hehehe, bah oca, jigana mah ambu ukur negeskeun
anapon uing ukur neruskeun seratan ambu.

2010/9/29 Roza R. Mintaredja <[email protected]>

>
>
> mang h miwah ambu, memangna aya info anu ngaku-ngaku pengguar kalasunda
> salian ti bah ali?
> wah, bisa jadi preseden goreng tah, tapi asa teu acan kadangu ku uin mah.
> alm bah ali dua taun katukang meunang penghargaan budaya ti gub jawabarat.
> aya wawaran riskan, anu neraskeun nyitak saatos uin, mung saurang nyeta lsm
> lentera jaman. mudah2an taun ieu aya sababaraha lsm anu bade nyitak dina
> pabaru sunda anu waktuna; senen, ping 15 november 2010.atw ping 1 soma,
> wage, parocaang sasih kartika 1947 candrakala sunda, hn*0catea
>
>
> 2010/8/27 mh <[email protected]>
>
>>
>>
>>
>> Penanggalan Sunda dan Revisi Sejarah (hasil kerja keras ALI SASTRAMIJAYA)
>> bukan yang lain
>> by Richadiana 
>> Kartakusuma<http://www.facebook.com/profile.php?id=1537983874>on Friday, 
>> August 27, 2010 at 7:36pm
>>
>> *Penanggalan Sunda dan Revisi Sejarah (hasil kerja keras ALI
>> SASTRAMIJAYA) - bukan yang lain *
>>
>>
>>
>> LEBIH kurang 500 tahun, sistem penanggalan Sunda tak lagi akrab dengan
>> masyarakatnya. Padahal, praktik “hitung-menghitung hari baik” hingga kini
>> tetap dilakukan orang-orang Sunda yang “pandai”. Malah, orang Sunda sendiri
>> –meski tak semuanya– merasa belum afdal jika hajat mereka (seperti
>> pernikahan, membangun rumah, dan sebagainya) tak “dihitung” terlebih dahulu.
>>
>>
>>
>> Ternyata, proses “hitung-menghitung” itu bukan berdasarkan sistem
>> penanggalan Sunda, melainkan sistem penanggalan Jawa hasil pengaruh dari
>> sistem penanggalan India. Soalnya, itu tadi, sistem penanggalan Sunda tak
>> lagi akrab pada masyarakatnya sejak kurang lebih 500 silam.
>>
>>
>>
>> Selasa (18/1) malam, Yayasan Candra Sangkala menerbitkan kalender Sunda
>> untuk pertama kalinya. Kegiatan yang berlangsung di Pendopo Kota Bandung,
>> Jalan Dalem Kaum itu ternyata bertepatan dengan tahun baru Sunda. Ya,
>> Tanggal 18 Januari 2005 bertepatan dengan tanggal 01 Suklapaksa (parocaang)
>> bulan Kartika tahun 1941 Caka Sunda.
>>
>>
>>
>> Penerbitan kalender Sunda itu sebagai hasil kerja keras seorang putra
>> Bandung, Ali Sastramidjaja (70). Pria yang sempat belajar teknik di Negeri
>> Belanda itu, selama 9 tahun meneliti sistem penanggalan Sunda. Bahkan,
>> kabarnya, dalam kurun waktu tersebut, pria kelahiran 27 Oktober 1935 itu
>> telah “menghabiskan” 9 unit komputer.
>>
>>
>>
>> Bagaimana implikasi dari penelitian itu? Penelitian itu antara lain bisa
>> berdampak pada perubahan tahun yang menandai peristiwa sejarah yang terkait
>> dengan manusia Sunda. Pasalnya, kata penyusun naskah Sunda Kalangider
>> (terdiri dari sembilan jilid dan memuat lima penanggalan Caka, Masehi, Caka
>> Sunda, dan Caka Jawa) ini, tahun-tahun peristiwa sejarah Sunda telah
>> dipersepsi secara salah.
>>
>> “Tahun-tahun yang termuat dalam prasasti maupun artefak itu selalu
>> dipersepsi sebagai tahun Saka India karena merunut pada pengaruh Hindu.
>> Sehingga kalau dialihkan menjadi tahun Masehi tinggal ditambah 78 tahun saja
>> (1 Saka:78 Masehi),” urai pria berjanggut lebat yang namanya tercantum dalam
>> Ensiklopedi Sunda yang disusun Ajip Rosidi.
>>
>>
>>
>> Hal ini, lanjutnya, tak lepas dari pengaruh budaya Mataram Jawa yang juga
>> memasukkan sistem penanggalannya. “Sistem penanggalan Jawa Mataram itu
>> disebut kala pranata mangsa yang jauh berbeda dengan sistem Sunda. Kalender
>> Mataram Jawa mencampurkan sistem Caka Sunda, Saka Sunda, dan Hijriah.”
