Masalahna, di kantor kuring mah panto darurat teh sok dipake sehari2 bah
Ari nu tos dipake sehari2 mah jadi biasa weh...
Haha....
Sent from MobilePhone®

-----Original Message-----
From: mh <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 21 Oct 2010 23:02:25 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [kisunda] Duh ...akibat nyandung!

 Sepondok Lima Cinta, Kisah Poligami Sukses
  <http://www.kompasiana.com/posts/index/raport/>
Sudirman Hasan
10 Oktober 2010  |  01:49

  [image: Sepondok Lima Cita, Begitu
Mesranya]<http://stat.kompasiana.com/files/2010/10/sepndok-lima-cinta1.jpg>

Sepondok Lima Cita, Begitu Mesranya

Topik poligami merupakan isu yang sangat sensitif di masyarakat kita,
apalagi bagi para aktifis perempuan. Mereka pasti akan serentak berteriak
dengan lantang, “No Poligami!!”. Saya juga pernah terlibat aktif dalam
kampanye gerakan gender di kampus dan masyarakat. Saya selalu menyarankan
kepada para mahasiswa dan peserta diskusi untuk hidup monogami karena itu
merupakan prinsip dalam pernikahan Islam. Poligami ibarat pintu darurat yang
tidak bisa setiap saat dipergunakan.


 Namun, beberapa waktu lalu, saya mendapat tugas dari atasan untuk
bertandang ke sebuah pesantren yang berada di wilayah Mojokerto dalam rangka
belajar enterpreneurship.  Nama pesantren itu Riyadhul Jannah yang biasa
disebut “Rijan.” Pesantren ini  memiliki sistem belajar yang sedikit beda
dari pesantren  pada umumnya. Sang pemimpin pondok, Kyai Mahfud,  memiliki
banyak usaha bisnis yang dikelola oleh para santri. Di sinilah, sang kyai
menggembleng para santrinya untuk dapat mandiri tanpa harus bertopang pada
orang lain.


Jumlah santri di pesantren ini tidaklah banyak, hanya sekitar 200 orang yang
sebagian besar adalah anak yatim. Mereka diajari tentang kehidupan nyata
dengan terlibat aktif dalam pengembangan usaha. Tidak hanya ikut serta dalam
pengelolaan pertanian, mereka juga menjadi penggerak usaha bisnis
lain, misalnya di rumah makan dan swalayan. Meskipun begitu, mereka tetap
diwajibkan untuk belajar formal, seperti belajar di kelas, kuliah, hingga
mengaji sorogan pada kiayi. Pesantren itu telah membuat sistem yang
menggabungkan antara belajar formal di kelas dan belajar kehidupan di
lapangan.  Di antara usaha suksesnya adalah pertanian aneka sayuran organik,
peternakan berbagai jenis ikan, peternakan bebek, air minum kemasan, taman
bunga, dan mini market. Selain itu, mereka juga memiliki kebun kelapa sawit
dan sagu di Malaysia, sejumlah rumah makan (Quick Chicken dan Wong Solo) ,
butik, dan pabrik tas. Tentu, saya sempat dibuat kagum oleh model manajemen
yang mereka kembangkan dengan nuansa pesantren yang kental.


 Di samping kesuksesannya mengantar dan mengawal para santri menjadi
usahawan, Kiyai Mahfud memiliki keunikan tersendiri. Beliau memiliki 4 orang
istri dan 20 anak yang semuanya itu tinggal di satu rumah. Wow, luar biasa,
bukan? Beliau memiliki prinsip sederhana untuk menjaga relasi harmonis dalam
keluarga, yakni *menjaga komitmen bersama* dengan kesadaran diri dan *saling
mengalah*. Ketika ditanya tentang proses pencarian istri kedua hingga
keempat, lagi-lagi kisahnya membuat saya geleng-geleng kepala. Para istri
baru itu merupakan hasil rekomendasi dari istri/para istri sebelumnya.
Misalnya, istri kedua merupakan rekomendasi istri pertama. Lalu, istri
ketiga adalah hasil pilihan istri kedua dan ketiga. Terakhir, istri keempat
merupakan hasil seleksi dari tiga istri sebelumnya. Pada waktu akad nikah,
ketiga istri itu mengawal sang istri terbaru sambil menautkan tangannya ke
jemari suami mereka. Mereka nampak begitu rukun dan damai, sepertinya mereka
ikhlas berbagi cinta dengan sahabat karibnya.


 Apakah itu dibuat-buat? Saya masih yakin bahwa itu benar adanya. Para tamu
bisa berkenalan dan bertanya langsung kepada para istri itu saat
ramah-tamah. Sebagai tanda penghormatan kepada para tamu, para istri itu
menghidangkan masakan khas pesantren yang diolah dari hasil perkebunan dan
peternakan mereka sendiri secara cuma-cuma. Di sini, saya meskipun agak
sedikit sanksi, berani berpendapat bahwa  poligami jika dilakukan dengan
keikhlasan nampaknya tidak akan banyak menyulut masalah baru. Artinya,
ketika kebutuhan lahir batin seorang istri terpenuhi, maka mereka pun
bahagia menjalani hidup tanpa beban stigma yang berat. Malah, mereka bisa
menjadi contoh bagi pasangan monogami yang bermasalah.  Mereka yang hidup
dengan banyak pihak saja bisa tenang, masak orang lain yang hidup dengan
satu pasangan saja selalu ribut tiap hari.  Malu, kan?


 Dari sini, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa seseorang yang ingin
berpoligami harus memenuhi beberapa syarat wajib, antara lain harus kaya,
adil, beriman kuat, sabar, mampu mengayomi semua istri dan menciptakan
suasana kasih sayang serta saling mengalah dalam keluarga. Kalau begitu,
poligami dapat konteks Kyai Mahfud dapat mengangkat derajat wanita, bukan
malah sebaliknya.  Tetapi, jika tidak mampu memenuhi standar itu, maka
jangan pernah bermimpi untuk poligami….bahaya!!!


 Salam,

Dirman

http://unik.kompasiana.com/2010/10/10/sepondok-lima-cinta-kisah-poligami-sukses/

Kirim email ke