Ribuan Fosil Ditemukan di Gua Pawon

PENELITI dari Balai Arkeologi Bandung, Lutfi Yondri (kiri) bersama tim
menggali di kotak ekskavasi di Situs Gua Pawon Kabupaten Bandung Barat,
Senin (30/8). Dalam ekskavasi kali ini, kembali ditemukan ribuan keping
fosil peninggalan kehidupan manusia prasejarah.* JOKO PAMBUDI/"PR"

 Kawasan Karst Citatah di Kabupaten Bandung Barat kembali menunjukkan
kontribusi keberadaannya sebagai aset keilmuan. Ekskavasi atau penggalian
untuk tujuan penelitian yang dilakukan Balai Arkeologi Bandung di Situs Gua
Pawon sekitar satu pekan terakhir membuahkan hasil. Ribuan keping fosil
kembali ditemukan di kawasan tersebut.

Tentu fosil ini menjadi tidak sekadar tulang belulang biasa. Di tangan
ahlinya, temuan tersebut menjadi data baru mengenai keberadaan dan kehidupan
manusia prasejarah. Analisisnya kemudian bisa menjadi rujukan keilmuan, soal
bagaimana nenek moyang manusia zaman dulu hidup di kawasan Gua Pawon.

Peneliti dari Balai Arkeologi Bandung Lutfi Yondri mengatakan, seluruh
keping fosil temuan hasil ekskavasi kali ini terdiri atas berbagai jenis,
seperti sisa makanan, batuan obsidian, alat batu pukul (perkutor), serta
batu inti. Diperkirakan fosil tersebut berusia sekitar 9.500 tahun.

Ekskavasi seperti ini dilakukan untuk mengetahui sekaligus mempelajari jejak
kehidupan manusia prasejarah. "Terhitung sejak tahun 2003, telah dilakukan
tujuh kali ekskavasi di kawasan Situs Gua Pawon," kata Lutfi ketika ditemui
di lokasi, Senin (30/8).

Sepanjang rentang waktu itu, berhasil direkonstruksi pula enam kerangka
manusia prasejarah, yang kemudian kerap disebut manusia Pawon. Keenam
kerangka tersebut memiliki jenis kelamin berbeda, dengan rentang usia 5.600
hingga 9.500 tahun.

Dalam ekskavasi tahun ini, kata Lutfi, waktu yang dipersiapkan sekitar dua
pekan, mulai Jumat (20/8) hingga Sabtu (4/9). Sejumlah temuan fosil memang
tidak jauh berbeda dengan temuan pada ekskavasi sebelumnya. "Yang baru untuk
kali ini adalah adanya temuan berupa perhiasan dari kulit kerang laut,"
ujarnya.

Barangkali di mata orang awam, keping perhiasan dari kerang laut tersebut
tidak banyak berarti. Padahal, temuan itu menjadi rujukan bahwa pada masa
tersebut manusia Pawon telah menjelajah ke daerah pantai. Penanda migrasi
manusia purba ini menunjukkan bagaimana kehidupan pada saat itu.
Diperkirakan kulit kerang laut yang berfungsi sebagai perhiasan itu
diperoleh dari pantai terdekat di utara Jawa, sekitar daerah Subang.

Selain itu, ada juga dugaan mengenai kehidupan pada masa tersebut. Dugaan
itu mengemuka seiring dengan ditemukannya fosil gigi gajah pada ekskavasi
kali ini.

Secara teknis, penggalian kali ini terbagi ke dalam dua kotak ekskavasi
berukuran masing masing sekitar 1 x 1 meter. Lokasinya tak jauh dari replika
manusia purba yang dipajang di Gua Pawon. Masing-masing kotak digali secara
bertahap per lima sentimeter. Saat ini, salah satu kotak telah memiliki
kedalaman 120 sentimeter, sedangkan kotak satunya lagi 185 sentimeter.

Penggalian dilakukan oleh warga setempat yang sebelumnya telah terlebih
dahulu diberi pengetahuan mengenai ekskavasi. Hal ini ditempuh agar
pengetahuan yang ditularkan kepada warga setempat bisa menjadi bekal ilmu.
"Agar jika ada pengunjung, mereka bisa menerangkan kembali," ujar Lutfi.

Lebih lanjut dia menuturkan, secara umum fungsi gua pada zaman prasejarah
terbagi menjadi dua, yaitu sebagai tempat beraktivitas serta tempat
penguburan. Penguburan diperuntukkan bagi kalangan tertentu yang terbilang
istimewa. Diperkirakan Gua Pawon memiliki fungsi gabungan tempat penguburan
dan tempat beraktivitas. "Kalau direkonstruksi lagi, Gua Pawon pada masa
lalu memenuhi dua fungsi tersebut, multicomponent site," tutur Lutfi.

Dikatakannya, posisi Gua Pawon yang berada di bagian belakang dan cenderung
tersembunyi, menunjukkan bahwa tempat tersebut diperuntukkan bagi
penguburan. Sementara sejumlah sisa kehidupan yang ditemukan beberapa waktu
terakhir, seperti sisa makanan atau perhiasan, menjadi penanda bahwa gua
yang sama digunakan sebagai tempat beraktivitas.

Namun, dia menegaskan, temuan yang telah diketahui selama ini makin
menguatkan peran Situs Gua Pawon sebagai aset keilmuan. Lutfi meyakini,
selain temuan yang telah diketahui selama ini, ada kebudayaan yang lebih
tua. Dikatakannya, jika ekskavasi terus dilakukan, tidak tertutup
kemungkinan akan ditemukan budaya pada zaman plaestosin akhir, dengan usia
lebih dari 10.000 tahun. (J. Pambudi/"PR")***

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=154710

Kirim email ke