--- On Thu, 8/19/10, Aschev Schuraschev <[email protected]> wrote:

From: Aschev Schuraschev <[email protected]>
Subject: Sejarah Singkat Jakarta
To: [email protected]
Date: Thursday, August 19, 2010, 12:46 AM

Sunda Kelapa (397–1527)
Jakarta pertama kali dikenal sebagai salah satu pelabuhan Kerajaan Sunda yang 
bernama Sunda Kelapa, berlokasi di muara Sungai Ciliwung. Ibukota Kerajaan 
Sunda yang dikenal sebagai Dayeuh Pakuan Pajajaran atau Pajajaran (sekarang 
Bogor)
 dapat ditempuh dari pelabuhan Sunda Kalapa selama dua hari perjalanan. 
Menurut sumber Portugis, Sunda Kalapa merupakan salah satu pelabuhan 
yang dimiliki Kerajaan Sunda
 selain pelabuhan Banten, Pontang, Cigede, Tamgara dan Cimanuk. Sunda 
Kalapa yang dalam teks ini disebut Kalapa dianggap pelabuhan yang 
terpenting karena dapat ditempuh dari ibu kota kerajaan yang disebut 
dengan nama Dayo (dalam bahasa Sunda modern: dayeuh yang berarti ibu kota) 
dalam tempo dua hari. Kerajaan Sunda sendiri merupakan kelanjutan dari Kerajaan 
Tarumanagara pada abad ke-5
 sehingga pelabuhan ini diperkirakan telah ada sejak abad ke-5 dan 
diperkirakan merupakan ibukota Tarumanagara yang disebut Sundapura.

Pada abad ke-12, pelabuhan ini dikenal sebagai pelabuhan lada yang 
sibuk. Kapal-kapal asing yang berasal dari Tiongkok, Jepang, India 
Selatan, dan Timur Tengah sudah berlabuh di pelabuhan ini membawa 
barang-barang seperti porselen, kopi, sutra, kain, wangi-wangian, kuda, 
anggur, dan zat warna untuk ditukar dengan rempah-rempah yang menjadi 
komoditas dagang saat itu.
Jayakarta (1527–1619)
Orang Portugis merupakan orang Eropa pertama yang datang ke Jakarta. Pada abad 
ke-16, Surawisesa,
 raja Sunda meminta bantuan Portugis yang ada di Malaka untuk mendirikan
 benteng di Sunda Kelapa sebagai perlindungan dari kemungkinan serangan 
Cirebon yang akan memisahkan diri dari Kerajaan Sunda. Upaya permintaan bantuan 
Surawisesa kepada Portugis di Malaka tersebut diabadikan oleh orang Sunda dalam 
cerita pantun seloka Mundinglaya Dikusumah,
 dimana Surawisesa diselokakan dengan nama gelarnya yaitu Mundinglaya. 
Namun sebelum pendirian benteng tersebut terlaksana, Cirebon yang 
dibantu Demak langsung menyerang pelabuhan tersebut. Orang Sunda 
menyebut peristiwa ini tragedi, karena penyerangan tersebut 
membungihanguskan kota pelabuhan tersebut dan membunuh banyak rakyat 
Sunda disana termasuk syahbandar pelabuhan. Penetapan hari jadi Jakarta 
tanggal 22 Juni adalah berdasarkan tragedi penaklukan pelabuhan Sunda Kalapa 
oleh Fatahillah pada tahun 1527 dan mengganti nama kota tersebut menjadi 
Jayakarta yang berarti "kota kemenangan". Selanjutnya Sunan Gunung Jati dari 
Kesultanan Cirebon, menyerahkan pemerintahan di Jayakarta kepada putranya yaitu 
Sultan Maulana Hasanuddin yang menjadi sultan di Kesultanan Banten.
Batavia (1619–1942)




Pasukan Pangeran Jayakarta menyerahkan tawanan Belanda kepada Pangeran Jayakarta



Orang Belanda datang ke Jayakarta sekitar akhir abad ke-16, setelah singgah di 
Banten pada tahun 1596. Jayakarta pada awal abat ke-17 diperintah oleh Pangeran 
Jayakarta, salah seorang kerabat Kesultanan Banten. Pada 1619, VOC dipimpin 
oleh Jan Pieterszoon Coen menduduki Jayakarta setelah mengalahkan pasukan 
Kesultanan Banten dan
 kemudian mengubah namanya menjadi Batavia. Selama kolonialisasi Belanda, 
Batavia berkembang menjadi kota yang besar dan penting. (Lihat Batavia). Untuk 
pembangunan kota, Belanda banyak mengimpor budak-budak sebagai pekerja. 
Kebanyakan dari mereka berasal dari Bali, Sulawesi, Maluku, Tiongkok, dan 
pesisir Malabar, India. Sebagian berpendapat bahwa mereka inilah yang kemudian 
membentuk komunitas yang dikenal dengan nama suku Betawi.
 Waktu itu luas Batavia hanya mencakup daerah yang saat ini dikenal 
sebagai Kota Tua di Jakarta Utara. Sebelum kedatangan para budak 
tersebut, sudah ada masyarakat Sunda yang tinggal di wilayah Jayakarta 
seperti masyarakat Jatinegara Kaum.
 Sedangkan suku-suku dari etnis pendatang, pada zaman kolinialisme 
Belanda, membentuk wilayah komunitasnya masing-masing. Maka di Jakarta 
ada wilayah-wilayah bekas komunitas itu seperti Pecinan, Pekojan, 
Kampung Melayu, Kampung Bandan, Kampung Ambon, Kampung Bali, dan 
Manggarai.

