Napak Tilas Bujangga Manik ke G. Patuha

KEBERADAAN Gunung Patuha, Kawah Putih, dan beberapa kawah lainnya seperti
Kawah Tamansaat, dengan sumber mata air panasnya membuktikan bahwa di
kawasan ini terdapat patahan-patahan yang dapat melepaskan sebagian energi
dari dalam bumi. Saat ini setidaknya ada tiga unit projek yang siap produksi
dengan masing-masing kapasitas 60 Mwe.* USEP USMAN NASRULLOH/"PR"

 Jalan setapak yang dipayungi pepohonan itu terus menanjak menuju puncak.
Bunga gunung bermekaran, lumut tebal menyelimuti pohon, dan merahnya pucuk
cantigi terlihat menyolok di antara kehijauan hutan. Embun di ujung daun dan
aroma getah tumbuhan selalu membuat saya rindu, rindu akan kabut yang
mengambang dan segarnya guyuran hujan.

Jalan setapak ini merupakan jalan setapak yang pernah dilalui Bujangga Manik
enam abad yang lalu. Setahun lebih tohaan putra mahkota Pajajaran itu
bertapa dan membenahi kabuyutan di puncak Gunung Patuha.

Oleh karena itu, saya merasa aneh dalam beberapa sumber, konon, masyarakat
lama menyebut Gunung Patuha itu Gunung Sepuh. Dalam bahasa Melayu/Indonesia,
sepuh berarti tua, sehingga disebutlah Gunung Patua, lalu berubah menjadi
Gunung Patuha. Rasanya tidak lazim masyarakat Sunda memberi nama gunung
dengan bahasa Melayu. Bila masyarakat sudah sejak dulu menyebut Gunung
Sepuh, siapa pun tidak boleh mengubahnya menjadi Gunung Patua. Namun yang
jelas, Bujangga Manik menyebutnya Bukit Patuha, bukan Gunung Sepuh atau
Gunung Patua.

Ada pandangan lain tentang arti kata patuha, seperti diuraikan dengan baik
oleh Jonathan Rigg (1862). Dalam tulisannya Rigg menyatakan, sangat mungkin
patuha merupakan sedikit perubahan dari kata patuka yang berarti lereng yang
menurun atau tebing curam, atau berasal dari kata putha yang berarti
matahari atau api. Patuha bisa juga berasal dari kata pathuwa. Pathuwa
berasal dari kata huwa yang berarti suara memanggil, sama artinya dengan hu
yang merupakan suara teriakan. Ucapannya kemudian menjadi pathuwa yang
artinya api yang bergemuruh. Asal-usul penamaan Gunung Patuha ini tentu
bertalian erat dengan kegiatan gunung ini yang pernah bergemuruh dan
mengeluarkan api yang menurun di lerengnya yang curam.

Mandala Patuha dengan sebutan Bukit Patuha sudah sangat terkenal sebagai
tempat suci yang biasa diziarahi. Bujangga Manik, rahib pengelana dari
Kerajaan Sunda abad ke-15 pun menyempatkan untuk berziarah ke Gunung Patuha
dalam perjalanan pulang sehabis berziarah ke tempat-tempat suci di Pulau
Jawa dan Bali. Bujangga Manik menulis Bukit Patuha dalam catatan lontarnya
yang kini tersimpan di museum di London.

Sadatang ka Mulah Mada,
Ngalalar ka Tapak Ratu,
Datang ka Bukit Patuha
Ka Sanghyang Rancagoda.
Dipunar dijieun batur
Kapuruyan ku mandala.
Di inya aing teu heubeul
Sataun deung sataraban.
Sadari aing ti inya,
Sacunduk ka Gunung Ratu,
Sanghyang Karang Carengcang.
Eta huluna Ci Sokan,
Landeuheun Bukit Patuha,
Heuleut-heuleut Lingga Payung,
Nu awas ka Kreti Haji.

