Janten kabita hoyong neliti sejarah Tasikmalaya anu masih simpangsiur.... 
Tulisan "Hari Jadi Tasikmalaya" manikat dugi kana hate sim abdi, yen sim abdi 
teh putra kalahiran Tasikmalaya... 
Mani isin teuacan langkung terang sejarah Tasikmalaya, padahal sim abdi teh 
mahasiswa Ilmu Sejarah...
Mudah-mudahan janten peringatan (ibroh) kanggo sim abdi ambeh tiasa berkarya, 
khususnya kanggo kampung kalahiran nyarira (Tasikmalaya)...
Ptduana mugia niat sim abdi nulis sejarah Tasik teh tiasa direalisasikeun...
Haturnuhun Kang tos masihan info Tasikmalaya...
Wslm...
  


--- Pada Sen, 20/9/10, mh <[email protected]> menulis:

Dari: mh <[email protected]>
Judul: [kisunda] Sejarah - Hari Jadi Tasikmalaya?
Kepada: "Ki Sunda" <[email protected]>
Tanggal: Senin, 20 September, 2010, 12:15 AM







 



  


    
      
      
      21 Agustus 1111 bukan Hari Jadi Tasikmalaya

                                        
                                
                                                                        KANTOR 
Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya di 
Singaparna yang diresmikan Gubernur Jawa Barat pada 9 Agustus lalu. 
Sumber sejarah yang akurat menunjukkan, Kabupaten Sukapura yang 
merupakan cikal bakal Kabupaten Tasikmalaya berdiri pada paruh pertama 
abad ke-17, dibentuk oleh Sultan Agung Raja Mataram.* DOK./"PR"
                                                        
