berbagi informasi saja. jadi, lain na soal fikih wae beda teh, na sejarah Rasul 
na ge beda.

www.ahmadsahidin.wordpress.com

--- Pada Jum, 3/9/10, JeBe <[email protected]> menulis:

Dari: JeBe <[email protected]>
Judul: Re: [kisunda] Sirah Nabawiyah versi Sunni-Syiah
Kepada: [email protected]
Tanggal: Jumat, 3 September, 2010, 6:23 AM







 



  


    
      
      
      












Punten kang ahsa, kinten2 poin inti maksud tina email ieu naon nya? 
Hatur nuhun Sent from MobilePhone®From:  Ahmad Sahidin <[email protected]>
Sender:  [email protected]
Date: Fri, 3 Sep 2010 10:51:21 +0800 (SGT)To: ALTANWIR 
milis<[email protected]>; Ki Sunda Milis<[email protected]>; 
SuaraHati<[email protected]>; musyawarah-burung 
Milis<[email protected]>; zamanku 
Milis<[email protected]>ReplyTo:  [email protected]
Subject: [kisunda] Sirah Nabawiyah versi Sunni-Syiah

 



    
      
      
      


 

Untuk
mengetahui bedanya, antara versi Sunni dan Syiah, baiklah kita bandingkan
sedikit dengan buku-buku yang pernah saya baca. Apabila membaca “Sejarah Hidup
Muhammad” karya Muhammad Husein Haekal, “Sirah Nabawiyah” karya Syaikh
Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury, atau buku sejarah Muhammad lainnya dari para
penulis beraliran Islam-Sunni, biasanya Rasulullah digambarkan pernah keliru
dan tidak mengetahui bahwa dirinya seorang Nabi.  

   

Begitu
juga tentang peristiwa mendapatkan wahyu pun dramatis; sampai ketakutan dan
lari kemudian berlindung kepada istrinya, Khadijah. Peristiwa ditegur Allah
karena tidak menghiraukan orang buta, soal penyerbukan kurma yang malah
merugikan petani, atau Nabi berniat menceraikan Aisyah karena kedapatan
berduaan dengan Shafwan dalam perjalanan yang tertinggal, adalah masuk dalam
karya sejarawan Ahlu Sunnah atau Sunni. 

   

Berbeda
dengan buku Sirah Nabawiyah dari kalangan sejarawan Syiah atau Ahlul Bait.
Sebut saja nama Ja`far Subhani dengan karyanya “The Message” (terbitan Foreign
Departement of Be`that Foundation, 1984) dan Ja`far Murtadha Amili dengan 
karyanya
“Al-Shahih Min Sirat Al-Nabiy Al-A`Zham Saw”.  

   

Dalam
kedua buku tersebut, hampir tidak ada peristiwa sejarah yang membuat Nabi
Muhammad saw linglung, ketakutan, atau tidak mengetahui kenabiannya.  Dalam 
buku tersebut ditulis bahwa Nabi
Muhammad saw adalah manusia bersih dari kesalahan dan sempurna dalam perilaku
serta pendapatnya berdasarkan wahyu. Jadi, setiap ucapan dan kehidupannya
benar-benar teladan untuk umat Islam.  

   

Bahkan, Sayyid A.A Razwy dalam
buku Menapak Jalan Suci Sang Putri Mekkah: Sejarah Khadijah al-Kubra, istri
Rasulullah Saw (Jakarta: Lentera, 2002; h.179-180) menyebutkan Khadijah
bukan janda, tetapi seorang lajang yang belum menemukan calon yang cocok.
Menurut Razwy, Khadijah banyak menerima lamaran dari para pemuka dan penguasa
Arab Mekkah, tetapi ia menampiknya. Khadijah tidak tergoda dengan kekayaan
karena ia sendiri seorang pengusaha yang terkenal kaya raya di Mekkah. Siapa
pun yang mencoba (melamar) mengesankannya dengan harta atau kekuasaan, jika
tidak bodoh, tentu saja naif. Karena itu, Khadijah membuat target sampai adanya
seorang laki-laki yang benar-benar mengesankannya, yaitu Muhammad bin Abdullah.
 

   

Lainnya, yang jarang dikemukakan
sejarawan Ahlu Sunnah adalah tentang peristiwa pengangkatan pemimpin setelah
Rasulullah saw di Ghadir Khum. Ghadir Khum dan kisah pembangkangan sahabat
dekat dalam Perang Uhud menjadi kupasan pada buku-buku sejarah versi Syiah. 

  

Kalau
diringkas: Ahlu Sunnah lebih memanusiakan Muhammad sehingga ia masih dapat
berbuat salah atau keliru. Sedangkan Ahlul Bait menyajikan Muhammad saw sebagai
sosok sempurna, berperilaku mulia, dan di bawah bimbingan Ilahi.  



www.ahmadsahidin.wordpress.com


    
     

    










    
     

    
    


 



  





Kirim email ke