(Datanglah ke Mulah Mada, melewati Tapak Ratu, Datang ke Bukit Patuha, Ke
Sanghyang Rancagoda. Kuperbaiki untuk dijadikan pertapaan. Dibentengi dengan
mandala. Aku tak tinggal lama di sana. Selama setahun lebih. Sepergiku dari
sana. Sampai ke Gunung Ratu. Sanghyang Karang Carengcang. Itulah hulu Ci
Sokan. Di kaki Gunung Patuha. Batas antara Lingga Payung. Yang bisa
memandang dengan jelas ke Kreti Haji/J. Noorduyn-A. Teeuw, 2009)

**

Sebelum Franz Wilhelm Junghuhn berkunjung ke Kawah Putih di Gunung Patuha
tahun 1837, jarang ada orang yang berani mengunjungi kawah yang begitu
memesona ini. Zaman dulu, kabarnya, bila ada burung yang terbang di atas
kawah itu pasti jatuh dan mati. Kenyataan itu membuat bertambah kuatnya
anggapan betapa angkernya kawah ini. Memang, lama dipercaya masyarakat,
puncak Gunung Patuha diyakini sebagai tempat bertemunya para leluhur yang
menjaga lingkungan kawasan ini. Lengkaplah kepercayaan masyarakat yang
membuat semakin angker kawasan ini.

Bahkan, bukan hanya kawah itu yang dinilai berbahaya, melainkan juga ranca
(rawa) yang berada di utaranya sehingga masyarakat memberinya nama
Rancaupas, yang artinya rawa beracun (upas=racun). Kedatangan Junghuhn ke
sana membuka tabir baru. Kawah Putih menghasilkan belerang yang sangat
banyak dengan tingkat keasaman air kawah yang sangat tinggi hingga pH
1,5-2,5 dengan suhu permukaan air mencapai 41-42 derajat Celsius pada suhu
udara 19 derajat Celsius, suhu solfatar pada saat tertentu bisa mencapai
92derajat Celsius.

Sebelum ditambang antara tahun 1924-1941, Kawah Putih memiliki cadangan
belerang sebanyak 500.000 ton. Produksi belerang pada tahun 1938 adalah
15.000 ton. Pada tahun 1963, belerang di sana tinggal 150.000 ton. Pada
waktu penjajahan Jepang pabrik belerang ini dihancurkan. Luas permukaan
danau Kawah Putih sekitar 101.800 m2 dengan kedalaman rata-rata 4 meter. Isi
air kawahnya 4 x 101.800 x 1 m3 = 407.200 m3. Pada tahun 1978 air danau
meresap setinggi 0,6 meter, sisa air danau = 407.200 m3 - (0,6 x 101.800 x 1
m3) = 344.200 m3.

Sangat mungkin udara yang dingin dengan uap belerang itulah yang menjadi
penyebab kematian burung yang melintas di atas kawah itu. Tingkat keasaman
air kawah yang sangat tinggi itu bila jumlah airnya meningkat hingga meluber
atau bocor ke Ciwidey, sungai yang sangat vital bagi masyarakat di sana,
menjadi ancaman bagi pemelihara ikan di kolam dan keramba sepanjang sungai
tersebut, seperti yang terjadi 4 April 1978.

Kabut berbalut uap belerang mengambang di atas kawah, berarak halus menyapa
semua pengunjung dengan aromanya yang khas.

Pada mulanya, kegiatan gunung api ini bergerak dari selatan ke utara.
Dimulai dari pembentukan Gunung Patuha Tua (2384 mdpl.) di selatan, disusul
dengan pembentukan Gunung Patuha (2434 mdpl.) dengan Kawah Tamansaat atau
Kawah Kaler yang kini hanya disebut Kawah Saat, kawah kering, seperti
tertera dalam papan penunjuk yang dibuat pengelola wisata Kawah Putih. Oleh
para peneliti kedua kerucut ini (Gunung Patuha tua dan Gunung Patuha),
sering disebut sebagai kawah kembar. Kegiatan kegunungapiannya diakhiri
dengan pembentukan Kawah Putih (2194 mdpl.).

