KANJENG DIPATI UKUR
by Richadiana Kartakusuma<http://www.facebook.com/profile.php?id=1537983874>on
Wednesday, August 25, 2010 at 5:32pm

*Purwaka *

Tahun 1628 Sultan Agung menugaskan Dipati Ukur membantu pasukan Mataram
menyerang Kompeni di Batavia. Pasukan Mataram dipimpin oleh Tumenggung
Bahureksa. Namun Bahureksa tidak mengadakan hubungan dengan Dipati Ukur.
Oleh karena itu Dipati Ukur tidak dapat melakukan perundingan dengan
Bahureksa.



Pada waktu yang telah ditentukan, Dipati Ukur memimpin pasukannya bergerak
menuju Batavia untuk menyerang Kompeni. Ketika pasukan dipeti Ukur tiba di
Batavia, ternyata pasukan Mataram belum datang. Oleh karena itu, Dipati Ukur
gagal mengusir Kompeni dari Batavia. Kegagalan itu terjadi karena
ketidakseimbangan persenjataan dan tidak mendapat dukungan dari pasukan
Mataram. Padahal seharusnya pasukan Mataram yang menjadi kekuatan ini
penyerangan, dibantu oleh pasukan Dipati Ukur.



Atas kegagalan menjalankan tugas dari raja Mataram, rupanya Dipati Ukur
berpikir, daripada ia menerima hukuman berat dari Sultan Agung, lebih baik
ia tidak setia lagi terhadap Mataram. Dipati Ukur beserta sejumlah
pengikutnya mengabaikan kekuasaan Mataram dan melakukan gerakan memberontak
terhadap Mataram.



Sikap Dipati Ukur tersebut segera diketahui oleh penguasa Mataram. Pihak
Mataram berusaha keras menumpas pemberontakan Dipati Ukur. Bila
pemberontakan itu tidak segera ditumpas, akan merugikan pihak Mataram.



Akhirnya pemberontakan Dipati Ukur dapat dipadamkan. Menurut versi Mataram,
Dipati Ukur tertangkap dan dihukum mati di Mataram. Menurut Sajarah Sumedang
(babad), pemberontakan Dipati Ukur terhadap Mataram berakhir pada tahun awal
tahun 1632.



* Penangkapan Dipati Ukur Oleh Adipati Kawasen *

 Naskah Leiden Orientaladalah naskah yang memuat tentang pemberontakan
Dipati Ukur & Penangkapan Dipati Ukur Oleh Bagus Sutapura (Adipati Kawasen).
Naskah ini ditulis oleh Sukamandara yang pernah menjadi Jaksa di Ghaluh.
Peristiwa penangakapan Dipati Ukur Oleh Bupati Kawasen ini menurut Prof. DR.
Emuch Herman Somantri terjadi pada hari Senin tanggal 1 bulan Jumadil Awal
1034 H sekitar pertengahan tahun 1632.



*cuplikan naskah Leiden Oriental yang menceritakan tentang penangakapan
Dipati Ukur oleh Adipati Kawasen (Bagus Sutapura): *



" Nunten pada guneman lan para bupati kabeh.Daweg pada angulati srana kang
bhade bisa nyekel Dipati Mogol punika.Nunten kyai Dhipati Galuh Bendanagara
angsal sanunggal santana Kawasen westa bagus Sutapura, gawena lagi ambhating
raga, sanggem anyekel Dipati Ukur. Sarta lajeng kumanabang sareng sareng
samenek ing Gunung lumbung punika. Nunten dipun tibani watu Westa Munding
Jalu dipun capakeun dening Bagus Sutapura, dipun balangakeun sumangsang
wonten sainggiling lajeng leles. Mangke nyataning Batulayang sareng sampun
sumangsang watu puniku. Nunten Bagus Sutapura angamuk pribadi, katah kiang
pejah balanipun Dipati Ukur punika sarta dipun besta dibakta dateng Ghaluh.
Artinya:



"Hasil musyawarah para Bupati yang akan diberi tugas menangkap Dipati Ukur
yang memberontak, kemudian Kyai Ghaluh Bandanagara mendapatkan Senopati dari
Kawasen (Bagus Sutapura) yang orang sedang bertapa untuk menangkap Dipati
Ukur. Bagus Sutapura lalu maju untuk berperang. Ia naik gunung lumbung.
Begitu Bagus Sutapura naik ke Gunung Lumbung, Bagus Sutapura dijatuhi batu
yang bernama Munding Jalu oleh Dipati Ukur. Batu itu kemudian ditangkap oleh
Bagus Sutapura, kemudian dilemparkan dan nyangkut di phon leles. Berhubung
dengan ditangkapnya Batu itu (Munding Jalu), maka tempat itu dinamakan batu
layang. Kemudian Bagus Sutapura menyerng sendirian sampai pengikut Dipati
Ukur banyak yang tewas. Akhirnya Dipati Ukur dapat ditangkap oleh bagus
Sutapura dan diikat kemudian dibawa ke galuh"



Sejarah Galuh yang disusun oleh raden Padma Kusumah merupakan salah satu
naskah yang memuat tentang penangkapan Dipati Ukur oleh Bagus Sutapura.
Naskah ini disusun berdasarkan naskah yang dimiliki oleh Bupati galuh R.A.A
Kusumah Diningrat 1836-1886 M, bupati Galuh R.T Wiradikusumah 1815 M dan R.A
Sukamandara 1819 M. Diantara naskah tersebut yang menceritakan Penangkapan
Dipati Ukur Oleh Bagus Sutapura (Adipati Kawasen) adalah:



255. Heunteu kocap dijalanna Di dayeuh Ukur geus Neupi Ki Tumenggung
narapaksa Geus natakeun baris Gunung Lembung geus dikepung Durder pada
ngabedilan Jalan ka gunung ngan hiji Geus diangseug eta ku gagaman perang



256. Dipati Ukur sadia Batuna digulang galing Mayak Gagaman di lebak Rea anu
bijil peujit Sawareh nutingkulisik Pirang-pirang anu deungkeut kitu bae
petana Batuna sok pulang panting Ki Tumenggung Narapaksa rerembugan



257. Urang mundur ka Sumedang Didinya Urang Badami Nareangan anu bisa Nyekel
raheden Dipati Bupati pada mikir Emut ku Dhipati galuh Ka Ki bagus Sutapura
Waktu eta jalma bangkit Seg disaur ana datang diperiksa



258. Kyai bagus Sutapura Ayeuna kawula meureudih Dipati Ukur sing beunang
Ditimbalan dijeng gusti Nanging kudu ati-ati Perkakasna eta batu Gedena
kabina-bina Dikira sagede leuit Dingaranan Batu Simunding lalampah



259. Kyai bagus Sutapura Perkakasna ngan pedang jeung keris Datang kana
pipir gunung Tuluy gancangan nanjak Geus datang kana tengah-tengah gunung
Batu Ngadurungdung datang Dibunuh geus burak-barik



260. Nu sabeulah seug dicandak Dibalangkeun nyangsang dina luhur kai Nu
matak ayeuna masyhur Ngarana batu layang Kocap deui Kyai bagus Sutapura
ngamuk Balad Ukur ennggeus ruksak Ukur ditangkap sakali.



276. Hariring katu nimbalang Eta maneh bener Kyai Dipati Eh ayeuna
Tumenggung Tumenggung Narapaksa Karep kamenta Ngabehi anu tilu Ayeuna angkat
Bupati



279. Kyai bagus Sutapura ayeuna ngarana kudu diganti Bari diangkat
Tumenggung Tumenggung Sutanangga Jeung bere cacah 7000 Ayeuna Geus tetep
linggih

Pemberontakan Dipati Ukur yang berlangsung lebih-kurang empat tahun
(1628-1632) merupakan faktor penting yang mendorong Sultan Agung tahun
1630-an memecah wilayah Priangan di luar Sumedang menjadi beberapa
kabupaten, termasuk Galuh. Wilayah Galuh dipecah menjadi beberapa pusat
kekuasaan kecil, yaitu Utama diperintah oleh Sutamanggala, Imbanagara
diperintah oleh Adipati Jayanagara, Bojong-lopang diperintah oleh Dipati
Kertabumi, dan Kawasen diperintah oleh Bagus Sutapura.



