengar pada konser untuk dua piano dan musik lain, seperti operanya > *Dialogues > de Carmélites*. Tapi itu tidak membuat Poulenc dijuluki komponis > Indonesia. Bahkan musiknya sangat terdengar warna dan nafas Prancisnya. Di > situ terdengar bunyi-bunyian eksotis. "Dan itu sehat,"kata Carlos Micháns. > Kadang-kadang memang harus dimasukkan darah baru, kalau tidak musiknya akan > jelek sekali. Sekarang batas-batas itu sudah kabur. Batas antara apa yang > nasional dan apa yang bukan nasional, bukan milik sendiri. > > *Sudah merasuk* > Dengan kata lain, di dalam dunia musik, apalagi musik yang serius, batas > antara Timur dengan Barat sudah menjadi tidak jelas lagi. Komponis pertama > yang menggunakan gamelan untuk mengadakan pembaruan dalam dunia musik Barat > adalah komponis Prancis Claude Debussy yang hidup antara tahun 1862 sampai > 1918. Sejak saat itu makin banyak saja komponis yang mempelajari gamelan dan > menggunakannya dalam gubahan musik mereka. Gamelan memang makin merasuk > dalam musik barat. > ------------------------------ > *URL sumber:* > http://www.rnw.nl/article/komponis-kelahiran-argentina-merangkul-gamelan > *Links:* > *Images:* > [i1] http://www.rnw.nl/data/files/images/lead/Carlos.jpg > [i2] http://www.rnw.nl/ > >