Puncak Gunung Patuha terletak pada koordinat 07009`40`` LS. dan 107023`53``
BT. Gunung api yang termasuk gunung api strato tipe B ini banyak memiliki
tanda-tanda letusan gunung api, seperti adanya kawah solfatar, tetapi tidak
tercatat meletus sejak tahun 1600. Selain dua kawah itu, terdapat juga kawah
dari hasil erupsi samping, seperti erupsi samping dari Gunung Patuha Tua
adalah Kawah Tiis, kini sudah menjadi lahan kebun dan namanya berganti
menjadi Legoktiis, Kawah Kneng, dan Kawah Ciwidey. Hasil erupsi samping
Gunung Patuha adalah Kawah Cibodas.

Kawah Tamansaat di puncak Gunung Patuha, dimensi permukaannya 370 m x 340 m
dan dimensi dasar kawahnya 180 m x 150 m. Puncak tertingginya 2434 mdpl.,
dasar kawahnya 2269. Dinding kawah tertinggi 2434-2269 = 165 m.

Kini, Kawah Putih sudah dapat dinikmati sebagai tujuan wisata. Begitu sampai
di Kawah Putih, pengunjung langsung disuguhi pantai kawah yang putih dengan
air danau kawah yang hijau pastel. Angin meniupkan kepulan uap, berarak
menyapu pengunjung dengan aroma belerang yang menyengat. Di tepi air kawah
yang beriak, butiran-butiran gelembung belerang sebesar kacang kedelai
menarik pengunjung.

Selain keindahan yang memesona, Kawah Putih merupakan kawah gunung api yang
bisa dijangkau dengan mudah untuk semua umur, seperti halnya Gunung
Tangkubanparahu. Lokasi ini dapat ditempuh melalui perjalanan sejauh 46
kilometer dari Bandung melewati Soreang dan Ciwidey.

Jalan dari gerbang menuju Kawah Putih agak menanjak sejauh 5 kilometer
dengan kondisi jalan yang baik. Keberadaan Gunung Patuha, Kawah Putih, dan
beberapa kawah lainnya, seperti Kawah Tamansaat dengan sumber mata air
panasnya, membuktikan bahwa di kawasan ini terdapat patahan-patahan yang
dapat melepaskan sebagian energi dari dalam bumi. Apalagi dengan adanya
pengeboran untuk energi panas bumi (geothermal) yang memiliki potensi
kapasitas sebesar 400 Mwe. Setidaknya ada tiga unit projek yang siap
produksi dengan masing-masing kapasitas 60 Mwe.

Keutuhan hutan hujan tropis di Gunung Patuha yang terus menipis terseret
hutan produksi, perlu dipertahankan keberadaannya untuk menjaga tata air,
menjaga kelestarian tanah, dan menjaga pasokan air ke dalam bumi sehingga
energi geothermal bisa terus terjamin, dan sebagai habitat berbagai tumbuhan
dan binatang yang masih tersisa.

Alih fungsi hutan mempunyai andil dalam memusnahkan harimau lodaya (Panthera
tigris sondaicus), dan mendesak habitat macan tutul (Panthera pardus
sondaicus) yang jumlahnya terus berkurang sehingga terancam punah, padahal
menjadi simbol binatang khas Jawa Barat.

Habitatnya perlu dijaga karena penghuni hutan lainnya dapat menjadi sumber
makanan bagi macan tutul, seperti monyet, kera, rusa, dan mamalia lain.
Menjaga keberadaan macan tutul dan binatang lainnya di kawasan ini adalah
dengan cara menjaga hutan hujan tropis Gunung Patuha dengan baik sebab
menjaga kelestarian hutan adalah menjaga nilai kemanusiaan juga. (T.
Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan
Bandung)***

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=161655

Kirim email ke