Kiai Bagelen dan Kiai Ijo
Beduk Terbesar di Indonesia

Hampir setiap masjid di Indonesia dilengkapi beduk. Jika tidak ditempatkan
di bagian depan, biasanya disimpan di samping masjid. Beduk biasanya
dibunyikan sebagai pemberitahuan tibanya waktu salat.

Beduk yang selalu lekat dengan masjid itu sebenarnya berasal dari India dan
Cina. Keberadaan beduk bermula saat Laksamana Cheng Ho, jenderal asal Cina
datang ke Semarang untuk menemui Raja Jawa. Sebelum meninggalkan Semarang,
Cheng Ho ingin mendengar suara beduk dari masjid. Sejak saat itulah, beduk
menjadi bagian dari masjid yang berfungsi sebagai alat komunikasi ritus
keagamaan. Dari Semarang, kebiasaan menabuh beduk di masjid ini akhirnya
menyebar ke berbagai daerah di Indonesia.

Ada dua beduk terbesar di Indonesia. Yang pertama, berada di dalam Masjid
Agung Darul Muttaqien, di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Beduk ini
memiliki sejarah panjang dan keberadaannya di masjid itu merupakan perintah
dari Bupati Purworejo Adipati Tjokronegoro I.

Beduk yang diberi nama Kiai Bagelen itu dibuat pada 1834 Masehi. Memiliki
panjang 292 cm, keliling bagian depan 601 cm, keliling bagian belakang 564
cm, diameter bagian depan 194 cm, dan diameter bagian belakang 180 cm.
Bagian yang ditabuh terbuat dari kulit banteng. Beduk raksasa ini dirancang
sebagai "sarana komunikasi" untuk mengundang jemaah sejauh-jauhnya sebagai
tanda waktu salat menjelang azan dikumandangkan.

Sejarah pembuatan Beduk Kiai Bagelen bisa dihubungkan dengan sejarah
berdirinya Masjid Agung Darul Muttaqien. Menurut catatan sejarah, begitu
selesai Perang Diponegoro (1825-1830), pemerintah Hindia Belanda mengangkat
pemimpin dari kalangan pribumi untuk memerintah wilayah Tanah Bagelen
(Purworejo sekarang). Bupati saat itu Kanjeng Raden Tumenggung Tjokronegoro
I dan jabatan patih (pembantu bupati) dipercayakan kepada Raden Tjokrojoyo.

Pada zaman Bupati Tjokronegoro I, masjid agung mulai dibangun. Berdasarkan
tulisan di prasasti yang ditempel di atas pintu utama masjid, pembangunannya
selesai pada 1834 M. Setelah masjid berdiri, bupati memiliki gagasan untuk
melengkapinya dengan beduk yang harus dibuat istimewa sehingga menjadi tanda
peringatan di kemudian hari.

Adik bupati, Mas Tumenggung Prawironegoro Wedana Bragolan menyarankan agar
bahan beduk dibuat dari pangkal (bongkot) pohon Jati. Pohon jati tadi
diambil dari Dusun Pendowo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo. Dari
cerita lisan yang turun-temurun, pohon-pohon jati yang terdapat di Dusun
Pendowo telah berusia ratusan tahun dengan ukuran besar-besar, bahkan ada
yang bercabang lima.

Beduk itu mula-mula ditutupi bahan dari kulit banteng. Setelah bertahan
selama 102 tahun, pada 3 Mei 1936 kulit beduk bagian belakang diganti dengan
kulit sapi ongale (benggala) dan sapi pemacek yang berasal dari Desa Winong,
Kecamatan Kemiri, Kab. Purworejo, karena mengalami kerusakan.

**

Beduk terbesar lainnya dipajang di bagian depan Masjid Agung Kota
Tasikmalaya. Beduk berdiameter 2,02 meter, panjang 4 meter, tinggi 2 meter,
dan berat sekitar satu ton itu tercatat di Museum Rekor Indonesia (Muri)
sebagai beduk terbesar .

Beduk itu terbuat dari kayu bingkerey, jenis kayu yang sangat kuat dan
keras. Kulitnya berasal dari kulit kerbau yang didatangkan secara khusus
dari Banten.

Menurut Junaedi, petugas Masjid Agung Kota Tasikmalaya, beduk itu dibuat
oleh ahli pembuat gamelan, Trimanto atau Mpu Triwiguno di Yogyakarta selama
dua bulan dengan mengerahkan enam belas tenaga kerja. Trimanto adalah peraih
penghargaan di bidang seni, salah satunya dari UNESCO pada 1999. "Kalau
tidak salah, lima tahun lalu beduk ini mulai dipajang di depan masjid,"
ujarnya.

Kiai Ijo, begitu beduk itu dinamai, merupakan sumbangan dari perusahaan
swasta. Sejak 2006, beduk ini sering mengikuti pawai beduk. "Setiap bulan
Puasa, Kiai Ijo selalu dibawa untuk parade beduk keliling seluruh Indonesia.
Baru tahun ini beduk itu berada di depan masjid," katanya.

Junaedi menuturkan, Kiai Ijo tidak pernah dipakai dalam kegiatan
sehari-hari, dan cenderung menjadi hiasan masjid. Pasalnya, masjid itu
memiliki beduk lain yang berukuran lebih kecil. Beduk itulah yang biasa
dipakai untuk kegiatan sehari-hari.

Untuk menabuh Kiai Ijo, bisa dilakukan oleh empat orang sekaligus dan perlu
kekuatan yang penuh. "Beduk ini kalau ditabuh dapat mengeluarkan bunyi yang
sangat mantap, bernada rendah sekali tetapi terdengar sangat agung,"
katanya.

Selama Ramadan, banyak warga yang datang ke Masjid Agung Tasikmalaya untuk
melihat dari dekat beduk raksasa itu. Sambil ngabuburit, mereka bisa
menyaksikan beduk raksasa kebanggaan kotanya. (Undang Sudrajat/"PR")***

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=154776

Kirim email ke