Aya teu kamungkinan yen Atlantis lamun bener eta teh Aya sanes harapan 
masyarakat idealna Plato -- ieu teh di Zamanna NAbi Nuh as ka ummatna, 
kulantaran anu tileuleup mah carita nabi Nuh , tur silsilah manusa urang pan 
sesa ti zaman nabi Nuh as




________________________________
From: mh <[email protected]>
To: Ki Sunda <[email protected]>
Sent: Fri, August 20, 2010 2:26:41 AM
Subject: [kisunda] Re: Sejarah - Na Enya Sundaland Atlantis Nu Leungit?

  
SUNDALAND ADALAH  ATLANTIS YANG HILANG (IBAR KADUA)
by Richadiana Kartakusuma on Friday, August 20, 2010 at 5:14pm
ATLANTIS VERSUS SALAKANAGARA 
Sunday, 25 October 2009 at 22:29
Oleh Prof. Dr. H. PRIYATNA ABDURRASYID, Ph.D.
MUSIBAH  alam beruntun dialami Indonesia. Mulai dari tsunami di Aceh hingga 
yang  
mutakhir semburan lumpur panas di Jawa Timur. Hal itu mengingatkan kita  pada 
peristiwa serupa di wilayah yang dikenal sebagai Benua Atlantis.  Apakah ada 
hubungan antara Indonesia dan Atlantis?
Plato  (427 – 347 SM) menyatakan bahwa puluhan ribu tahun lalu terjadi berbagai 
 
