Meunang nyalin tina blog-na Kang Ahsa.

==========
Abah-Ambu: Bentuk Pengayaan
Bahasa<http://ahmadsahidin.wordpress.com/2010/09/17/abah-ambu-bentuk-pengayaan-bahasa/>
17 09 2010

*Oleh AHMAD SAHIDIN*

“KITA saling panggil apa ya?” tanya istri saya waktu awal nikah. Saya jawab,
“Anti panggil Aa saja dan Aa memanggil Neng ke Anti.”

<http://ahmadsahidin.files.wordpress.com/2010/09/lomba_blog_2010_1.jpg>Istri
pun mengangguk. Panggilan Aa dan Neng terus melekat hingga usia satu tahun
menikah. Memasuki awal tahun kedua pernikahan, saya dan istri sempat
bersilaturahim kepada teman saya di kampus UIN Sunan Gunung Djati. Teman
saya itu baru menikah dan memanggil istrinya dengan panggilan ‘Bunda’ dan
istrinya memanggilnya ‘Ayah’.

“Wah, belum punya bayi tapi panggilannnya udah gitu,” ujar istri. Saya
tersenyum. Sepulang dari teman saya dan istri kembali membincangkan soal
panggilan. Dari perbincangan itu muncul ide untuk mengganti panggilan kita
berdua. Istri saya bilang kita harus beda dengan yang ada dalam keluarga
kita.

“Panggilan ayah dan ibu, mamah dan bapak, ummi dan abi, kan sudah oleh kakak
kita. Jadi, apa?”

“Sudah saja kita pakai panggilan di Sunda: Abah dan Ambu.”

“Seperti panggilan mertua Kabayan.”

“Hehehe… bukan. Kata ‘Abah’ sangat dekat dengan istilah ‘Abu’ dalam bahasa
Arab. Orang-orang Arab, biasanya memanggil ayah dengan ‘Aba’. Nah,
orang-orang pesantren dulu, di tanah Sunda dan Batavia menggunakan pangilan
itu menjadi Abah. Sedangkan Ambu berasal dari Ummu. Karena lidah orang Sunda
sangat sulit bilang Ummu dan tidak enak dalam mengucapkan. Enknya bilang
Ambu untuk menyebut ibu.”

“Benarkah?” tanya istri.

“Kalau kita baca sejarah bahwa istilah tersebut muncul dari proses
Islamisasi ke Nusantara, khususnya di Sunda. Sejarawan Azyumardi Azra pernah
menerangkan bahwa bahasa Melayu dan Indonesia banyak dipengaruhi bahasa Arab
dan Persia. Misalnya, kata ‘kursi’ berasal dari bahasa Arab. Fenomena ini
disebut ‘*islamicate*’– istilah Marshall G.S.Hodgson– untuk menyebutkan
budaya yang bercorak Islam. Jadi, Abah dan Ambu atau Abi dan Ummi juga
bercorak Islam. Keduanya berasal dari satu akar.”

“Jadi, panggil Abah-Ambu?” tanya istri.

“Ya.”

Lalu, kami pun saling memanggil dengan panggilan itu.

*Pengaruh Bahasa Arab dalam Kehidupan Sosial Keagamaan Di Indonesia *
Tentang pengaruh bahasa ini, ada dua orang yang telah melakukan penelitian
tugas akhir kuliahnya tentang pengaruh bahasa asing terhadap Bahasa
Indonesia. Namanya Hanifullah Syukri dan Anas Sasmita yang menyelesaikan
pendidikan master di Program Pascasarjana UI dan UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta, yang keduanya tentang pengaruh bahasa Arab dalam kehidupan sosial
keagamaan di Indonesia.

Dari hasil penelitiannya itu, Sasmita menyimpulkan bahwa bahasa Arab
merupakan alat komunikasi masyarakat baik kepada sesamanya maupun kepada
Tuhan. Ia menemukan sedikitnya 850 kata yang berasal dari bahasa Arab dan
tidak kurang dari 184 kata yang menjadi kata serapan dalam bahasa Indonesia.
Dari sejumlah itu, kata yang dipergunakan dalam kontek syiar Islam atau
dakwah Islam tidak kurang dari 793 kata. Karena itu, bahasa Arab mempunyai
sumbangan yang besar nilainya dalam perbendaharaan kata bahasa Indonesia.

Syukri dalam tesisnya menyimpulkan, orang Arab ketika datang menjadi
penyebar agama dengan jalur perdagangan banyak menggunakan bahasa daerah dan
bahasa Indonesia. Mereka beranggapan dengan begitu mereka lebih mudah
berkomunikasi dengan orang lain. Mereka juga tidak berkeberatan bahasa
mereka diadaptasi menjadi bahasa setempat. Ini terbukti pada kata sekaten
yang diambil dari kata dalam bahasa Arab syahadatain. Kata sekaten kini
menjadi bahasa umum di Yogyakarta.

Pengaruh bahasa Arab dan Islam sangat kentara juga pada khazanah kebudayaan
dan bahasa Sunda. Bahasa Sunda yang pada masa awalnya dipengaruhi struktur
bahasa Sansekerta dari India. Khazanah bahasa Sunda bertambah setelah
masyarakat Sunda menganut agama Islam dan menegakkan kekuasaannya di Cirebon
dan Banten sejak akhir abad ke-16 Masehi. Beberapa kosakata bahasa Arab yang
masuk dalam perbendaharaan bahasa Sunda, seperti duniya, niyat, selam
(Islam), tinja (istinja), masigit, salat, abdi, korsi, dan sebagainya.
Begitu pun dalam tradisi menulis atau huruf (aksara) yang digunakan dalam
menulis oleh masyarakat terdahulu menggunakan aksara Arab pegon.

Kemudian seiring dengan berkembangnya masyarakat dan perebutan kekuasaan
antar kerajaan serta masuknya kolonialisme asing, penggunaan aksara dalam
menulis dan idom-idiom berubah atau menyesuaikan dengan keadaan zaman.

Nah, berbagai istilah yang disebutkan di atas, termasuk Abah-Ambu dapat
disebut bentuk pengayaan bahasa. Karena itu, tidak mengapa jika masyarakat
Indonesia memilih istilah Abah-Ambu atau Ummi-Abi karena itu menambah
khazanah bahasa Indonesia.

*PENULIS **adalah alumni jurusan Sejarah dan Peradaban Islam Fakultas Adab
dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung*.

http://ahmadsahidin.wordpress.com/2010/09/17/abah-ambu-bentuk-pengayaan-bahasa/

Kirim email ke