Pada tanggal 9 Oktober 1740,
 terjadi kerusuhan di Batavia dengan terbunuhnya 5.000 orang Tionghoa. 
Dengan terjadinya kerusuhan ini, banyak orang Tionghoa yang lari ke luar
 kota dan melakukan perlawanan terhadap Belanda.[11] Dengan selesainya 
Koningsplein (Gambir)
 pada tahun 1818, Batavia berkembang ke arah selatan.
Tahun 1920, 
Belanda membangun kota taman Menteng, dan wilayah ini menjadi tempat 
baru bagi petinggi Belanda menggantikan Molenvliet di utara. Di awal abad 
ke-20, Batavia di utara, Koningspein, dan Mester Cornelis (Jatinegara) telah 
terintegrasi menjadi sebuah kota.

Pada 1 Januari 1926 pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan peraturan 
untuk pembaharuan sistem desentralisasi dan dekonsentrasi yang lebih 
luas. Di Pulau Jawa dibentuk pemerintahan otonom provinsi. Provincie West Java
 adalah provinsi pertama yang dibentuk di wilayah Hindia Belanda yang 
diresmikan dengan surat keputusan tanggal 1 Januari 1926, dan 
diundangkan dalam Staatsblad (Lembaran Negara) 1926 No. 326, 1928 No. 27
 jo No. 28, 1928 No. 438, dan 1932 No. 507. Batavia menjadi salah satu 
keresidenan dalam Provincie West Java disamping Banten, Buitenzorg 
(Bogor), Priangan, dan Cirebon.
Djakarta (1942–1972)
Penjajahan oleh Jepang dimulai pada tahun 1942 dan mengganti nama Batavia 
menjadi Jakarta untuk menarik hati penduduk pada Perang Dunia II. Kota ini juga 
merupakan tempat dilangsungkannya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 
pada 17 Agustus 1945 dan diduduki Belanda sampai pengakuan kedaulatan tahun 
1949.
Sebelum tahun 1959, Djakarta merupakan bagian dari Provinsi Jawa 
Barat. Pada tahun 1959, status Kota Djakarta mengalami perubahan dari 
sebuah kotapraja di bawah walikota ditingkatkan menjadi daerah tingkat 
satu (Dati I) yang dipimpin oleh gubernur. Yang menjadi gubernur pertama
 ialah dr. Sumarno sosroatmodjo, seorang dokter tentara. Pengangkatan 
Gubernur DKI waktu itu dilakukan langsung oleh Presiden Sukarno. Pada 
tahun 1961, status Djakarta diubah dari Daerah Tingkat Satu menjadi 
Daerah Khusus Ibukota (DKI). Gubernurnya tetap Sumarno.

Semenjak dinyatakan sebagai ibukota, penduduk Jakarta melonjak sangat
 pesat akibat kebutuhan tenaga kerja kepemerintahan yang hampir semua 
terpusat di Jakarta. Dalam waktu 5 tahun penduduknya berlipat lebih dari
 dua. Berbagai kantung pemukiman kelas menengah baru kemudian 
berkembang, seperti Kebayoran Baru, Cempaka Putih, Rawamangun, dan Pejompongan. 
Pusat-pusat pemukiman juga banyak dibangun secara mandiri oleh berbagai 
kementerian dan institusi milik negara seperti Perum Perumnas.

Pada masa pemerintahan Soekarno, Jakarta melakukan pembangunan proyek besar, 
antara lain Gelora Bung Karno, Mesjid Istiqlal, dan Monumen Nasional. Pada masa 
ini pula Poros Medan Merdeka-Thamrin-Sudirman
 mulai dikembangkan sebagai pusat bisnis kota, menggantikan poros Medan 
Merdeka-Senen-Salemba-Jatinegara. Pusat pemukiman besar pertama yang 
dibuat oleh pihak pengembang swasta adalah Pondok Indah (oleh PT Pembangunan 
Jaya) pada akhir dekade 1970-an di wilayah Jakarta Selatan.





Laju perkembangan penduduk ini pernah dicoba ditekan oleh gubernur Ali Sadikin
 pada awal 1970-an dengan menyatakan Jakarta sebagai "kota tertutup" 
bagi pendatang. Kebijakan ini tidak bisa berjalan dan dilupakan pada 
masa-masa kepemimpinan gubernur selanjutnya. Hingga saat ini, Jakarta 
masih harus bergelut dengan masalah-masalah yang terjadi akibat 
kepadatan penduduk, seperti banjir, kemacetan, serta kekurangan alat 
transportasi umum yang memadai.
Sumber: wikipedia (id.wikipedia.org)




      


      

Kirim email ke