Ya kitu wargi ni uninga kumaha hasil lajuninglakuna?
 ~ experientia docet sapientiam ~ 




________________________________
From: ahmad sahidin <[email protected]>
To: kisunda milis <[email protected]>
Sent: Wednesday, October 6, 2010 9:02:31
Subject: [kisunda] Prasasti yang Sekian Lama Diabaikan

  
SAAT pertama kali menemukan batu kali jenis andesit di pelataran rumahnya pada 
1959 lalu, Oong Rusmana (62) tak berani memindahkannya. Sebab, Oong merasa 
sebagai pendatang, sedangkan benda yang ada di dekat Kampung Cimaung RT 7 RW 7 
Kelurahan Tamansari, Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, itu sudah lebih dahulu 
ada di sana. Alasan lainnya, batunya besar dan sebagian besar masuk di dalam 
tanah. Pada bagian permukaan terdapat pahatan tulisan.

Hingga akhirnya tahun 2006 silam, batu andesit tersebut tidak pernah berubah 
dan 
tidak juga diteliti isi pesan tulisannya. Keberadaan batu tulis tersebut lalu 
diketahui oleh Nandang Rusnanda, staf peneliti dari Balai Pelestarian Sejarah 
dan Nilai Tradisional (BPSNT). Karena merasa yakin akan temuannya tersebut, 
Nandang lalu melaporkannya ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa 
Barat serta ke Balai Purbakala dan Nilai-nilai Tradisional yang merupakan Unit 
Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Disparbud Jabar.

Namun, setelah ditunggu, tidak juga mendapat kejelasan, hingga akhirnya Nandang 
melaporkan ke dinas ataupun instansi terkait di Kota Bandung. "Ternyata 
hasilnya 
sama saja, hingga akhirnya hari ini (Selasa, 5/10) saya mengundang wartawan 
agar 
masyarakat tahu bahwa di daerah sini ada penanda masa lalu yang butuh 
penelitian 
lebih lanjut," ujarnya.

Batu dengan diameter sekitar 180 sentimeter, lebar 70 sentimeter, dan tinggi 55 
sentimeter, itu diperkirakan berasal dari abad ke-14 hingga ke-18 masehi. Masih 
berdasarkan perkiraan, keberadaan batu tersebut berasal dari periode masa 
klasik 
Hindu muda atau masa Kerajaan Kendan.

"Namun, untuk lebih memastikannya perlu penelitian lebih lanjut, karena di Kota 
Bandung ini bukan hanya batu tulis di Cimaung ini yang ditemukan tetapi juga di 
daerah Tahura (Taman Hutan Raya Djuanda) dan Simpang Dago," kata Nandang yang 
juga Peneliti Madya BPSNT Jabar.

Berdasarkan hasil penelitian sementara, batu tulis Cimaung tersebut memiliki 
dua 
baris tulisan. Tulisan baris pertama memiliki panjang 15 sentimeter, sedangkan 
tulisan kedua memiliki panjang 20 sentimeter.

"Baris pertama terdiri atas 6 huruf sementara baris kedua terdiri atas 12 
huruf. 
Tulisan pada baris pertama memiliki tinggi 2,5 sentimeter, sedangkan tulisan 
kedua 3,5 sentimeter, dengan jenis tulisan huruf Sunda kuna," ujar Nandang.

Pada bagian kiri tulisan terdapat penanda berupa telapak kaki manusia (anak 
kecil) dan bagian kanan berupa telapak tangan (anak kecil). Sementara di bagian 
atas terdapat lambang kepala manusia disilang bagian bawahnya.

Tulisan prasasti pada baris pertama berupa "Unggal Jagat" dan baris kedua 
mengandung arti "Jalma H Dhap". "Ada banyak arti ataupun makna khusus yang 
dapat 
ditarik. Prasasti ini mengandung peringatan bagi warga yang digambarkan dengan 
kepala di atas tulisan. Sementara gambar telapak kaki dan tangan mencirikan 
hegemoni atau daerah kekuasaan raja Kerajaan Kendan di kawasan tersebut," ujar 
Nandang.

Sementara mengenai perkiraan bahwa batu tulis Cimaung tersebut berasal dari 
abad 
ke-14 ataupun ke-18, didasarkan pada jenis tulisan yang sudah rapi. Selain itu, 
masa Kerajaan Kendan di Sunda Kuno tengah berkuasa setelah hancurnya Kerajaan 
Tarumanegara.

Sementara peneliti dari Balai Arkeologi (Balar) Bandung, Lutfi Youndri 
menyebutkan, temuan prasasti tersebut merupakan temuan yang paling penting bagi 
sejarah wilayah Bandung. Sebelumnya di wilayah Bandung telah ada temuan 
arkeologi, mulai dari zaman prasejarah sampai dengan zaman sejarah, hingga 
zaman 
kolonial.

"Artinya, temuan di wilayah Bandung ini merupakan temuan paling komplet mulai 
dari temuan benda sebelum prasejarah di kawasan Dago Pakar, temuan prasejarah 
di 
kawasan Kars Citatah (Pawon), temuan masa klasik (Arca Durga, Candi Bojong 
Menje, Bojong Mas), masa sejarah, dan masa kolonial. Di daerah lain, saya belum 
menemukan temuan yang sedemikian komplet ini," ujar Lutfi, seraya menambahkan, 
pada masa kejayaan Kerajaan Sunda Kuno, Sungai Cikapundung merupakan urat nadi 
bagi warga yang tinggal di kawasan Bandung.

Sementara itu, Kasi Purbakala Balai Kepurbakalaan Sejarah dan Nilai Tradisi 
Disparbud Jabar, Romlah menyebutkan, pihaknya akan menindaklanjuti temuan 
tersebut dan melaporkannya kepada pimpinan. "Kami tentu akan melindungi dan 
melestarikannya, jika hasil penelitian sudah ada," katanya. (Retno 
HY/"PR")***http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=158974

www.ahmadsahidin.wordpress.com




Kirim email ke