najan teu ngarti, sabab kuring teu apal carita wayang. kuring resep ka
sujiwo tejo teh sanggeus maca kaca munggaran blog-na sujiwotejo.com. kieu
cenah:

'[image: ina_punakawan.jpg]

Thanks berat buat teman-teman yang telah berinisiatif bikin domain ini,
tanpa saya minta. Sesungguhnya sudah lama saya pengin punya yang gini-gini
ini. Tujuan, ya ngobrol ma teman-teman, orang-orang yang care kepada
lagu-lagu tanah air, orang-orang yang peduli pada sastra-sastra tradisi
tanah air…pendeknya orang-orang nggak biasa dan biasanya agak aneh di
lingkungannya…lingkungan orang-orang yang kelihatannya tak sadar bahwa
logika dan cita rasanya telah dibentuk oleh logika dan cita rasa Amerika
maupun Eropa.

Kolonialisme secara fisik telah tak ada. Tapi orang-orang itu pergi dengan
meninggalkan Bank Sentral di masing-masing negara yang tetap bisa
dikendalikan dari sono. Soeharto jatuh karena Bank Sentral. Saya kira Gus
Dur juga dimainin oleh Barat melalui Bank Sentral. Tapi kita semua lupa
bahwa selain Bank Sentral, kolonialis itu juga meninggalkan cita rasa
manusia di bekas-bekas jajahananya. Cita rasa dan estetika itu sedemikian
sehingga orang-orang Indonesia merasa aneh terhadap nada-nada pentatonis
khas Indonesia. Tari modern dance ala sono jauh lebih marak ketimbang remo,
beskalan, srimpi, saman dan lain-lain.

Saya, seperti Anda, sudah pasti tidak anti Barat. Tapi sudah pasti saya
tidak terima kalau potensi-potensi kesenian lokal di berbagai suku kita
pora-poranda, teronggok tak berguna, karena kiblat kita tanpa sadar sudah
Eropa dan Amerika.

Biarlah domain ini jadi semacam ajang, untuk setidaknya menunda kekalahan
dan remuk redam bangsa ini khususnya di sektor estetika. Mungkin sudah nasib
jadi bangsa yang kalah, gamelan dan sebagainya akan punah. Tapi, setidaknya,
dengan domain ini, kepunahan itu dapat kita tunda beberapa waktu.

*Salam, Sujiwo Tejo'*

,
dudi

Pada 25 Agustus 2010 08.37, mh <[email protected]> menulis:

