Oleh-oleh lebaran yeuh, hampura teu disundakeun :)

***
Untuk ke-banyak-kian kalinya saya mengikuti shalat berjamaah. Dan untuk 
ke-banyak-kian kalinya saya berdiri di shaf yang bukan shaf pertama. Dan 
untuk ke-banyak-kian kalinya, orang yang berdiri di depan saya adalah 
orang yang mengenakan sarung. Dan seperti pada umumnya, orang tersebut 
memakai sarungnya dengan 'gaya bersarung', yakni merek sarung tampil 
dibawah diantara dua tumit.

Sambil sedekap dan menunduk, pada rakaat pertama itu pikiran saya 
melayang-layang. Saya bertanya-tanya emang peraturan memakai sarung itu 
harus gitu ya, mereknya tampil diluar, dibawah diantara dua tumit? Kalau 
gak mengikuti 'aturan' seperti itu nggak apa-apa kan? terus kenapa orang 
ini dan sekian banyak orang lainnya yang menggunakan sarung, gayanya 
seperti ini?

Saya mulai suudzon :). Orang memakai sarung dengan merek tampil di bawah 
itu biar kelihatan kali ya, hey lihat saya memakai sarung yang 
diiklankan di TV, atau, sarung saya mereknya "ibukota provinsi", atau, 
saya memakai sarung "Al-Mahal" karena selera saya kan tinggi, dsb, dll.

Meski badan tegak dan pandangan menunduk, angan saya melesat mengembara 
semakin jauh. Kali ini berkembang tidak lagi seputar sarung, tapi 
meningkat ke pakaian secara umum. Orang mengenakan sarung saja ada 
'gaya' nya, apa lagi pakaian yang lainnya. Baju ada gaya nya, celana ada 
gayanya, rok, sepatu, tas, asesoris, rambut, jenggot, a, b, c, d. Semua 
ada gayanya. Dan dengan berlandaskan suudzon  saya mengklaim, bahwa 
kadang-kadang orang tidak memakai akal sehatnya ketika mengikuti 'gaya'.

Contoh, secara akal sehat, di daerah puncak yang suhunya dingin, maka 
pakaian yang masuk akal adalah pakaian yang tebal atau yang menutup 
sebanyak-banyaknya bagian tubuh untuk melindunginya dari hawa dingin. 
Namun coba kita perhatikan, banyak para gadis dan wanita, dengan 
santainya mengenakan tank top, meski saat itu malam hari dan gerimis 
rintik-rintik. Kalau orang waras kan gak mungkin kayak gitu, ya nggak. 
Cuman masalahnya, para tank top-er yang saya klaim 'nggak waras' itu, 
banyak juga yang eksekutif muda, sekolahnya tinggi dengan segudang 
prestasi. Kalau begitu mereka waras dong :) Apanya yang salah ya ?

Nah setan sok pintar berhasil merasuki saya. Saat itu saya 'kesurupan' 
menjadi pengamat fashion nomor wahid. Saya ingat sepenggal adegan dalam 
sinetron 'Si Doel Anak Sekolahan' yang sempat diputar ulang beberapa 
waktu yang lalu di sebuah stasiun TV. Saat itu Sarah berkunjung ke rumah 
'mak Nyak' dengan mengendarai mobil sedannya. Sarah menggunakan celana 
jeans. Celana jeans yang dikenakannya sangat longgar, tidak ketat 
mencetak bulat seperti sekarang. Seperti kita tahu, sinetron SDAS itu 
diproduksi pertengahan 90'an. Dan celana jeans 'gaya' saat itu, ya yang 
dikenakan si Sarah itu.

Jika kita suka melihat foto-foto klasik,film-film klasik atau film yang 
ceritanya berlatar 'jadul' entah itu 70'an, 50'an Perang Dunia ke II, 
20'an, dan seterusnya ke belakang. Maka kita akan melihat 'gaya' 
berpakaian yang lain dari yang sedang tren sekarang ini. Misalnya gaya 
pakaian tahun 20'an di negara-negara barat (untuk urusan fashion, kita 
kan banyak berkiblat ke barat he..he..he..), untuk laki-laki tata rambut 
sisir rapi, wajah kelimis atau dihias kumis, dengan setelan jas dan 
dasi, dengan kepala memakai topi fedora atau homburg. Untuk wanita, gaun 
panjang ditemani berbagai asesoris dan hiasan rambut berupa berbagai 
model topi dan turban.

Coba bandingkan dengan sekarang. Untuk laki-laki sih mungkin gak begitu 
banyak perubahan. Namun untuk wanita, banyak sekali perubahannya. Kalau 
dulu wanita memakai rok panjang menutupi kaki, maka seiring berjalannya 
waktu maka rok itu makin menyusut naik keatas, mulai dari matakaki, 
betis, lutut, dan paha (semoga saja terus menyusut keatas tanpa batas 
he..he..he..).

Meski untungnya sekarang jamannya alternatif, untuk penyakit ada 
pengobatan alternatif, untuk mudik ada jalur alternatif, nah fashion 
juga ada fashion alternatif. Selain jalur utama yang menyusut-menyusut 
itu, sekarang mulai merebak fashion yang kebalikannya. Ada tank top ada 
blazer, ada mini skirt, ada gamis, dan banyak lagi pilihan.

Nah yang jadi pertanyaan adalah, mengapa orang-orang memilih 'gaya' yang 
lagi tren, meski secara akal sehat, agak gimanaa gitu. Apa seperti kisah 
sarung diatas ya, biar mereknya yang "Al-Mahal" dilihat orang? Kalau 
begitu apa wanita yang memakai celana pendek atau baju cowak yang 
kelihatan belahan dada dan lubang pusar plus renda CD nongol, juga 
begitu, biar 'milik-miliknya' kelihatan :) maaf maaf, mungkin itu contoh 
yang terlalu ekstrim kali ya, meski bukan nggak ada dandanan yang kayak 
begitu.

Apakah hukum kepatutan sekarang berada di tangan para designer dan trend 
setter mode. Kalau para desainer dan trendsetter bilang, rok mini plus 
tank top ditutup blazer elegan buat wanita karir, maka seluruh dunia 
teriak sama, rok mini patut bagi wanita karir. Kalau para desainer trend 
setter bilang, celana pendek itu keren, rame-rame mulai ABG sampe 
nenek-nenek pake celana pendek.

Gimana ya kalau para desainer trend setter bilang, Bikini dan G-String 
adalah busana elegan wanita aktif dan dinamis.
.
.
.
.
.

Tren harus diikuti dong ...plis deh ...

-- 
R. Irpan Rispadi Raksagalaksibimasakti Nupalingningrat, teureuh Planet Krypton



------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke