Bupati Galuh, Citra Politik Menak Sunda CITRA menak Sunda yang merakyat. Begitulah yang terbayang begitu membaca disertasi Babad Galuh Imbanagara, Kajian tentang Penerapan Unsur-unsur Pemberdayaan dan Hubungan Manusiawi Masa Pemerintahan Bupati Galuh Abad Ke-19, Disertai Edisi Teks yang menceritakan kepemimpinan turun-temurun Bupati Galuh Imbanagara, khususnya pada masa pemerintahan Raden Adipati Aria Koesoemadiningrat. Berbeda sekali dengan kesan yang terbangun selama ini, bahwa menak merupakan pensiunan pejabat yang elitis dan feodalistis. Tidak demikian dengan Bupati Galuh Imbanagara.
Disertasi Dr. Hj. Nenny Kencanawati yang dipertahankan dalam sidang terbuka di Pascasarjana Universitas Padjadjaran ini, Kamis (2/9), menjadi menarik di tengah kondisi negeri kita sekarang yang karut-marut dilanda krisis kepemimpinan. Apalagi, pemilihan pejabat publik secara langsung oleh rakyat tidak identik dengan hadirnya pemimpin yang mengantarkan pada kesejahteraan rakyat. Memang, tidak mudah mencari sosok pemimpin seperti digambarkan dalam disertasi tersebut. Pemimpin yang komunikatif, mencintai dan dicintai rakyat, peka dengan denyut nadi kehidupan rakyat, dan tidak sok kuasa sebagaimana tertuang dalam naskah Babad Galuh Imbanagara yang ditulis oleh Wiraadikoesoema. Naskah Babad Galuh Imbanagara menguraikan perjalanan bupati tatar Sunda, khususnya Galuh Imbanagara (sekarang wilayah administratif Kabupaten Ciamis). Meskipun naskah ini merupakan karya sastra imajinasi pengarang, di dalamnya tersimpan fakta dan pemikiran yang dituangkan penulisnya yang mengutip dari paririmbon dan catatan-catatan peninggalan menak terdahulu. Karya ini tidak lepas dari kondisi yang turut memengaruhi horizon harapan pengarang Babad Galuh Imbanagara. Apalagi, apabila dilihat dari geografi yang diutarakan atau nama bupati yang dituliskan, tertulis pula dalam sejarah Kehidupan Kaum Menak Priangan (Nina Herlina Lubis, 1998). Dalam Babad Galuh Imbanagara disebutkan bahwa asal usul nama wilayah di sekitar sebagai napak tilas perjalanan asal di sekitar Gunung Padang yang ada di Desa Nagrog, kemudian disebutkan pula Desa Pasir Angin, Desa Darmacaang, Cikoneng-Ciamis, Sorok Tonggoh, Desa Bungur, Desa Kawali, Astana Gede, Desa Cikedengan, Desa Ciherang, dll. yang ternyata seluruh desa di dalam Babad Galuh Imbanagara sampai sekarang masih ada di Kabupaten Ciamis. Adalah Maha Raja Adimulya yang menjadi cikal bakal dan melahirkan para Bupati Galuh. Menurut sejarah yang tertulis pada naskah Babad Galuh Imbanagara, Maha Raja Adimulya adalah putra Mundingwangi, ibunya, Ratu Permana (hal. 88). Karena keadilan Maha Raja Adimulya selama memegang tampuk pimpinan, kerajaannya aman sentosa, sejahtera, dan rakyatnya mencintai sang raja. Kepercayaan rakyat terhadap raja dan wakil-wakilnya pada masa itu sangatlah besar sehingga rakyat puas atas kehidupan mereka. Kondisi negara yang kondusif itu menyebabkan Sang Maha Raja merasa sudah cukup membaktikan dirinya kepada negara dan menganggap perlu mempersiapkan dirinya secara tenang mendekatkan diri kepada Yang Mahakuasa. Ia kemudian meletakkan jabatan yang diembannya kepada pembantu (mantri jero) kepercayaannya yang bernama Bondan (hal. 94). Keadaannya sangat berbeda dan tidak terbayangkan pada pemimpin masa kini. Tidak hanya di satu daerah, bahkan hampir di berbagai daerah, meskipun sang pejabat telah habis dua kali masa jabatannya, masih berupaya dengan segala cara supaya jabatan itu dapat diteruskan anak, menantu, atau bahkan istrinya sendiri. Tidak ada yang salah dalam hal tersebut sebab itu merupakan hak politiknya. Sayangnya, para calon yang diusung dan dipilih tidak lagi berdasarkan kapabilitasnya dalam mengurus kepentingan rakyat. Kearifan Maha Raja Adimulya itu pun dicontoh dan diteladani oleh keturunan ke-13 atau bupati ke-16 yang memimpin Galuh, Adipati Aria Koesoemadiningrat. Ia dikenal rendah hati dan merakyat, yang dapat disimak dari kebiasaannya berjalan-jalan ke