Nuluykeun 

 

ANTON DWISUNU HANUNG NUGRAHANTO: Menolak Sri Mulyani, Menolak
Aburizal Bakrie, Menolak SBY, Menolak Surya Paloh dan Kaum Oligarkis
adalah kewajiban anak-anak muda Indonesia. Anak Muda harus tampil secara
otentik dan tidak bergantung pada modal kaum tua.  Kita harus berani
memulai jaman baru.  - dikutip lengkap dari milis -

 MENGAPA KITA HARUS MENOLAK SRI MULYANI, NEOLIBERALISME dan KONSPIRASI MODAL
INTERNASIONAL  Baru-baru
ini telah muncul website resmi Sri Mulyani yang digagas sebagai tonggak
awal untuk memajukan Sri Mulyani Inderawati (SMI) sebagai Calon
Presiden RI. Tokoh dibalik gerakan SMI for Presiden ini adalah Rahman
Tolleng, eksaktivis 66 yang juga dulu mendongkel Bung Karno dan
membangun kekuatanpolitiknya di Bandung dengan mendirikan Surat Kabar
'Mahasiswa Indonesia' yang isinya hanya menjelek2kan kepribadian Bung
Karno, berlagak rasional tapi akhirnya juga kalah pada rezim neofasisme
Orde Baru, sebuah rezim yang juga dibangun oleh angkatan 66 dengan nada
tidak bertanggung jawab. Kini eks angkatan 66 itu berulah
kembali dengan mencoba sebuah gagasan untuk memenangkan politik modal
asing dan Neoliberalisme yang amat-amat membahayakan kesejahteraan
rakyat banyak di Indonesia. Persoalan Neoliberalisme bukanlah persoalan
jargon Pemilu saja, tapi ini persoalan realitas. Jangan bermimpi
kitabisa mendapatkan neoliberalisme sesuai dengan cara-acara Amerika
Serikat atauEropa Barat. Neoliberalisme yang kita kenal bukanlah neolib
rasional, kompetitif dan terbuka tapi kita adalah objek penderita dari
neolib itu sendiri. Untuk mencapai tahapan neoliberalisme
seperti Amerika Serikat dan Eropa Barat itu harus punya persyaratan
dasar, harus punya syarat-syarat sejarahnya sendiri dan syarat sejarah
itu berpusar pada satu soal : AKUMULASI MODAL. Negara2
barat kiblat neolib telah memenangkan sejarah itu
selamasetidak-tidaknya 300 tahun dan kemudian sebelum sampai pada fase
kapitalismeliberal, fungsi negara sudah mereka jalankan dengan benar.
Adanya kedaulatankapital, adanya hak atas modal yang diberikan negara
sehingga negara menjadiotoritas yang tidak bisa dikalahkan oleh
kekuatan diluar negara. Fase Neoliberalisme harus punya
persyaratan : 1. Akumulasi Modal yang dibentuk sejarah yang panjang 2.
Kedaulatan Kapital yang dimiliki
Negara dengan Mutlak 3. Negara memiliki otoritas kuat untuk mengimbangi
hal2 diluar negara. Apa yang terjadi dengan Indonesia?  Indonesia
dibangkrutkan oleh sistem Orde Baru yang dilandasi pembangunandengan
hutang-hutang yang hanya melahirkan kelas atas sebagai diktator modal
dankelas menengah yang kebanci-bancian. Kelas menengah kita hanya
seperti benalu dalam sistem masyarakat kelas, dia tidak independen dan
dia tidak lahir dari situasi yang otentik. Lalu Negara hanya dijadikan
milik oleh kaum Komprador yang berkumpul di sekitaran Oligarkis dan
terakhir Negara gagal mengimbangi kekuatan-kekuatan diluar negara. Dengan
tiga antitesis syarat neoliberalisme itu bagaimana kita bisa
membangun sistem kapitalis rasional ? Yang ada adalah bangsa kita
disodori hanya sebagai kuli-kuli modal oleh mereka. Neoliberalisme
menghendaki negara tidak ikut campur dalam persoalan arus modal dan
bisnis yang berkembang di tengah masyarakat. Lalu bila hal ini terjadi
maka pemodal besar akan menguasai seluruh cluster-cluster bisnis yang
sebenarnya merupakan ruang gerak ekonomi rakyat tumbuh. Dengan
adanya penguasaan modal besar dalam seluruh sel-sel ekonomi kita
makasemua hal ditentukan oleh satu soal : DIKTATOR MODAL. Dengan
adanya kediktatoran modal maka jangan heran bila: Biaya Rumah
Sakit Mahal, Biaya Sekolah Mahal, hancurnya fungsi-fungsi sosial yang
bisa dikendalikan negara hanya menjadi perang modal bagi kelompok
privat. Negara tidak lagi bisa tumbuh secara natural dalam perkembangan
masyarakatnya, tapi negara hanya akan menjadi alat politik bagi Pemodal.
Jadi
tanpa adanya tiga syarat:1. Akumulasi Modal,2. Daulat Kapital dan 3.
Kekuatan Negara sebagai penjamin fungsi sosial. Maka omong kosong dengan
liberalisasi.  Konstitusi kita adalah konstitusi yang
menghargai nilai-nilai sosial. Misi utama para pendiri bangsa ini bukan
untuk memanjakan kaum konglomerasi, kaum pemodal tapi dasar konstitusi
kita yang disusun pada malam gelap gulita dan disahkan di tengah
kegelisahan masyarakat Jakarta menunggu pendaratan Sekutu di Tanjung
Priok 18 Agustus 1945 adalah 'Berusaha secara keras dalam
Meningkatkan kemakmuran bersama' adalah ironis bila kemudian tugas
negara 'Mencerdaskan Kehidupan Bangsa' sebagai dasar penyelenggaraan
negara menjadi negara yang' Memahalkan Biaya Pendidikan'. Hajat Hidup
orang Banyak dikuasai oleh Negara, menjadi hajat hidup orang Banyak
dikuasai kelompok pemodal asing. Apabila kesadaran umum
telah bangkit dalam jiwa anak-anak muda untuk merebut kembali Freeport
yang menghasilkan Ribuan Trilyun untuk kesejahteraan bangsa ini,
menggratiskan pendidikan dan kesehatan, apabila tambang-tambang
batubara tidak lagi mainan para 'hedge-fund' asing, bila anak-anak muda
berhasil menghancurkan kaum feodal yang tumbuh didaerah-daerah sebagai
Raja-Raja Kecil maka kita bisa memulai jaman baru bagi Indonesia
Raya.- Sebuah Kemerdekaan Kedua, setelah melewati jaman gelap begitu
lama-. Menolak Sri Mulyani, Menolak Aburizal Bakrie,
Menolak SBY, Menolak Surya Paloh dan Kaum Oligarkis adalah kewajiban
anak-anak muda Indonesia. Anak Muda harus tampil secara otentik dan
tidak bergantung pada modal kaum tua. -Kita harus berani memulai jaman
baru-.*** ANTON DWISUNU HANUNG NUGRAHANTO

[Non-text portions of this message have been removed]



<<image001.jpg>>

<<image002.jpg>>

Kirim email ke