kumaha sareng pernyataan kieu
Islam hiji budaya 
arab oge boga budaya, budaya islam beda jeung budaya Arab, buktina arab rea oge 
anu teu narima Islam
Tambihan : kadang anu berbau arab disebatna budaya islam...padahalmah injil, 
taurat oge seueur anu nganggo bahasa arab.
Tah ayeuna budaya islam jeung sunda sami henteu atawa beririsan atawa 
bagiannana?kumaha?




________________________________
From: Roza R. Mintaredja <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Thu, September 30, 2010 11:53:11 PM
Subject: Re: Trs: [kisunda] Agama - Antara PERSIS jeung Budaya?

  
persis pisan kang ahmad eta kamandang teh.
memang mun urang kudu milah milah budaya nusantara mana anu cocok jeung budaya 
arab
pasti teu hese, komo sabari dibarung ku dalil, jadi dianggap soheh ti dituna 
teh, ti gustina
budaya jeung agama misah kitu? beu
budaya arab/timur tengah nya agama arab, rek yahudi, nasoro, islam
dina jero budaya teh, aya unsur kapercayaan ka gusti
malah religi teh sabenerna mangrupa platform budaya.
jadi moal beak2 ngawacana keun dua kutub budaya anu anomali pisan
budaya padang pasir anu gersang, jeung budaya hejo lembokna curcor caina.
sabab ulinna dina cangkang sare'at
lain dina eusi hakekat komo kana ma'rifatna
persis hartina persis ti ditu nyokotna. alias copy paste
lolobana umat islam ulin dina sare'at, 
numatak bisa gampang kajebak ku papaseaan.
jadi kudu bisa akulturasi keur adopsi budaya teh, atawa adumanis tea
hn*0catea