letusan gunung berapi secara serentak, menimbulkan gempa, pencairan es,  dan 
banjir. Peristiwa itu mengakibatkan sebagian permukaan  bumitenggelam. Bagian 
itulah yang disebutnya benua yang hilang atau  Atlantis.
Penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Aryso  Santos, menegaskan bahwa 
Atlantis 
itu adalah wilayah yang kini disebut  Indonesia.Setelah melakukan penelitian 
selama 30 tahun, ia menghasilkan  buku Atlantis,The Lost Continent Finally 
Found, The Definitifve  Localization of Plato's Lost Civilization (2005). 
Santos 
menampilkan 33  perbandingan, seperti luas wilayah,cuaca, kekayaan alam, gunung 
berapi,  dan cara bertani, yang akhirnyamenyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah  
Indonesia. Sistem terasisasi sawah yangkhas Indonesia, menurutnya, ialah  
bentuk 
yang diadopsi oleh Candi Borobudur,Piramida di Mesir, dan  bangunan kuno Aztec 
di Meksiko.
Konteks Indonesia
Bukan  kebetulan ketika Indonesia pada tahun 1958, atasgagasan Prof. Dr.  
Mochtar Kusumaatmadja melalui UU no. 4 Perpu tahun 1960, mencetuskan  Deklarasi 
Djoeanda. Isinya menyatakan bahwa negara Indonesia dengan  perairan 
pedalamannya 
merupakan kesatuan wilayah nusantara. Fakta itu  kemudiandiakui oleh Konvensi 
Hukum Laut Internasional 1982. Merujuk  penelitian Santos, pada masa puluhan 
ribu tahun yang lalu wilayah negara  Indonesia merupakan suatu benua yang 
menyatu. Tidak terpecah-pecah  dalam puluhan ribu pulau seperti halnya sekarang.
Santos  menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang  
membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa,   Kalimantan, 
terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai  pusatnya. Di 
wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan  dikelilingi oleh 
samudera yang menyatu bernama orientale, terdiri dari  Samudera Hindia dan 
Samudera Pasifik.
Teori Plato menerangkan  bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang akibat 
letusan gunung berapi  yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian 
besar bagian dunia  masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene). 
Dengan  meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian  
besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah  sebagian 
benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di  antaranya letusan 
gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/  Mahameru di Jawa 
Timur.Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang  membentuk Danau Toba dengan 
pulau Somasir, yang merupakan puncak gunung  yang meletus pada saat itu. 
Letusan 
yang paling dahsyat di kemudian hari  adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang 
memecah bagian Sumatera dan Jawa  dan lain-lainnya serta membentuk selat 
dataran 
Sunda.
Atlantis  berasal dari bahasa Sanskrit Atala, yang berarti surga atau menara  
peninjauan (watch tower), Atalaia (Potugis), Atalaya (Spanyol). Plato  
menegaskan bahwa wilayah Atlantis pada saat itu merupakan pusat dari  peradaban 
dunia dalam bentuk budaya, kekayaan alam, ilmu/teknologi,dan  lain-lainnya. 
Plato menetapkan bahwa letak Atlantis itu di Samudera  Atlantik sekarang. Pada 
masanya, ia bersikukuh bahwa bumi ini datar dan  dikelilingi oleh satu samudera 
(ocean) secara menyeluruh. Ocean berasal  dari kata Sanskrit ashayana yang 
berarti mengelilingi secara menyeluruh.  Pendapat itu kemudian ditentang oleh 
ahli-ahlidi kemudian hari seperti  Copernicus, Galilei-Galileo, Einstein, dan 
Stephe nHawking.
Santos  berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis .Ilmuwan Brazil itu  
berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung  berapi itu, 
menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera  sehingga luasnya 
bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung  berapi tersebut membebani 
samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan  luar biasa kepada kulit bumi di 
dasar samudera, terutama pada pantai  benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. 
Gempa ini diperkuat lagi oleh  gunung-gunung yang meletus kemudian secara 
beruntun dan menimbulkan  gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya 
Heinrich Events.
Dalam  usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepadas ejarah dunia, tampak  
Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi  bumi yang 
katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang  katanya berada di 
Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos.  Penelitian militer Amerika 
Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak  berhasil menemukan bekas-bekas 
benua 
yang hilang itu. Oleh karena itu  tidaklah semena-mena ada peribahasa yang 
berkata, "Amicus Plato, sed  magis amica veritas." Artinya," Saya senang kepada 
Plato tetapi saya  lebih senang kepada kebenaran."
Namun, ada beberapa  keadaan masa kini yang antara Platodan Santos sependapat. 
Yakni pertama,  bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh 
Santos  dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia. Kedua, jumlah atau  
panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Diantaranya ialah  Kerinci, 
Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango,Merapi,  Merbabu, Semeru, 
Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu  telahatau sedang aktif kembali.
Ketiga, soal semburan  lumpur akibat letusan gunung berapi yang abunya 
tercampur 
air laut  menjadi lumpur. Endapan lumpur di laut ini kemudian meresap ke dalam  
tanah di daratan. Lumpur panas ini tercampur dengan gas-gas alam yang  
merupakan 
impossible barrier of mud (hambatan lumpur yangtidak bisa  dilalui), atau in 
navigable (tidak dapat dilalui), tidak bisa ditembus  atau dimasuki. Dalam 
kasus 
di Sidoarjo, pernah dilakukan remote sensing,  penginderaan jauh, yang 
menunjukkan adanya sistim kanalisasi di wilayah  tersebut. Ada kemungkinan 
kanalisasi itu bekas penyaluran sembura  nlumpur panas dari masa yang lampau.
Bahwa Indonesia  adalah wilayah yang dianggap sebagai ahliwaris Atlantis, tentu 
harus  membuat kita bersyukur. Membuat kita tidak rendah diri di dalam  
pergaulan internasional, sebab Atlantis pada masanya ialah pusat  peradaban 
dunia. Namun sebagai wilayah yang rawan bencana, sebagaimana  telah dialami 
oleh 
Atlantis itu, sudah saatnya kita belajar dari sejarah  da nmemanfaatkan 
perkembangan ilmu pengetahuan mutakhir untuk dapat  mengatasinya.***
Penulis, Direktur Kehormatan International Institute of Space Law (IISL), 
Paris-Prancis
http://www.facebook.com/notes/richadiana-kartakusuma/sundaland-adalah-atlantis-yang-hilang-ibar-kadua/423281489474


 


      

Kirim email ke