kampung-kampung setelah salat Subuh untuk menyaksikan dari dekat kehidupan rakyatnya (hal. 210). Kedekatan dengan masyarakat juga dibangunnya dengan kebiasaannya berkumpul dengan para sesepuh guna menyerap pengalaman masa lalu dan menyimak sejarah para pendahulunya. Selain itu, Adipati juga membicarakan masalah kekinian yang mereka hadapi dengan generasi muda (hal. 211). Adipati Aria Koesoemadiningrat pun bukanlah pemimpin yang sok kuasa terhadap rakyatnya. Ini dapat dicermati dengan kesungguhannya untuk meminta maaf kepada rakyatnya ketika ia merasa bersalah akibat perburuan yang dilakukannya telah merusak padi milik Dalem Ciamis (pensiunan pejabat Ciamis) (hal. 206-207). Kegigihannya dalam upaya meminta maaf (karena lewat pengawalnya tidak diacuhkan oleh Dalem Ciamis) tersurat dengan upayanya meminta bantuan jaksa untuk menuntaskan permintaan maafnya kepada Dalem Ciamis (hal. 210-211). Sang Adipati digambarkan sebagai sosok yang berhasil memberi perhatian secara penuh terhadap hak dan kesejahteraan rakyatnya. Hal itu dibuktikan dengan pembangunan waduk-waduk untuk mengairi lahan pertanian sehingga petani benar-benar menikmatinya dengan ketersediaan padi di lumbung-lumbung mereka (hal. 218). Keberhasilan tersebut membuktikan bahwa dirinya adalah bupati yang cerdas dan kreatif. Prestasinya tidak hanya dirasakan oleh rakyatnya, tetapi juga diakui pemerintahan kolonial Belanda sehingga beliau mendapat penghargaan "Ridder Orde van den Nedelandsche Leeuw" dan "Gouden medaille meteere Ketting". Dari naskah Babad Galuh Imbanagara ini banyak pelajaran yang dapat dipetik, terutama tentang teladan dari pemimpin pada masa itu. Padahal, saat itu kepemimpinan diturunkan dari satu keluarga kepada anggota keluarga dan/atau kerabat dekat yang dipandang cakap dan memiliki kemampuan memimpin pemerintahan. Sikap dan kebijakan penguasa tidak berhenti pada politik pencitraan saja, tetapi citranya justru terbangun sebagai akibat dari sikap, kebijakan, dan praktik nyatanya di tengah rakyatnya. Bahkan, yang paling penting dan layak digarisbawahi dari disertasi tersebut adalah kuatnya dimensi akhirat (religiusitas) dari pemimpin pada masa itu, sebagaimana ditunjukkan pada semangat pemimpin untuk menimba ilmu dari para ulama dan ketakutannya mempertanggungjawabkan amanah yang dipikulnya di akhirat kelak sehingga mendorong sang pemimpin ingin segera menuntaskan tugas kepemimpinannya dengan baik. Religiusitasnya bukan sekadar religiusitas ritual yang ditampakkan di depan umum, melainkan religiusitas yang melekat dalam dirinya. Penulis yang ikut membahas disertasi ini merasa bangga dengan diangkatnya karya sastra Babad Galuh Imbanagara karena menunjukkan kearifan Kangjeng Dalem (elite penguasa) pada masa lalu. Seandainya pada masa kini hadir sosok penguasa seperti demikian, tentunya kepercayaan dan rasa cinta dari rakyat akan tercatat dan dikenang, tidak hanya pada masa sekarang, tetapi juga oleh generasi yang akan datang sebagaimana Adipati Aria Koesoemadiningrat kita kenang. Dalam hal ini, penulis sekaligus sangat berharap agar substansi ajaran yang tertuang di dalam Babad Galuh Imbanagara dapat diketahui dan dipahami, khususnya oleh pemimpin masa kini yang dipilih rakyat dengan biaya yang tidak sedikit. Ajaran yang terdapat di dalam Babad Galuh Imbanagara ini bermanfaat unuk memotivasi pemimpin pada zaman sekarang. Penulis mengajak seluruh masyarakat untuk selektif dalam memilih. Kiranya gambaran pemimpin di dalam Babad Galuh Imbanagara menjadi acuan dalam menentukan pilihan. Bukankah kita ikut bertanggung jawab dan merasakan akibat dari pilihan kita? Mari kita bangun negeri ini secara bersama-sama dengan melihat contoh nenek moyang kita untuk kebahagiaan kita dan anak cucu kita. Tinggalkan silauan materi yang akan menyesatkan kita. Semoga bermanfaat. (Titin Nurhayati Ma’mun, filolog, dosen Sastra Arab dan Pascasarjana Fakultas Sastra Unpad)*** http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=160242