>
>
> [ Minggu, 22 Agustus 2010 ]
> Pria Cantik Bunting di Paranggaruda
>  Siapa makhluk kesayangan masyarakat Indonesia?
>
> ''Si Poltak'' Ruhut Sitompul. Semua orang tahu, banyak tingkah dan
> ucapannya *ngawur. *Seluruh ulahnya sangat mungkin dibikin hanya demi
> mencari perhatian manusia lain. Tetapi tetap saja semua insan mau membuang
> waktu menanggapi polahnya. Tokoh dan pakar hukum sekelas Adnan Buyung
> Nasution bahkan juga mau-maunya meluangkan waktu untuk meresponsnya.
>
> Kalau makhluk kesayangan Pak SBY?
>
> Ruhut Sitompul juga. Banyak tudingan, ide Ruhut bahwa Pak SBY boleh *mresideni
> *Indonesia tiga periode kemungkinan datang dari Pak SBY sendiri. Kalau
> tudingan itu keliru, *mbok yao* Ruhut dikasih sanksi sebagai kader Partai
> Demokrat. Tapi sampai sekarang si bos besar partai itu *ndak ngasih-ngasih
> * hukuman setimpal. Berarti Pak SBY *emang pengin* jadi presiden lagi.
> Atau, kalau *ndak gitu*, *emang* terbukti bahwa Ruhut *pancen kesayangane*
> *wong* Pacitan itu.
>
> Hmm...Kenapa *kok* *Wayang Durangpo* juga ikut-ikutan kasih ruang buat
> Bang Ruhut? Padahal kalau ruang di atas tadi dijadikan *space *iklan,
> fulusnya lumayan *lho* buat tambah-tambah THR karyawan dan wartawan *Jawa
> Pos*, atau disumbangkan ke korban lumpur Lapindo?
>
> Karena *Wayang Durangpo* juga sayang sama ''Si Poltak''. Apa *nggak* boleh
> sayang sama orang? Widyawati boleh sayang *banget* sama almarhum Sophan
> Sophian. Adhie M.S. boleh sayang sama Memes, *hayo*. Kita juga boleh
> sayang sama tujuh nelayan maling Malaysia, sampai tiga petugas resmi kita
> disamakan dan dibarter dengan maling-maling itu. Kenapa *Wayang Durangpo
> nggak *boleh sayang *mbarek* Ruhut? Punya kesayangan *kan ndak popo*.
> Prabu Batara Kresna juga punya kesayangan, *kok*.
>
> Siapa kesayangan Raja Dwarawati titisan Wisnu itu?
>
> *Beee..de'remma...*Ya Raden Samba-lah!!!
>
> ***
>
> Kesayangan Sang Harimurti, Raja Dwarawati, itu bermukim di Ksatrian
> Paranggaruda. Nama aliasnya adalah Wisnubrata. Apa pun kesalahan Raden Samba
> alias Wisnubrata selalu dibela minimal didiamkan oleh sang ayah, Prabu
> Harimurti. Samba pernah ketahuan berselingkuh dengan Dewi Hagnyanawati,
> istri orang, Sri Kresna tetap membela Samba.
>
> *Lha wong *Samba itu tampan dan salah satu tokoh yang merasa diri paling
> tampan di dunia wayang selain Raden Sadewa dari Pandawa. *Pantes* Kresna
> sayang *banget.* Adik kandung Samba, Raden Gunadewa, juga ganteng.
> Sayangnya Gunadewa punya ekor seperti monyet. Kresna bukan saja *ndak *sayang
> Gunadewa. Kresna malah menyembunyikan adik Samba itu di Dusun Gadamadana dan
> *ndak *pernah mengakuinya sebagai anak.
>
> *FYI...*Ugroseno bukan cuma nama Kapolda di Sumatera Utara tempat muasal
> Ruhut Sitompul...Inspektur Jenderal Polisi yang hari-hari ini sedang repot
> *ngurusi* perampokan di Medan. Ugroseno dalam wayang adalah mertua Kresna
> yang membuang gada bermasalah milik Samba. Maksudnya, agar anak kesayangan
> Kresna itu terhindar dari mala petaka. Atas perintah siapa Ugroseno membuang
> gada bermala itu ke laut?
>
> Bukan atas perintah Pak Kapolri tentu. Tapi atas perintah dari sang menantu
> Ugroseno, orang yang ke Raden Samba sayangnya* ngungkuli* Semeru: Prabu
> Sri Batara Kresna!
>
> ***
>
> Di tempat lain ponokawan Petruk sedang kewalahan menjawab calon-calon
> pemudik Idul Fitri 1431 H yang kehabisan karcis kereta api. Bulan puasa ini
> Petruk lagi sepi job sebagai pendemo bayaran di jalan-jalan. Ia mengangkat
> diri sendiri tanpa surat pengangkatan resmi tidak sebagai jaksa agung,
> tetapi sebagai humas PT Kereta Api.
>
> ''*Masa'* sebulan sebelum Lebaran tiket sudah amblas. Bandung-Surabaya
> juga *abis*. Kata lagu *Naik Kereta Api Tut tut tut... bolehlah naik
> dengan percuma*, Bandung ke Surabaya gratis. Padahal harus *mbayar*.
> Giliran mau beli tiketnya malah sudah *ndak *ada. Ke mana tiket-tiket
> itu?''
>
> Petruk dengan sabar meladeni demonstran non-bayaran itu satu-satu. ''Sabar
> ya, Bu,'' hibur Petruk. ''Siapa tahu tiket-tiket itu sudah diborong para
> tuyul. Nanti saya tanya ke ormas tuyul melalui agen-agennya. Kebetulan *
> nih*, dua agen tuyul *kan* sudah* ketangkep* di kota pensiunan Temanggung
> pekan lalu... Gampanglah...''
>
> ''Sabar, Mbak...Ehmmm...,'' bujuk Petruk kepada demonstran lain. ''Saya
> tahu Mbak bukan cuma protes gara-gara tiket menguap. Mbak juga protes
> mengapa gerbong khusus perempuan cuma ada di Jabodetabek. Mengapa kereta
> mudik *ndak* ada yang khusus kaum hawa. Iya *kan*? Hmm... Sambil menunggu
> penjelasan langsung dari pemimpin kereta api, yaitu Bapak Lokomotif, Mbak
> saya ceritai saja asal-muasal gada milik Raden Samba ya?''