2010/9/17 Ahmad Sahidin <[email protected]>

  
>
>
>
>>sok atuh geura buktikeun, geuning tradisi nu islami sapertos tahlilan sok 
>>dicaram...
>>kumaha ieu teh Persis?
>>
>>www.ahmadsahidin.wordpress.com
>>
>>--- Pada Kam, 16/9/10, mh <[email protected]> menulis:
>>
>>
>>>Dari: mh <[email protected]>
>>>Judul: [kisunda] Agama - Antara PERSIS jeung Budaya?
>>>Kepada: "Ki Sunda"  <[email protected]>
>>>Tanggal: Kamis, 16 September, 2010, 9:56 PM
>>>
>>>
>>>
>>>  
>>>Persis juga Memperhatikan Budaya Lokal
>>>
>>> 
>>>FOTO dari kanan, Staf Ahli Mensesneg Prof. Dr. H.  Dadan Wildan Anas, Ketua 
>>>Umum 
>>>Persis H. Maman Abdurrahman, pengamat  Islam Yudi Latif, Rektor Unpad Prof. 
>>>Dr. 
>>>Ganjar Kurnia, Ketua Pelaksana  Muktamar Persis Atif Latifulhayat, dalam 
>>>diskusi 
>>>terbatas di Aula  Redaksi "Pikiran Rakyat", Kamis (16/9).* M. GELORA 
>>>SAPTA/"PR"BANDUNG, (PR).-
>>>Kehadiran Persatuan Islam (Persis) di Indonesia bukan untuk memberantas  
>>>budaya 
>>>lokal. Persis hadir untuk menjaga kemurnian akidah dengan  menempatkan 
>>>budaya 
>>>lokal secara proporsional.
>>>Hal itu dikatakan Ketua Pelaksana Muktamar ke-14  Persis, Atip Latifulhayat 
>>>dalam diskusi terbatas "Persis, Islam, dan  Budaya" yang digelar di Aula 
>>>Redaksi 
>>>Pikiran Rakyat Jln. Soekarno-Hatta  147 Bandung, Kamis (16/9). Menurut dia, 
>>>selama ini sebagian masyarakat  memandang Persis antibudaya. "Hal itu tidak 
>>>sepenuhnya tepat," katanya. 
>>>
>>>Diskusi yang dipandu Redaktur Dalam Negeri "PR", H.  Wakhudin ini juga 
>>>dihadiri 
>>>Pemimpin Redaksi "PR" H. Budhiana, Ketua Umum  Persis H. Maman Abdurrahman, 
>>>Rektor Universitas Padjadjaran Ganjar  Kurnia, pengamat studi Islam dan 
>>>kenegaraan Yudi Latif, dan Staf Ahli  Mensesneg Dadan Wildan.
>>>Atip menuturkan, kesan bahwa Persis kurang ramah  terhadap budaya hanya 
>>>merupakan konsekuensi dari aktivitas Persis yang  cenderung menggunakan 
>>>pendekatan normatif dan tidak kompromistis,  seperti memberantas takhayul, 
>>>bid’ah, dan khurafat. Sementara budaya,  menurut dia, cenderung bersifat 
>>>dinamis. Untuk menengahinya, Persis  melakukan filterisasi terhadap budaya 
>>>yang 
>>>berpotensi mengganggu akidah  Islam. "Filternya adalah akidah dan syariat 
>>>Islam," ujarnya.
>>>Berbeda dengan sejumlah organisasi kemasyarakatan  (ormas) sejenis yang 
>>>mengambil nama organisasinya dari bahasa Arab, Atip  mencontohkan, penamaan 
>>>Persis diambil dari bahasa Indonesia. Persis  juga tidak sepenuhnya 
>>>menyampaikan 
>>>khotbah Jumat dengan bahasa Arab,  tetapi juga disertai dengan bahasa yang 
>>>dimengerti jemaahnya. 
>>>
>>>Bahkan, untuk tingkat lokal, Persis juga memiliki  majalah berbahasa Sunda 
>>>Iber 
>>>yang telah terbit selama tiga puluh tahun.  "Itu bukti bahwa Persis tidak 
>>>antibudaya," tuturnya
>>>Ketua Umum Persis H. Maman Abdurrahman mengatakan,  dalam aktivitasnya, 
>>>Persis 
>>>senantiasa melakukan purifikasi (pemurnian)  Islam dengan mengajak 
>>>masyarakat 
>>>untuk kembali kepada Alquran dan Sunah.  Namun, menurut dia, Persis mencoba 
>>>memberikan pandangan kepada  masyarakat bahwa Islam tidak hanya mengatur 
>>>masalah 
>>>fikih ibadah, tetapi  juga semua sektor kehidupan, termasuk budaya. "Bahkan, 
>>>Islam juga dapat  diterapkan dalam kehidupan sosial dan politik," katanya. 
>>>
>>>Rektor Unpad sekaligus budayawan, Ganjar Kurnia  mengatakan, budaya dan 
>>>kesenian 
>>>lokal seyogianya dapat dijadikan sarana  dakwah sebagaimana juga dilakukan 
>>>Wali 
>>>Sanga. Dia menyebutkan, berdakwah  melalui musik ataupun lagu biasanya lebih 
>>>meninggalkan kesan daripada  ceramah biasa. "Jika dakwah dengan menggunakan 
>>>seni, masyarakat pun akan  lebih mudah menerimanya," kata Ganjar.
>>>Hal senada diungkapkan pengamat studi Islam dan  kenegaraan, Yudi Latif. 
>>>Menurut 
>>>dia, jika beberapa tradisi lokal  dipertahankan, Persis akan lebih 
>>>berpengaruh 
>>>bagi masyarakat. "Persis  ini tidak hanya reformis, tetapi juga modernis, 
>>>yakni 
>>>terbuka terhadap  peradaban baru selama itu tidak bertentangan dengan 
>>>akidah," 
>>>ujarnya.
>>>Sementara menurut Staf Ahli Mensesneg sekaligus Ketua  Dewan Tafkir Persis, 
>>>Dadan Wildan, pada abad ke-21 ini, Persis dituntut  untuk mampu menjembatani 
>>>tiga arus peradaban yang ada saat ini, yakni  Islam, Timur, dan Barat. "Jika 
>>>hanya berkutat di sekitar bid’ah dan  takhayul, sudah bukan zamannya lagi," 
>>>ucapnya. 
>>>
>>>Menurut dia, kini Persis harus mampu menjawab masalah faktual, di antaranya 
>>>ekonomi dan pendidikan berbasis syariah.
>>>Pemimpin Redaksi "PR" H. Budhiana mengatakan,  kegiatan diskusi ini 
>>>diharapkan 
>>>dapat memberikan pemahaman kepada  masyarakat tentang pandangan pergerakan 
>>>Islam 
>>>yang ada di Indonesia,  khususnya yang berpengaruh di Jawa Barat. 
>>>
>>>Muktamar ke-14 Persis akan diselenggarakan pada 25-27  September 2010 di 
>>>enam 
>>>lokasi di Tasikmalaya dan Garut. Muktamar ini  rencananya akan dihadiri 
>>>Presiden 
>>>Susilo Bambang Yudhoyono serta  sejumlah duta besar, antara lain dari 
>>>Amerika, 
>>>Australia, dan Singapura.  Seluruh peserta yang akan hadir pada muktamar 
>>>diperkirakan mencapai  delapan ribu orang.
>>>Agenda muktamar tersebut di antaranya pemilihan Ketua  Umum Persis periode 
>>>2010-2015 dan pembahasan rencana strategis Persis  ke depan. Kandidat ketua 
>>>umum 
>>>yang diusung, yakni Maman Abdurahman, Atip  Latifulhayat, dan Aceng Zakaria. 
>>>(A-192)***
>>>http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=156318
>>>
>>>  
>> 
>

 


      

Kirim email ke