Hehehe...resep macana tulisan Mang Jamal anu euyeub ku kecap-kecap jeung 
babasan Sunda. Mang Jamal mah tiasaan yeuh ngageuah-geuah urang Sunda sangkan 
boga wawanen maju makalangan "ngarebut" korsi politik nomor hiji. Kumargi 
usulan eta teh didasarkeun kana kartu etnis, tangtungan oge pertimbangan tur 
perimbangan etnis teh kudu jadi bahan pikiraneun. Hasil teu hasilna urang Sunda 
jadi presiden bakal gumantung, antawisna wae, disagigiren pede henteuna urang 
Sunda,  kana dukungan urang Sunda sorangan sarta rapih henteuna organisasi 
urang Sunda. Sabab lamun urang Sunda sorangan kurang ngadukung, kumaha rek 
ngaharepkeun dukungan ti kalangan non-Sunda. Tina pangalaman wawawuhan jeung 
urang-urang Sunda mah, kuring pribadi boga "kesan" urang Sunda teh masih keneh 
eleh ku urang Jawa tina "kekentalan" rasa kaetnisanana jeung 
paguyuban-paguyubanana. Jadi jalan ka korsi kapresidenan keur urang Sunda teh 
masih panjaaang, malah mungkin sakadar ngimpi (naha ieu
 refleksi yen urang Sunda kurang pede? Duka teuing ah)...tapi eta mah sawates 
(bawiraos) pangalaman pribadi we...
Baktosna,Yojo Surjana nu masih ngumbara 
NB: Nyuhunkeun widina bade diforward ka milis-milis sanes anu si kuring 
ngiringan.

--- On Sun, 9/19/10, mang jamal <[email protected]> wrote:

From: mang jamal <[email protected]>
Subject: [kisunda] artikel-urang sunda jadi presiden
To: [email protected]
Cc: [email protected]
Date: Sunday, September 19, 2010, 1:09 AM















 
 



  


    
      
      
      Urang Sunda Jadi Presiden



Oleh Jamaludin Wiartakusumah



Belakangan ini muncul berbagai upaya meningkatkan peran urang Sunda di

pentas politik nasional. Lingkung Seni Sunda Institut Teknologi Bandung,

misalnya, Juni lalu di Aula Timur ITB, menggelar acara bincang-bincang

dengan tema "Getih Sunda Solusi Konspirasi Zaman". Gagasan besarnya,

bagaimana urang Sunda mampu memberikan kontribusi positif lebih banyak

bagi kehidupan berbangsa dan bernegara yang sedang rudet ini.



Muara semua itu adalah kerinduan melihat urang Sunda menjadi presiden.

Level tertinggi yang pernah dicapai adalah perdana menteri (Ir H Djuanda)

dan wakil presiden (Umar Wirahadikusumah).



Apakah urang Sunda bisa menjadi Presiden RI? Tentu bisa dan sangat

mungkin. Sekarang saja yang menjadi presiden itu orang Cikeas. Yang sulit,

urang Sunda menjadi Presiden Tanzania, Sudan, Finlandia, atau Amerika.

Meskipun ada nama Nia di belakangnya, Tanzania tidak ada hubungan dengan

Nia Daniaty, penyanyi cantik yang urang Sunda. Meski namanya hanya

bertukar huruf dengan Sunda, Sudan bukan negara urang Sunda. Sementara

syarat menjadi Presiden Amerika, antara lain, harus lahir di Amerika.



Menjadi Presiden Finlandia juga repot karena orang Sunda mah melafalkan

huruf f, p, dan v cukup dengan pe. Huruf yang disukai orang Sunda adalah e

karena mirip senyuman. Itulah sebabnya, alfabet Sunda punya , e, dan eu.

Etnik lain belum tentu mudah mengucapkan Cicaheum atau Cibeureum dengan

baik dan benar.



Kearifan lokal



Ketika debat menentukan kapan sebaiknya Indonesia merdeka, Hussein

Djayadiningrat, intelektual Indonesia pertama yang meraih gelar doktor,

mengusulkan mendidik bangsa dahulu, baru merdeka. Hussein yang kuliah di

Universiteit Leiden tentu melihat Belanda sebagai acuan.



Sementara Bung Karno yang lama tinggal di Bandung, kuliah di THS (ITB),

menikah dengan Ibu Inggit dan mendirikan Partai Nasional Indonesia,

mengusulkan merdeka dahulu, baru membangun. Untuk meyakinkan hadirin

anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, Bung Karno mengajukan

argumen berupa adat urang Sunda masa itu. Katanya (kira-kira), "Lihat

orang Sunda, mereka menikah dulu sebelum punya pekerjaan."



Ujang, Asep, dan Entis yang sudah masuk usia nikah, tetapi hidupnya masih

teu pararuguh, oleh orangtua dijodokeun dan dikawinkeun. Mereka

dikondisikan menjadi suami. Maka, muncullah tanggung jawab untuk mencari

nafkah. Model ini sebangun dengan teori mestakung (semesta mendukung)

ciptaan Prof Yohanes Surya, pelatih siswa fisika kelas dunia. Dalam setiap

kondisi, dunia, alam sadar, alam bawah sadar, dan tubuh manusia mempunyai

mekanisme untuk menciptakan atau membangun kondisi yang mendukung.

Barangkali, karena itulah, orang Sunda gampang tersenyum dan tertawa,

tetapi mudah pundung.



Urang Sunda jelas punya potensi untuk menjadi presiden. Yang penting

adalah kemampuan memenuhi persyaratan. Persyaratan formal selain minimal

berumur sekian, di antaranya harus sehat rohani dan jasmani serta orang

Indonesia asli. Keaslian bisa dibuktikan secara genetik lewat tes DNA.

Pastilah di DNA orang Indonesia asli tertera kode Indonesia, seperti kode

IDR untuk rupiah, PK untuk pesawat terbang, KRI untuk kapal perang, 062

untuk telepon internasional, dan .id untuk situs internet.



Bahwa presiden harus ganteng atau cantik memang tidak ada dalam

Undang-Undang Dasar, tetapi melihat tampang presiden yang sudah-sudah, ya

syarat itu sepertinya fardu ain. Maklumlah, presiden kan juga pesohor.

Tampangnya ada di televisi, koran, dinding kantor, sekolah, dan prangko.

Namun, yang di prangko bernasib kurang mujur karena selalu dipukul palu

cap pos. Untuk urusan kasep atau geulis ini, Sunda tidak kekurangan orang.



Mengenal watak, kondisi, dan budaya bangsa adalah keharusan mutlak calon

presiden. Bila dulu bangsa kita terkenal sebagai pejuang, tabah, berani,

pantang menyerah, dan berani hidup susah, sekarang bangsa kita cenderung

mudah sedih alias melankolis melihat tayangan sinetron seraya mulai tidak

peduli pada tetangga sengsara. Kondisi lain, mau gampangnya saja, sebagian

menjadi penggemar bantuan langsung tunai dan beras untuk rakyat miskin,

lalu setiap saat siap menjadi korban tabung elpiji 3 kilogram. Simpati

kita biasanya tumpah pada tokoh protagonis yang lemah. Jadikan diri

sebagai figur yang teraniaya lawan politik, simpati semua orang akan

tertarik.



"Uga" baru



Bung Karno adalah presiden pertama dan proklamator kemerdekaan. Dia pandai

berpidato berapi-api dan menginspirasi banyak orang. Nyalinya luar biasa

besar. Dia berani teriak, "Amerika kita setrika, Inggris kita linggis!"

Malaysia dijadikan bulan-bulanan karena dianggap boneka imperialis

Inggris. Bung Karno terkenal punya selera seni tinggi dan pernah punya

lebih dari satu istri. Perkara nyandung ini mah orang Sunda tentu sudah

khatam.



Barack Obama waktu tinggal di Jakarta katanya suka meniru gaya Pak Harto

berpidato di televisi. Urang Sunda yang hobi memancing punya peluang besar

menjadi presiden karena Pak Harto juga gemar memancing. Media luar

menjuluki Pak Harto "The Smiling General". Soal yang ini mah, orang Sunda

jagonya. Jangankan hanya tersenyum, tertawa ngakak ngabarakatak juga

sangat mahir. Pada zamannya, tidak ada kabar kapal perang atau polisi laut

Malaysia berani cari penyakit dengan ngulampreng ke perairan Indonesia.



Semua orang tahu, Pak Habibie cerdas luar biasa. Kalau saja ada 1.000

orang seperti BJ Habibie, Indonesia akan segera menguasai teknologi tinggi

dan disegani. Namun, anggota Dewan waktu itu anak TK, jadi gagap

teknologi. Gus Dur adalah kiai, tokoh besar Nahdlatul Ulama, figur bapak

bangsa yang disegani. Dengan jurus "gitu aja kok repot", ia punya peluang

membereskan kondisi negeri. Akan tetapi, pemikiran serius tapi santainya

relatif sulit diikuti bangsanya yang terbiasa dengan cara rezim Orde Baru.



Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau Pak Beye berkarier di militer. Oleh

Gus Dur dan lalu Bu Mega, dia diangkat menjadi menteri. Pengalaman di

kabinet dan dicuekin menjadi modal untuk mendirikan Partai Demokrat dan

melejit hingga terpilih menjadi presiden pertama lewat pemilu langsung.

Pak Beye ini merupakan doktor dari Institut Pertanian Bogor, santun dan

pintar mencipta lagu serta menyanyikannya. Selama menjadi presiden, sudah

beberapa album dihasilkan. Orang Sunda yang penyanyi bisa usaha sambilan

meniru Pak Beye ini.



Pertanyaan kritis mengapa urang Sunda belum ada yang menjadi presiden,

kita tunggu sampai ada calon yang mau, dipinang partai peserta pemilu, dan

terpilih. Sementara itu, pertanyaan kenapa urang Sunda harus menjadi

presiden perlu diajukan. Kalau masih heurin ku letah, tentu sulit membuat

kebijakan dan terobosan besar. Mekanisme kontrol kualitas khas Sunda,

yaitu bisi ngerakeun, tentu akan menghambat munculnya urang Sunda maju

menjadi calon presiden.



Yang penting sekarang, untuk menyemangati peningkatan kualitas manusia

Sunda agar lebih mampu berperan di segala bidang, formula Jayabaya

mengenai nama pemimpin nasional, yaitu Notonegoro, perlu didampingi uga

baru, seperti Indonesia jaya mun presidena urang Sunda!



JAMALUDIN WIARTAKUSUMAH Dosen Desain Itenas



?dimuat KOMPAS jawa barat 18 september 2010 ?





    
     

    
    


 



  











      

Kirim email ke