Khusus kepala-kepala daerah yang berjasa membantu menumpas pemberontakan
Dipati Ukur diangkat oleh Sultan Agung menjadi bupati di daerah
masing-masing. Tahun 1634 Bagus Sutapura dikukuhkan menjadi Bupati Kawasen
(wilayah Kawasen pada saat itu antara Pamotan (Kalipucang) sampai Bojong
Malang (Cimaragas sebelah Barat) berpusat di Kawasen -Banjarsari).



Kepala daerah lain yang diangkat menjadi bupati antara lain Ki Astamanggala
(Umbul Cihaurbeuti) menjadi bupati Bandung dengan gelar Tumenggung
Wiraangunangun, Ki Wirawangsa (Umbul Sukakerta) menjadi bupati Sukapura
dengan gelar Tumenggung Wiradadaha, dan Ki Somahita (Umbul Sindangkasih)
menjadi bupati Parakanmuncang dengan gelar Tumenggung Tanubaya.) . Bagus
Sutapura memerintah Kawasen sampai dengan 1653 M. Sementara itu, Dipati
Imbanagara yang dicurigai oleh pihak Mataram berpihak kepada Dipati Ukur,
dijatuhi hukuman mati (1636). Namun puteranya, yaitu Adipati Jayanagara (Mas
Bongsar) diangkat menjadi Bupati Garatengah. Imbanagara dijadikan nama
kabupaten dan Kawasen digabungkan dengan Imbanagara.

Demikianlah untaian cerita nyata yang pernah terjadi tentang Pemberontakan
Dipati Ukur & Penangkapan Dipati Ukur Oleh Bagus Sutapura Adipati Kawasen.
Dari berbagai sumber yang ada tentang Jasa Bagus Sutapura yang telah berjasa
mengagalkan pemberontakan yang dilakukan oleh Dipati Ukur.



Selanjutnya Tahun 1963 Bagus Sutapura diangkat sebagai Dalem Kawasen dengan
gelar Tumenggung Sutanangga. Kadaleman Kawasen sekarang bernama Banjarsari.



*Kadaleman Kawasen  Bubar*

Kadaleman Kawasen resmi dibubarkan pada tahun 1810 M berdasarkan Besluit
yang ditetapkan oleh Gubernur Jendral Herman Deandels.

Peninggalan-peninggalan dari kebesaran Kadaleman Kawasen yang tersisa sampai
saat ini hanya berupa makam-makam dari para Dalem Kawasen yang berkuasa di
Kawasen beserta para pejabat kawasen. Di Banjarsari sendiri orang kebanyakan
hanya tahu Kawasen itu adalah salah satu Desa di Kecamatan Banjarsari yang
tidak ada sejarahnya. Selain itu sekarang tidak tampak Bahwa di Banjarsari
dulu adalah sebuah kabupaten yang besar dan masyhur di Tatar Parahiyangan
dengan nama Kawasen. Hal ini terjadi karena Kurangnya kesadaran masyarakat
untuk kembali menelusuri sejarah "Nyakcruk Galur Mapay Patilasan".



Sepertinya pemerintah setempat khususnya Ciamis kurang memperhatikan
sisa-sisa peninggalan dari Kadaleman kawasen. Seandainya Pemerintah ciamis
sadar bahwasanya di Banjarsari masih ada sisa-sisa kebudayaan dalam hal ini
Kadaleman kawasen, maka Kawasen ini layak dijadikan sebagai Situs Wisata
Budaya yang ada di Bumi tatar galuh Tercinta.



Semoga tulisan singkat mengenai kebesaran kadaleman kawasen ini dapat
memberikan hikmah suri taulada kepada kita semua tentang jiwa Patriotisme
Bagus Sutapura yang tercermin dalam jiwa dirinya. 

http://www.facebook.com/notes/richadiana-kartakusuma/kanjeng-dipati-ukur/424989719474

Kirim email ke