KANG NANO S TILAR DUNYA....................WENGI IEU TBH 24

2010/9/22 mh <[email protected]>

>
>
> beunang nyalin tina blogna kang denny yanuar
>
> ===========
> Karinding, Alat Musik Karuhun Nan Unik
> by Denny Yanuar <http://www.facebook.com/profile.php?id=1256932396> on
> Tuesday, September 21, 2010 at 11:09pm
>
> BILA dilihat dari segi popularitasnya, mungkin hanya sedikit dari kita yang
> mengenal keberadaan alat musik karinding. Padahal, alat musik ini diprediksi
> sebagai salah satu jenis instrumen tertua yang merupakan warisan dari
> peradaban kuno.
>
> Tempaan perjalanan sejarah yang sangat panjang tersebut temyata tidak
> menjadikan eksistensinya makin dikenal masyarakat Terlebih, alat musik
> karinding sempat dianggap musik komunis, karena kerap dimainkan anggota
> Lekra, lembaga kebudayaan yang diprediksi bentukan Partai Komunis Indonesia
> (PKT). Akibatnya, pada masa Orde Baru popularitas alat musik ini makin
> tenggelam dan dilarang dimainkan.
>
> "Terlepas dari masalah politik itu, mungkin generasi sebelum kita juga
> tidak berani mengeksplorasi alat musik karinding," kata Man Jasad (32),
> salah seorang seniman Sunda yang mencoba mengangkat kembali popularitas alat
> musik tersebut, saat ditemui di Common Room, Kamis (24/6).Bentuk dari alat
> musik ini cukup sederhana. Ukuran standar karinding hanya sepanjang sekitar
> 10 sentimeter dengan lebar 2 sentimeter. Semula alatmusik ini dibuat dari
> pelepah kawung. Namun, karena sulitnya menemukan pelepah kawung, saat ini
> para seniman memodifikasi pembuatan alat musik karinding menggunakan bahan
> baku dari batang bambu.
>
> Menurut Man, untuk memainkan alat musik ini cukup mudah. Karinding
> dimainkan dengan cara ditempelkan di mulut, lalu ditabuh (dipukul) salah
> satu ujungnya dengan menggunakan telunjuk. Getaran antara karinding dan
> mulut tersebutlah yang dapat menghasilkan irama yang unik dan menarik.Alat
> musik karinding dapatdipadukan dengan berbagai jenis alat musik lain,
> seperti lem-pung, suling, toleat, bahkan koto (alat musik Jepang). Tidak
> hanya itu, dari beberapa eksplorasi yang pernah dilakukan, terbukti pula
> bahwa karinding dapat dikolaborasikan dengan beberapa band modern, seperti
> dengan grup band Burger Kill, beberapa waktu yang lalu.
>
> Lebih lanjut Man mengatakan, banyak alat musik yang hampir serupa dengan
> karinding di daerah lain, seperti genggong di Bali, rinding di Jawa Tengah
> bahkan dari luar negeri seperti alat musik jeusharp dari Tibet. "Akan
> tetapi, belum adasejarah tertulis dari naskah kuno yang saya temukan. Hanya
> berupa cerita lisan dari beberapa orang tua," ucapnya.
>
> Perlu pengembangan
>
> Untuk dapat memopulerkan kembali alat musik karinding di tengah derasnya
> arus globalisasi bukanlah suatu perkara yang mudah. Pasalnya, hingga saat
> ini apresiasi masyarakat terhadap perkembangan seni dan budaya masih sangat
> minim, terlebih pada seni tradisional.
>
> Untuk menyiasatinya, sejak 2008, Man Jasad bersama beberapa rekan seniman
> lainnya mencoba mengembangkan alat musik karinding ini sesuai dengan kondisi
> zaman. "Buat pengembangannya, yang terpenting adalah pengemasan komposisi
> musik agar bisa diterima oleh anak muda zaman sekarang. Jadi, intinya
> dikemas dengan gaya kekinian, dari mulai penyajian sampai performanya,"
> tuturnya.Pengembangan musik karin- ding tersebut temyata cukup membuahkan
> hasil.