                                
Dalam tulisan ini, yang 
dimaksud dengan Tasikmalaya adalah Kabupaten Tasikmalaya. Semula 
kabupaten itu bernama Kabupaten Sukapura. Sejarah menunjukkan bahwa 
kabupaten tersebut berdiri jauh sebelum Indonesia merdeka. Sama halnya 
dengan beberapa kabupaten lain di Jawa Barat yang berdiri jauh sebelum 
bangsa Indonesia merdeka, pencarian hari jadi kabupaten-kabupaten itu 
baru dilakukan tahun 1970-an. 
Pencarian hari jadi Kabupaten 
Tasikmalaya dilakukan oleh satu tim tahun 1973-1974. Berdasarkan data 
yang diperoleh dalam penelitian, tim berkesimpulan bahwa tanggal 
Prasasti Geger Hanjuang, 13 Bhadrapada (Trayodasi Bhadrapada) tahun 1033
 Saka yang identik dengan tanggal 21 Agustus 1111 Masehi, adalah tepat 
dianggap sebagai hari jadi Kabupaten Tasikmalaya, dengan sebutan Hari 
Jadi Tasikmalaya.
Berdasarkan pengertian hari jadi, 
timbul pertanyaan. Benarkah atau tepatkah 21 Agustus 1111 M sebagai Hari
 Jadi Kabupaten Tasikmalaya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perlu 
dipahami benar mengenai beberapa hal. Pertama, pengertian hari jadi. 
Kedua, aspek kesejarahan menyangkut makna Prasasti Geger Hanjuang dan 
berdirinya Kabupaten Sukapura sebagai cikal bakal Kabupaten Tasikmalaya.
Hari jadi atau titimangsa (dalam 
istilah Sunda) adalah waktu - yang mengacu pada tanggal pertama kali 
berdirinya atau adanya sesuatu; identik dengan tanggal lahir seseorang. 
Hal itu berarti, tanggal hari jadi atau titimangsa merupakan fakta 
sejarah yang kuat mengenai awal keberadaan sesuatu. Dalam perspektif 
sejarah, tanggal hari jadi sesuatu merupakan peristiwa sejarah 
sebagaimana terjadinya (history as past actuality).
Bila pengertian hari jadi dikaitkan 
dengan tanggal 21 Agustus 1111, berarti Kabupaten Tasikmalaya atau 
Kabupaten Sukapura berdiri pada tanggal tersebut (tanggal Prasasti Geger
 Hanjuang). Benarkah? Dalam hal ini penting untuk dijelaskan bahwa 
Prasasti Geger Hanjuang yang bertanggal (hasil penafsiran) 21 Agustus 
1111 Masehi, tidak berkaitan dengan berdirinya Kabupaten Sukapura, 
apalagi dengan Kabupaten Tasikmalaya dan berdirinya Kota Tasikmalaya.
**
Prasasti Geger Hanjuang ditemukan di 
Desa Linggamulya, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya. Sekarang 
prasasti itu menjadi koleksi Museum Nasional di Jakarta. Tulisan dalam 
prasasti itu menyatakan keberadaan Kebataraan/Kerajaan Galunggung 
ditandai oleh penobatan Batari H yang sebagai Ratu Galunggung. Sang Ratu
 membuat parit untuk memperkuat pertahanan. Pernyataan itu mengandung 
arti tanggal 13 Bhadrapada tahun 1033 Saka (21 Agustus 1111 Masehi) 
adalah hari jadi Kerajaan Galunggung, bukan hari jadi Kabupaten 
Tasikmalaya. Kerajaan Galunggung bukan cikal bakal Kabupaten 
Tasikmalaya. Selain itu, sudah dipahami secara umum, kerajaan tidak 
identik dengan kabupaten.
Prasasti tersebut memang merupakan 
sumber sejarah yang otentik dan memuat fakta sejarah. Demikian pula 
penafsiran tanggal prasasti dari kalender tahun Saka ke kalender Masehi,
 boleh jadi melalui perhitungan yang benar. Akan tetapi, isi dan tanggal
 prasasti itu bukan fakta sejarah yang mengacu pada pembentukan 
Kabupaten Sukapura atau Tasikmalaya. Dari segi metodologi sejarah, 
tanggal 21 Agustus 1111 Masehi bukan fakta sejarah berdirinya Kabupaten 
Sukapura, apalagi Kabupaten Tasikmalaya.
Perlu dikemukakan pula, pada zaman 
Kerajaan Galunggung, Tasikmalaya sebagai nama tempat, belum ada. 
Sumber-sumber sejarah menunjukkan, waktu itu (abad ke-12) di tatar Sunda
 belum ada bentuk dan sistem pemerintahan kabupaten.
Catatan sejarah menunjukkan, semula 
daerah Galunggung tidak termasuk wilayah Kabupaten Sukapura (Tasikmalaya
 sekarang). Daerah itu dalam kedudukan sebagai distrik, baru masuk ke 
dalam wilayah Kabupaten Sukapura tahun 1831. Masih dalam tahun itu, 
wilayah Kabupaten Sukapura yang telah bertambah dengan Galunggung, 
dipecah menjadi tiga afdeling (bagian), yaitu afdeling Sukapura, 
afdeling Sukapura Kolot, dan afdeling Tasikmalaya. Awal abad ke-20, ibu 
kota Kabupaten Sukapura dipindahkan dari Manonjaya ke Tasikmalaya (ibu 
kota afdeling Tasikmalaya). Tahun 1913 --masa pemerintahan Bupati R.A.A.
 Wiratanuningrat (1908-1937)-- nama Kabupaten Sukapura diganti menjadi 
Kabupaten Tasikmalaya.
Telah disebutkan bahwa Kabupaten 
Tasikmalaya semula bernama Kabupaten Sukapura. Sumber sejarah yang 
akurat menunjukkan, kabupaten ini berdiri pada paruh pertama abad ke-17,
 dibentuk oleh Sultan Agung Raja Mataram. Berdirinya Kabupaten Sukapura 
dinyatakan dalam dua piagém (piagam) dari Sultan Agung. Piagam pertama 
bertanggal 9 Muharam tahun Jim Akhir, sedangkan piagam kedua bertanggal 9
 Muharam tahun Alip. 
Masing-masing piagam antara lain 
menyatakan bahwa Raja Mataram mengangkat Tumenggung Wiradadaha menjadi 
Bupati Sukapura. Tumenggung Wiradadaha diangkat oleh Sultan Agung 
menjadi Bupati Sukapura atas jasanya turut mengatasi gerakan perlawanan 
Dipati Ukur terhadap Mataram (1628-1631/2). 
Berarti, pengangkatan Tumenggung 
Wiradadaha menjadi Bupati Sukapura terjadi pada 1630-an. Tanggal 
pengangkatan Bupati Sukapura merupakan "tonggak" berdirinya Kabupaten 
Sukapura, yang dalam perjalanan sejarahnya berganti nama menjadi 
Kabupaten Tasikmalaya.
Keterangan-keterangan tersebut 
memperkuat kesalahan menganggap tanggal 21 Agustus (1111) sebagai Hari 
Jadi Tasikmalaya, baik Tasikmalaya dalam arti kota maupun Tasikmalaya 
dalam arti kabupaten.
Bahwa tanggal 21 Agustus 1111 tidak 
tepat alias salah dipilih sebagai Hari Jadi Tasikmalaya, pernah 
dikemukakan berkali-kali, baik melalui tulisan di koran maupun melalui 
forum seminar dan diskusi. Penulis pernah menjelaskan masalah Hari Jadi 
Tasikmalaya melalui koran Priangan, Mei 2003, dan Pikiran Rakyat edisi 
29 Agustus 2006. 
Tulisan dalam koran Priangan --terbit 
di Tasikmalaya-- mendapat respons dari LSM Cerdas di Tasikmalaya yang 
peduli terhadap sejarah daerahnya. Kepedulian LSM itu diwujudkan dengan 
mengadakan Semiloka Hari Jadi Tasikmalaya tanggal 16 Agustus 2004 
bertempat di Hotel Ramayana, Tasikmalaya. Rumusan hasil semiloka yang 
intinya menyatakan bahwa hari jadi Tasikmalaya harus "diluruskan", dalam
 arti diganti oleh tanggal yang benar-benar tepat, disampaikan kepada 
Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya. 
Bulan Agustus tahun berikutnya (2005) 
berlangsung diskusi tentang masalah yang sama. Acara diskusi berlangsung
 di Kantor Priangan, Tasikmalaya. Diskusi itu pun sampai pada kesimpulan
 bahwa tanggal hari jadi Tasikmalaya perlu diteliti ulang karena 21 
Agustus 1111 bukan tanggal yang tepat. Materi dan kesimpulan diskusi 
diekspos dalam koran Priangan bulan itu juga.
Oleh karena itu, bila Pemerintah 
Kabupaten Tasikmalaya khususnya dan warga masyarakat Tasikmalaya 
umumnya, terutama warga pituin (penduduk asli), memiliki kesadaran 
sejarah yang kuat, seharusnya tidak membiarkan kesalahan pemilihan 
tanggal Hari Jadi Tasikmalaya.
Seyogianya, kesalahan tersebut segera 
diperbaiki sebagai bentuk tanggung jawab moral agar tidak mewarisi 
generasi penerus dengan sejarah yang salah. Semoga! (A. Sobana 
Hardjasaputra, Guru Besar Ilmu Sejarah Fak. Sastra Unpad, Kasi 
Penelitian Pusat Studi Sunda, Dewan Pakar Sejarah-Budaya Rukun Wargi 
Tatar 
Sunda)***http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=156623




    
     

    
    


 



  





Kirim email ke