>
> Mbak-mbak itu geleng-geleng. Dia mengaku suka melihat rel dan sejarah, tapi
> hanya sejarah Singosari. ''Kalau Mas Humas PT KA mau cerita soal keris Empu
> Gandring, yang membunuh tujuh turunan raja-raja Singosari... wah...saya mau,
> Mas...''
>
> ''Lho, Dik, Dik, bencana akibat gada Raden Samba dari Paranggaruda ini
> mirip laknat ke­ris Empu Gandring. Malah kutukannya lebih dahsyat. Gada ini
> tidak cuma membunuh tujuh turunan. Gada Raden Samba membunuh seluruh bangsa
> Yada, penduduk asli Kerajaan Dwarawati. Mau* denger* ceritanya?''
>
> Mbak-mbak itu cuma *diem*. Petruk lalu mempraktikkan logika paling
> primitif dalam hubungan pria-wanita. Perempuan yang *diem* pertanda mau.
>
> ***
>
> Telah tersebut tadi, lelaki yang merasa paling tampan dalam dunia wayang
> adalah Raden Samba, putra Kresna dengan Dewi Jembawati, perempuan berdarah
> kera yang masih terhitung sebagai tante *munyuk *Anggodo. Selain merasa
> diri paling *cakep*, Samba alias Wisnubrata juga gemar menyepelekan orang.
> Apalagi kalau Wisnubrata sedang dikerumuni oleh kawan-kawannya.
>
> Suatu hari kerajaan Dwarawati kedatangan peramal sakti. Peramal ini bisa
> menjahit serpihan-serpihan peristiwa, menyambung-nyambungnya jadi satu, lalu
> memperkirakan kejadian mendatang dari perca-perca yang telah digabungkan.
> Tak sedikit warga yang sangat yakin pada ahli nujum tersebut. Mereka agak
> merasa aneh terhadap cara sang ahli nubuat itu menarik kesimpulan. Soalnya
> kadang tampak *ngawur.* Tapi, anehnya, mereka yakin.
>
> Misalnya, perca-perca peristiwanya begini: Di Banyuwangi ada bocah SD usia
> 13 tahun. Punya kebiasaan aneh. Suka makan hewan melata hidup-hidup. Di
> Badung, Bali, petani bikin larangan tertulis bagi para tikus, ''Maaf, Tikus
> Dilarang Masuk!'' Seolah-olah tikus sudah *ndak* buta aksara. Padahal
> penduduk Nusantara saja belum seluruhnya melek huruf. Bagi yang sudah *
> ndak* buta huruf, Muhammadiyah dan NU menerbitkan buku tentang korupsi.
> Intinya, kedua ormas itu sepakat bahwa koruptor adalah kafir alias orang
> yang ingkar dari kebenaran. Orang yang tidak punya agama. Malah
> desas-desusnya, mayatnya *ndak* usah dimandikan.
>
> Nah, dari perca-perca kejadian itu si ahli nujum bisa sampai pada ramalan
> penting bahwa kelak Agus Harimurti Yudhoyono akan menjadi Presiden RI.
> Harimurti yang bukunya dibagi-bagikan sebagai suvenir usai peringatan HUT
> ke-65 Kemerdekaan RI di istana itu menjadi presiden, *nerusno *setelah
> lima periode kepresidenan Pak SBY.
>
> Kontan mendengar ramalan *ngawur* itu anak Harimurti *ngakak *tidak
> percaya...
>
> ''Ini Harimurti yang mana, Mas Petruk? Harimurti yang Agus Yudhoyono?''
> potong Mbak-mbak demonstran tiket kereta api.
>
> Harimurti Sang Prabu. Raja Dwarawati. Nama lain Kresna. Anak Kresna itu,
> Raden Samba, *cekakan *tidak percaya pada si peramal. Samba segera
> berganti busana perempuan. Ia *sumpel *perutnya dengan bantal. Ia kenakan
> gaun perempuan hamil. Karena Samba memang tampan, ia mendadak jadi perempuan
> *mbobot* yang ayu. Peramal itu dipanggilnya ke Ksatrian Paranggaruda.
>
> ''Hei, peramal!'' bentak Raden Samba dalam* kenes* suara perempuan. ''Coba
> tebak, kapan aku akan melahirkan? Terawang juga, anakku perempuan apa
> laki?''
>
> Dengan tegang dan takut-takut, sang peramal lirih menjawab, ''Maaf, Bendara
> Raden Ayu, paduka akan* babaran *nanti malam. Namun bayinya bukan lelaki
> bukan wanita...''
>
> Hahahaha.....
>
> Meledak tawa di antara Raden Samba dan kawan-kawannya di Paranggaruda.
> Terbukti kan peramal ini *sok* tahu? *Wong *Samba itu laki dan bunting
> bohongan *kok* ditebak bersalin nanti malam. Samba segera melepas gaun
> hamilnya. Tapi semuanya lantas terperangah. Ternyata Raden Samba betul-betul
> hamil. Tengah malam kemudian Samba melahirkan sebatang gada.
>
> Negara panik! Harimurti menyuruh Ugroseno membuang gada ke laut. Ternyata
> arus samudera membawanya kandas kembali ke pantai. Kelak usai Perang
> Baratayuda, gada ditemukan salah satu penduduk, lalu digunakan untuk saling
> menghantam dalam tawuran antar-kampung. Setelah itu punahlah bangsa Yada,
> penghuni asli Negara Dwarawati.
>
> Ceritanya sudah dulu ya Mbak. *Sampeyan *foto kopi lakon ini. Nanti Mbak
> tinggal pergi ke loket minta stempel nomor kursi di sebelah kanan judul,
> waktu hari H-007. Doanya yang kuat supaya ini bisa berlaku buat tiket kereta
> mudik, gerbong khusus perempuan. (*)
>
> **) Sujiwo Tejo tinggal di www.sujiwotejo.com
>
> http://jawapos.co.id/mingguan/index.php?act=detail&nid=151668
> *
>
>  
>



-- 
d-: dudi herlianto :-q
kunyuk nuyun kuuk, kuuk nuyun kunyuk

Kirim email ke