Jadi emut, kapungkur waktos ngora keneh kantos kutrat-kotret masalah ieu teh, 
nembe di-upload di blog. Mangga diilo, hapunten pami narsis sareng hapunten teu 
disundakeun :D

http://dkelana.wordpress.com/2010/09/06/tentang-tuhan/


22 Januari 2003
Orang sering memperdebatkan sebuah konsep yang tak akan usai, tentang Tuhan dan 
ketuhanan. Tuhan, Robbi, 4JJ 1, Yahweh, Hyang Widhi, atau sebutah lainnya 
(Dewa, 
Thian, God, etc) dalam pandangan pribadi manusia-ku sampai saat ini tidak bisa 
atau belum terdefinisikan secara komprehensif. Terlepas dari pandangan 
teologisku sebagai seorang muslim, mungkin ada baiknya memberikan 
batasan-batasan (bukan definisi) tentang konsep ini.
-          Bagi kebanyakan manusia, tuhan (mungkin) adalah segalanya. Untuk 
tuhan atau yang dipertuhan mereka rela melakukan segalanya tergantung apa yang 
dipertuhankannya itu.
-          Tuhan dalam pengertian filosofis adalah sumber segala sesuatu, prima 
causa – penyebab utama yang dicari-cari. Entah mengapa sampai saat ini hanya 
segelintir filsuf yang menempatkan Tuhan sebagai prima causa-nya.
-          Dalam dunia materi, tuhan adalah pencipta segala sesuatu. Pencipta 
ruang, waktu, dengan berbagai dimensinya.
-          Tuhan bisa jadi relativitas, ketakteraturan dalam dunia fisika. 
Setidaknya mungkin yang menyebabkan relativitas tersebut.
-          Tuhanlah juga yang terkadang dijadikan kambing hitam atas segala 
sesuatu yang menyimpang dari hokum alam yang pasti maupun yang belum 
terjelaskan 
secara rasional.
-          Tuhan adalah sesuatu yang disembah manusia secara terorganisir 
melalui seperangkat aturan dan tata cara tertentu. Kelompok penyembah tuhan 
kadang diasosiasikan dengan agama
Tapi apakah tuhan? Jawabnya, tuhan adalah Tuhan. Bagiku, Tuhan adalah penyebab 
dan pencipta segala sesuatu yang patut disembah manusia sebagai makhluknya yang 
diberi kecerdasan untuk “menangkap” keberadaan-Nya melalui tata cara tertentu 
yang diterapkan oleh-Nya, melalui perantaraan utusan-Nya yang juga merupakan 
manueia terpilih, sehingga melahirkan apa yang kita kenal dengan agama – sebuah 
batasan yang terlalu berpretensi tampaknya, karena memang konsepnya sangatlah 
sulit untuk didefinisikan dengan pemahaman dan “penangkapan” akal pikiran dan 
kontemplasi manusia-ku yang sangat terbatas J
Pada akhirnya, sekali lagi, tuhan adalah Tuhan! titik!!
Satu hal yang berkaitan dengan tuhan adalah penuhanan. Dalam hal ini penuhanan 
yang diartikan sebagai pemposisian sesuatu baik abstrak maupun kongkrit, 
hakikat 
maupun syariat, konsep ataupun bentuk, sebagai yang dipuja, disembah, 
diagungkan 
lebih adari segala sesuatu lainnya termasuk dirinya sendiri, sehingga sesuatu 
tersebut menjadi obsesi, tujuan, sandaran, dan sumber kekuatan pribadi orang 
yang menuhankannya.
Abstrak dalam arti Tuhan/yang dituhankan tersebut tidak secara langsung 
disadari 
sebagai tuhan dalam pengertian dzat azali-nya, kongkrit sebaliknya.
Hakikat merujuk kepada dzat Tuhan itu sendiri, sedangkan syariat merujuk kepada 
symbol atau personifikasi tuhan di kehidupan sehari-hari baik berupa benda atau 
fenomena tertentu.
Konsep merupakan seperangkat pemikiran dan hasil pemikiran sistematis tentang 
keberadaan Tuhan, bentuk adalah penjelmaan Tuhan dalam bentuk materi.
Kemudian tema lainnya adalah mengenai ketuhanan yang suka dipersamakan dengan 
keberagamaan. Ketuhanan merupakan konsepsi teologis tentang wujud, hakikat, 
sifat, dan pembuktian keberadaan tuhan yang disandarkan pada ajaran nilai dan 
moral agama sebagai ajaran/petunjuk Tuhan kepada manusia yang disampaikan oleh 
para manusia terpilih yang dikenal sebagai nabi/rasul/sai/sri batara, etc…
Refleksi ini akhirnya bermuara pada pencarian tentang jati diri dan hakikat 
segala sesuatu. Termasuk pencarian akan konsepsi dan fenomena kehidupan, 
bagaimana seseorang memandang diri dan lingkungannya di antara berbagai 
kebimbangan. Pencarian ini mungkin tidakseagung pencarian Ibrahim (As) yang 
serta merta menemukan jawaban setelah melalui proses penuhanan 
fenomena-fenomena 
alam. Atau Musa (As) yang ingin melihat wajah Tuhan namun justru tersungkur 
pingsan melihat hancur leburnya gunung yang kepadanya ditampakkah waja 4JJ 1.
Atau Bani Israil yang mem-putra Tuhan-kan Uzair, atau Paulus yang dalam 
pencariannya menemukan bahwa Yesus (As) adalah Tuhan sekaligus anak Tuhan yang 
diutus ke bumi. Atau Sidharta Gautama yang menemukan sifat ketuhanan nyata 
dalam 
dirinya sendiri. Atau Al-Hallaj, atau Syeh Siti Jenar, atau Fir’aun, atau Ken 
Arok!
Akan selalu ada dua paradox yang mempengaruhi upaya seseorang menyingkap 
hakikat 
konsep tuhan menurutku. Pertama, keinginan untuk memahami-Nya secara mendalam 
namun dibatasi oleh kondisi yang kedua, yaitu keterbatasan kerangka pemikiran, 
keterikatan dengan hasrat dan tuntutan material, serta ketidaknyamanan secara 
psikologis. Keduanya berada di kutub yang berbeda jauh, dan manusia-ku berada 
di 
tengahnya dalam garis equator yang sangat tidak stabil dengan pijakan ilmu yang 
rapuh.
Wallohu a’lamu bish-showab…


Kirim email ke