>
> Hingga saat ini, telah banyak terbentuk grup karinding di berbagai tempat.
> Di Cicalengka misalnya, terdapat grup Markipat Karinding yang memainkan alat
> musik tersebut dengan menggunakan gaya vokal khas aliran death metal. Selain
> itu, dalam beberapa pergelaran seni juga kerap ditemukan pemaduan karinding
> dalam pembacaan puisi.Tidak hanya terbatas sampai disitu. Bila kita
> perhatikan, di beberapa pertunjukan musik metal maupun underground di Kota
> Bandung, saat ini tidak jarang diselipkan unsur budaya tradisional di
> sela-sela acaranya. "Kebetulan saya sendiri sudah belasan tahun berkecimpung
> di dunia musik metal. Jadi target utama saya awalnya kepada anak muda yang
> suka musik metal," ucap Man.
>
> Walaupun perkembangan alat musik karinding saat ini mulai diterima oleh
> kalangan muda, Man mengaku sempat menuai kritik dari beberapa kokolot
> (senior) seni Sunda, karena cara penyajiannya dianggap tidak sesuai dengan
> tradisi lama. "Akan tetapi, menurut saya pribadi, budaya itu merupakan suatu
> produk manusia. Jadi, sah-sah saja untuk mengembangkannya sesuai dengan
> kondisi kekinian. Lagi pula kita belum punya referensi berupa audio yang
> sudah baku," kata Man. "Sekarang mah, yang paling penting bagaimana caranya
> agar tradisi kita bisa berkontribusi aktif di Jawa Barat khususnya, umumnya
> di Indonesia dan lebih jauh lagi secara global," katanya. (Albian-syah)
>
>
>
> Tiba-tiba sebilah kecil bambu itu menyerang berbagai daerah di Jawa Barat;
> hampir seperti simsalabim mewujud jadi tema popular obrolan di kalangan
> anak-anak muda, masuk ke dalam diskusi-diskusi seni dan budaya, ikut hadir
> dalam perhelatan musik modern, bahkan kerap tertulis dalam status para
> facebookers dan posting banyak blogger. Kedatangannya cukup mencengangkan,
> dan tentu saja: tak terduga. Tak terduga, karena sebilah bambu itu sama
> sekali bukan produk temuan kontemporer, melainkan tercipta dari suatu waktu
> yang konon terbentang 6 abad dari masa ini, bahkan telah dinyatakan punah.
> Sebilah bambu yang memproduksi bunyi dari vibra salah satu komponennya itu
> bernama: karinding. Jika benar karinding telah punah atau mati, maka dapat
> dipastikan kini hantunya bergentayangan liar di hampir tiap sudut tempat.
> *Sejarah Karinding *
>
>
>
> Awalnya karinding adalah alat yang digunakan oleh para karuhun untuk
> mengusir hama di sawah—bunyinya yang low decible sangat merusak konsentrasi
> hama. Karena ia mengeluarkan bunyi tertentu, maka disebutlah ia sebagai alat
> musik. Bukan hanya digunakan untuk kepentingan bersawah, para karuhun
> memainkan karinding ini dalam ritual atau upaca adat. Maka tak heran jika
> sekarang pun karinding masih digunakan sebagai pengiring pembacaan rajah.
> Bahkan, konon, karinding ini digunakan oleh para kaum lelaki untuk merayu
> atau memikat hati wanita yang disukai. Jika keterangan ini benar maka dapat
> kita duga bahwa karinding, pada saat itu, adalah alat musik yang popular di
> kalangan anak muda hingga para gadis pun akan memberi nilai lebih pada
> jejaka yang piawai memainkannya. Mungkin keberadaannya saat ini seperti
> gitar, piano, dan alat-alat musik modern-popular saat ini.
>
>
>
> Beberapa sumber menyatakan bahwa karinding telah ada bahkan sebelum adanya
> kecapi. Jika kecapi telah berusia sekira lima ratus tahunan maka karinding
> diperkirakan telah ada sejak enam abad yang lampau. Dan ternyata karinding
> pun bukan hanya ada di Jawa Barat atau priangan saja, melainkan dimiliki
> berbagai suku atau daerah di tanah air, bahkan berbagai suku di bangsa lain
> pun memiliki alat musik ini--hanya berbeda namanya saja. Di Bali bernama
> genggong, Jawa Tengah menamainya rinding, karimbi di Kalimantan, dan
> beberapa tempat di “luar” menamainya dengan zuesharp ( harpanya dewa Zues).
> Dan istilah musik modern biasa menyebut karinding ini dengan sebutan harpa
> mulut (mouth harp). Dari sisi produksi suara pun tak jauh berbeda, hanya
> cara memainkannya saja yang sedikit berlainan; ada yang di trim (di getarkan
> dengan di sentir), di tap ( dipukul), dan ada pula yang di tarik dengan
> menggunakan benang. Sedangkan karinding yang di temui di tataran Sunda
> dimainkan dengan cara di tap atau dipukul.
>
>
>
> Material yang digunakan untuk membuat karinding (di wilayah Jawa Barat),
> ada dua jenis: pelepah kawung dan bambu. Jenis bahan dan jenis disain bentuk
> karinding ini menunjukan perbedaan usia, tempat, dan sebagai perbedaan
> gender pemakai. Semisal bahan bambu yang lebih menyerupai susuk sanggul, ini
> untuk perempuan, karena konon ibu-ibu menyimpannya dengan di tancapkan
> disanggul. Sedang yang laki-laki menggunakan pelapah kawung dengan ukuran
> lebih pendek, karena biasa disimpan di tempat mereka menyimpan tembakau.
> Tetapi juga sebagai perbedaan tempat dimana dibuatnya, seperti di wilayah
> priangan timur, karinding lebih banyak menggunakan bahan bambu karena bahan
> ini menjadi bagian dari kehidupannya.[1]
>
>
>
> Karinding umumnya berukuran: panjang 10 cm dan lebar 2 cm. Namun ukuran ini
> tak berlaku mutlak; tergantung selera dari pengguna dan pembuatnya—karena
> ukuran ini sedikit banyak akan berpengaruh terhadap bunyi yang diproduksi.
>
>
>
> Karinding terbagi menjadi tiga ruas: ruas pertama menjadi tempat mengetuk
> karinding dan menimbulkan getaran di ruas tengah. Di ruas tengah ada bagian
> bambu yang dipotong hingga bergetar saat karinding diketuk dengan jari. Dan
> ruas ke tiga (paling kiri) berfungsi sebagai pegangan.
>
>
>
> Cara memainkan karinding cukup sederhana, yaitu dengan menempelkan ruas
> tengah karinding di depan mulut yang agak terbuka, lalu memukul atau
> menyentir ujung ruas paling kanan karinding dengan satu jari hingga “jarum”
> karinding pun bergetar secara intens. Dari getar atau vibra “jarum” itulah
> dihasilkan suara yang nanti diresonansi oleh mulut. Suara yang dikeluarkan
> akan tergantung dari rongga mulut, nafas, dan lidah. Secara
> konvensional—menurut penuturan Abah Olot--nada atau pirigan dalam memainkan
> karinding ada empat jenis, yaitu: tonggeret, gogondangan, rereogan, dan
> iring-iringan.
>
>
>
> *Karinding Hari Ini *
>
>
>
> Satu hal yang menarik dan patut kita cermati dalam melihat fenomena
> kembalinya karinding secara masif di tengah masyarakat ini adalah bahwa
> ternyata “kelahiran” kembali karinding ini tidak bermula di daerah-daerah
> pedesaan yang masih bercorak tradiosional—yang biasanya masih memelihara
> tradisi dan karuhun secara agak ketat. Namun karinding justru kembali hidup
> dan popular di perkotaan, di kalangan masyarakat urban--juga generasi
> muda--yang kultur sosialnya telah sangat modern, dalam arti telah melepaskan
> sebagian besar tradisi karuhun dari kehidupan pribadi dan sosialnya.
>
>
>
> Sebagian ada yang menilai, seraya berbangga hati melihat fenomena ini. Bagi
> mereka ini menunjukkan suatu kebangkitan budaya lokal. Karinding yang
> merupakan seni buhun sanggup eksis dan bersaing dengan alat musik modern
> yang cenderung berbau barat.
>
>
>
> Kita tahu bahwa modernitas kerap mengeliminir unsur lokalitas hingga
> membuat manusia terjebak dalam alienasi atau keterasingan dari akar
> sejarahnya sendiri hingga membawa manusia—juga secara kolektif:
> masyarakat--pada masa-masa frustasi (frustasi sosial). Dalam waktu lama
> frustasi yang berjalin serasi dengan rasa inferioritas di hadapan hegemoni
> modern yang digjaya dan seperti tak mungkin dikalahkan ini menumbuhkan
> perasaan “heroik” (atau ketakutan yang akut?) untuk kembali merebut jati
> diri yang merasa telah dirampas oleh modernitas. Heroisme (atau ketakutan?)
> inilah yang menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk kembali masuk dan
> menghubungkan diri secara lebih mendalam dengan akar budayanya sendiri
> (fundamentalisme). Kemuculan kembali karinding sebagai alat musik buhun yang
> telah ada enam ratusan tahunan yang lalu merupakan bentuk dari keinginan
> sebagian masyarakat urban (sebagai korban utama dari modernitas) untuk
> kembali terhubung dengan sejarahnya sendiri dan dengan itu kembali
> meneguhkan identitasnya seraya melawan dari gempuran modernitas yang begitu
> hegemonik. Maka dengan karinding mereka lawan hegemoni itu.
>
>
>
> Namun ada juga yang “biasa saja” bahkan cenderung pesimis dengan
> kebangkitan karinding ini. Mereka sama sekali tidak melihat fenomena ini
> sebagai kebangkitan seni dan budaya lokal dalam kehidupan kontemporer.
> Masyarakat urban dan generasi muda sebagai tempat awal kelahirannya kembali
> telah cukup bukti untuk menarik kesimpulan bahwa fenomena karinding ini
> masih termasuk dalam fenomena modernitas. Yang baru, yang berbeda, yang
> tidak nge-pop kerap menjadi prasyarat untuk seseorang atau komunitas
> mendapat predikat modern. Maka, memainkan karinding saat ini adalah bentuk
> modernitas; sekali lagi karena ia dianggap baru dan berbeda.
>
>
>
> Dan juga fakta bahwa banyak dari kalangan generasi muda yang memainkannya
> dengan irama atau beat-beat kontemporer, lepas dari pakem karuhun, juga
> mengkolaborasikannya dengan alat-alat musik modern lainnya.
>
>
>
> Karena karinding hanyalah fenomena modernitas dan karena itu bersifat
> temporer, maka karinding pun akan cepat dilupakan jika keberadaannya di
> tengah masyarakat telah mengalami bentuk kemapanan tertentu, atau telah
> tergeser oleh sesuatu yang lain, yang lebih baru.
>
>
>
> Maka akhirnya semua kembali pada kita. Apakah kita akan memperlakukan
> karinding ini sebagai warisan karuhun yang sakral dan wajib dimumule,
> ataukah akan memperlakukannya hanya secara profan dan sekadar alat musik
> biasa? Jika kita menyikapinya dengan sikap yang pertama berarti kita harus
> menjaga orisinalitas dan tetekon-tetekon atau pakem yang terdapat di
> dalamnya. Menjaganya untuk tetap lestari menjadi beban moril mendalam bagi
> diri kita. Namun bila kita memilih sikap yang kedua maka berinovasilah
> sebebas mungkin, bila perlu berkresasilah yang benar-benar baru, seperti
> para karuhun dahulu menciptakan karinding. Itu semua pilihan.
>
> <http://www.facebook.com/photo.php?pid=30935873&fbid=1397445256954&op=1&view=all&subj=149502911757360&aid=-1&auser=0&oid=149502911757360&id=1256932396>
> <http://www.facebook.com/photo.php?pid=30935874&fbid=1397446056974&op=1&view=all&subj=149502911757360&aid=-1&auser=0&oid=149502911757360&id=1256932396>
>
>
> http://www.facebook.com/notes/denny-yanuar/karinding-alat-musik-karuhun-nan-unik/149502911757360
>
>  
>

Kirim email ke