>>
>>
>>
>> Kelahiran kalender sistem ini dilakukan oleh Sultan Agung Mataram pada
>> 1633 Masehi. “Lagipula dari bukti tertulis, pada saat diberlakukan seiring
>> pendirian Kerajaan Mataram, sistem ini tidak diawali dengan tahun ke-1 tapi
>> langsung 1555. Kalau dihitung lagi, usianya tidak lebih dari 400 tahun,”
>> tuturnya.
>>
>>
>>
>> Bagaimana jelasnya, berikut petikan wawancara Pikiran Rakyat dengan Abah
>> Ali –panggilan akrab Ali Sastramidjaja– pencipta kecapi 3 surupan dan
>> waditra 10 nada ini.
>>
>>
>>
>> Bagaimana awalnya sehingga Abah tertarik untuk meneliti sistem penanggalan
>> Sunda?
>>
>> Ketertarikan itu muncul setelah saya menyaksikan adanya ketidakkonsistenan
>> pada semua sistem penanggalan, baik Jawa maupun Hijriah. Salah satu kasus
>> yang semakin mendorong semangat saya adalah sering terjadinya perbedaan awal
>> puasa dan hari raya.
>>
>>
>>
>> *Sebenarnya Abah sudah punya “bekal” untuk penelitian?*
>>
>> Sebenarnya, pada tahun 1950-an, kakek saya bercerita banyak soal sistem
>> penanggalan Sunda. Akan tetapi, dulu, perhatian banyak orang –termasuk saya–
>> tidak tertuju ke sana karena dipandang tidak “menguntungkan”. Sebetulnya,
>> saya sedikit menyesal karena dulu tak menyerap ilmu dari kakek. Satu hal
>> yang sampai kini masih saya ingat adalah sistem penanggalan Sunda mengenal
>> dua kala saka, yaitu Kala Saka Surya (sistem penanggalan yang berdasar
>> kepada peredaran matahari) dan Kala Saka Candra (sistem penanggalan yang
>> berdasar kepada peredaran bulan). Itu saja yang sebenarnya saya jadikan
>> bekal.
>>
>> *Lantas?*
>>
>> Selanjutnya, saya kumpulkan berbagai data dan literatur yang berkaitan
>> dengan sistem penanggalan untuk dijadikan referensi. Saya juga mempelajari
>> sistem-sistem penanggalan lainnya, seperti Masehi, Hijriyah, Jawa, India,
>> dan sebagainya. Selain itu, saya juga mengumpulkan dokumentasi yang dianggap
>> “saksi sejarah” sistem penanggalan Sunda. Sayangnya, dari sejumlah
>> dokumentasi yang saya pelajari, hanya 2 data sahih yang benar-benar
>> menggunakan sistem penanggalan Sunda. Pertama, prasasti Citatah di Cibadak
>> Sukabumi atau terkenal dengan Sanghyang Tapak dari abad ke-11 Masehi. Kedua,
>> catatan dari kakek saya dari abad ke-20 Masehi di Sukabumi.
>>
>> *Persisnya, kapan Abah memulai penelitian?*
>>
>> Penelitian saya mulai sekira tahun 1983. Waktu itu, hasil penelitian belum
>> sekompleks sekarang, masih terbatas kalender Sunda dengan sistem lunar
>> (bulan) dan solar (matahari). Kendati begitu, pada tahun 1991, hasil
>> penelitian itu dipatenkan. Selanjutnya, dari hasil penelitian itu saya
>> menemukan kesimpulan bahwa sebenarnya kalender Sunda menggabungkan dua
>> sistem tersebut atau biasa disebut dual-system. Satu keistimewaan lainnya,
>> saya meyakini bahwa kalender sistem Sunda yang paling akurat dibandingkan
>> sistem penanggalan lainnya. Apalagi, sistem ini belum pernah dikoreksi. Saya
>> sudah melakukan studi komprehensif bahkan memperbandingkannya dengan
>> penanggalan sistem Julian, Gregorius, dan Islam.
>>
>>
>>
>> *Apa yang Abah dapatkan setelah meneliti?*
>>
>> Saya menganggap bahwa selama ini telah terjadi subordinasi budaya Sunda
>> dalam penentuan tarikh peristiwa sejarah yang terkait dengan manusia Sunda.
>> Penerbitan Kala Sunda ini setidaknya bisa menjadi panggeuing Ki Sunda pada
>> saat ini untuk kembali bangkit dan tidak lagi menjadi subordinat pelaku
>> budaya lain. Hal pertama, kita gugat kesalahan penentuan tahun dalam sejarah
>> Sunda selama ini.
>>
>>
>>
>> *Maksudnya?*
>>
>> Iya, tahun-tahun peristiwa sejarah Sunda telah dipersepsi secara salah.
>> Intinya begini, tahun-tahun yang termuat dalam prasasti-prasasti maupun
>> artefak-artefak selalu dipersepsi sebagai tahun Saka India karena merunut
>> kepada pengaruh Hindu. Dengan demikian, untuk mengetahui tahun Masehinya,
>> cukup ditambah 78 tahun saja. (1 Saka=78 Masehi).
>>
>>
>>
>> *Menurut Abah, bagaimana hal itu bisa terjadi?*
>>
>> Tentu saja, hal itu tak lepas dari pengaruh budaya Mataram Jawa. Padahal,
>> sistem penanggalan Jawa Mataram disebut kala pranata mangsa yang tentu saja
>> jauh berbeda dengan sistem Sunda. Kelahiran kalender sistem tersebut
>> dilakukan oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo sekira tahun 1633 Masehi. Dari
>> bukti tertulis, sistem itu tidak diawali dengan tahun ke-1 tapi 1555. Kalau
>> dihitung lagi, usianya tidak lebih dari 400 tahun.
>>
>>
>>
>> *Bisa Abah contohkan?*
>>
>> Contoh yang paling gampang adalah tanggal berdirinya Kota Bogor.
>> Berdasarkan perkataan Prabu Terusbawa, Bogor berdiri pada Radite Pon, 09
>> Suklapaksa, bulan Yista (08), taun 591 Caka Sunda (= 31 Oktober 695 Masehi
>> Julian). Padahal, HU Pikiran Rakyat memberitakan bahwa tanggal 3 Juni
>> merupakan Hari Jadi Bogor ke-519. Menurut Saleh Danasasmita, berdirinya
>> Kerajaan Padjadjaran pada 12 Suklapaksa, bulan Sitra (6), taun 1404 Caka
>> Sunda (= 13 Maret – 11 April 1428 M Julian). Padahal, berdasarkan
>> perhitungannya, tanggal itu bertepatan dengan 14 Juni 1484 Masehi Julian.
>>
>>
>>
>> *Jadi, sebelum Islam masuk ke nusantara, sebenarnya sistem penanggalan
>> Sundalah yang digunakan, bukan Jawa apalagi India?*
>>
>> Tepat. Jadi begini, sebelum Islam masuk ke Jawa, catatan sejarah Indonesia
>> yang memakai angka tahun pastilah menggunakan Caka Sunda. Soalnya, dahulu,
>> sistem penanggalan Sunda merupakan satu-satunya sistem yang digunakan dalam
>> mencatatkan peristiwa sejarah kita. Nah, oleh ahli sejarah, sistem
>> penanggalan Sunda dianggap sama dengan sistem penanggalan India. Makanya,
>> untuk mengetahui tahun Masehi, cukup ditambah 78 tahun. Di sinilah letak
>> kesalahannya. Padahal, sistem penanggalan Sunda merupakan Kala Candra, bukan
>> Surya. Buktinya, sistem ini mengenal istilah Suklapaksa (paro caang bulan)
>> dan Kresnapaksa (paro poek bulan).
>>
>>
>>
>> *Bisa dijelaskan secara rinci, bagaimana sebenarnya sistem penanggalan
>> Sunda?*
>>
>> Sistem penanggalan Sunda mengenal dua macam tahun, yakni Tahun Surya dan
>> Tahun Candra. Masing-masing tahun juga mengenal tahun pendek (Surya 365
>> hari; Candra 354 hari) dan tahun panjang (Surya 366 hari; Candra 355 hari).
>> Kala Surya Saka Sunda (Tahun Surya) mengenal aturan, “tiga tahun pendek,
>> keempatnya tahun panjang. Akan tetapi, setiap tahun yang habis dibagi 128,
>> dijadikan tahun pendek. Akhir tahun Surya adalah ketika matahari berada di
>> titik paling selatan”.
>>
>>
>>
>> Kala Candra Caka Sunda (Tahun Candra) punya aturan bahwa “dalam sewindu (8
>> tahun), tahun ke-2, ke-5, dan ke-8 adalah tahun panjang, sisanya tahun
>> pendek. Setiap tahun ke-120 dijadikan tahun pendek. Setiap tahun yang habis
>> dibagi 2.400 dijadikan tahun panjang”. Kala Candra (yang dipakai dalam
>> sistem penanggalan Sunda) memiliki keistimewaan tersendiri, yakni “ciples”.
>> Artinya, jika awal windu (biasa disebut indung poe) Senen Manis, maka
>> akhirnya adalah Ahad Kaliwon. Keistimewaan lainnya, indung poe baru berganti
>> setelah 120 tahun, mulai dari Senen Manis, Ahad Kaliwon, Saptu Wage, Jumaah
>> Pon, Kemis Pahing, Rebo Manis, Salasa Kaliwon, hingga terakhir Rebo Pahing.
>> Jika dihitung, “kejadian” itu berlangsung dalam waktu 84.000 tahun. Artinya,
>> pada tahun ke-84.001, indung poe kembali kepada Senen Manis. Dalam
>> perjalanan 84.000 tahun itu, sistem penanggalan Sunda juga mengenal “Dewa
>> Taun”, yakni hari pertama dan terakhir setiap kurun waktu 2.400 tahun.
>>
>>
>>
>> *Lantas, bagaimana dengan ketepatannya?*
>>
>> Ternyata, ketepatan Kala Candra Caka Sunda dapat diuji secara ilmiah.
>> Hitungannya begini, dalam sewindu (8 tahun), sistem penanggalan Sunda
>> mengenal 5 tahun pendek dan 3 tahun panjang. Dengan demikian, hitungannya
>> menjadi (5 x 354) + (3 x 355) sama dengan 2.835 hari per windu. Selanjutnya
>> 120 tahun sama dengan 15 windu. Dengan demikian, [(2..835 x 15)-1] sama
>> dengan 42524 hari per 120 tahun.
>>
>>
>>
>> Perolehan angka tersebut dibandingkan dengan perhitungan secara ilmiah.
>> Berdasarkan ilmu astronomi, perhitungan jumlah hari dalam 120 tahun adalah
>> 12 x 29,53059 x 120 sama dengan 4.2524,0496. Artinya, terdapat selisih
>> 0,0496 hari dalam 120 tahun atau 0,0004133 hari per tahun.
>>
>>
>>
>> Jika dikalikan 2.420, angka selisih tersebut sama dengan 1. Itu berarti,
>> dalam kurun waktu 2.420 tahun, terjadi selisih 1 hari. Untuk mempertahankan
>> aturan yang baku, saya tidak menambah 1 hari setiap 2.420 tahun, tetapi
>> 2.400. Jadi, hitungannya begini: Pada 2400 tahun pertama, 0,0004133 x 2.400
>> sama dengan 0,99192 hari per 2.400 tahun. Lantaran dibulatkan menjadi 1
>> hari, maka terdapat kelebihan 0,00808 hari per 2.400 tahun. Selanjutnya,
>> pada 2.400 tahun kedua, (0,0004133 x 2.400) + 0,00808 sama dengan 1 hari per
>> 2.400 tahun (kedua). Kesimpulannya, setiap 2.400 kedua, angka selisih itu
>> menjadi “ciples” 1. Soalnya, dalam aturannya, sistem penanggalan Sunda
>> menetapkan setiap tahun ke-2.400 sebagai tahun panjang. Artinya, selisih 1
>> hari antara perhitungan Sunda dan Astronomi tak lagi terjadi (lunas). Untuk
>> 2.400 tahun seterusnya, sistem penghitungan kembali ke awal.
>>
>>
>>
>> *Lalu, apa yang harus dilakukan?*
>>
>> Ya, jadi sebenarnya buku-buku sejarah kita perlu diperbaiki. Soalnya, itu
>> tadi, sudah terjadi kesalahan memindahkan tahun dari Caka Sunda menjadi
>> Masehi. Kalau tidak diperbaiki, artinya kita tetap bertahan pada keadaan
>> yang sebenarnya salah. Demikian juga bagi sebagian masyarakat kita yang suka
>> “menghitung” menggunakan primbon. Jika tertera di sana “menggunakan Kala
>> Sunda”, itu berarti yang digunakan Kala Mataram. Kalau “menggunakan Kala
>> Jawa”, itu berarti yang digunakan adalah Kala Mataram yang sudah diubah.
>>
>>
>>
>> disarikan oleh Richadiana Kadarisman Kartakusuma dari Tulisan :
>> Hazmirullah
>>
>> Sumber:*
>> http://artshangkala.wordpress.com/2009/09/02/kalender-sunda-dan-revisi-sejarah/
>> *
>>
>> *
>> http://www.facebook.com/note.php?note_id=425670844474&ref=notif&notif_t=note_tag
>> <http://artshangkala.wordpress.com/2009/09/02/kalender-sunda-dan-revisi-sejarah/>
>> *
>>
>>
>>
>>
>  
>

Kirim email ke