Sssst ulah beja2 nya, tadina mah rek ngasupkeun ngaran KO supaya mantuan, tapi 
teu tega KO deui KO deui bari taya nu ngeupeulan heu heu

 ~ experientia docet sapientiam ~




________________________________
From: Tirta widjaja <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, October 27, 2010 8:02:03
Subject: Re: [kisunda] Warisan - Naskah di Saung Butut?

  
Sim kuring mah percaya Pemda teu ngantep komo teu niat mantuan make nyoret 
usulan/proposal. Sigana mah jeung nu lumrah kajadian masalah aya dina urusan 
teknis proposan. Taaah ieu lahan keur Mh cs mantuan atawa ngalatih nyieun 
proposal, sigana mah nu salila ieu diajukeun ka pemda teh proposal golondongan 
teu rinci keur naon2na. Kang Dudi oge masing teureuh Sumedang kaci pan 
mantuan....

 ~ experientia docet sapientiam ~




________________________________
From: mh <[email protected]>
To: Ki Sunda <[email protected]>
Sent: Wednesday, October 27, 2010 5:58:33
Subject: [kisunda] Warisan - Naskah di Saung Butut?

  
Naskah Kuno Terancam Musnah
Pemkab Garut Belum Pernah Alokasikan Biaya Pemeliharaan
 
BANGUNAN Padaleman yang menyimpan naskah kuno di  Situs Kabuyutan Ciburuy Kec. 
Bayongbong Kab. Garut, 6 Oktober 2010 lalu.  Naskah kuno yang tersimpan dalam 
bangunan yang hanya dibuka pada waktu  khusus tersebut terbengkalai tanpa 
perawatan.* RIRIN N.F./"PR"GARUT, (PR).-
Puluhan naskah kuno di situs Kabuyutan Ciburuy Kecamatan Bayongbong,  Kabupaten 
Garut, terancam musnah akibat tidak adanya biaya perawatan.  Hal itu disebabkan 
selama ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut belum  pernah mengalokasikan 
biaya pemeliharaan untuk barang-barang bersejarah  tersebut. 

Kepala Seksi Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan  Dinas Pariwisata Kabupaten 
Garut, Warjita, menjelaskan, saat ini kondisi  naskah kuno yang ada di situs 
Kabuyutan Ciburuy cukup mengkhawatirkan  akibat kerusakan yang cukup parah. 
Jika 
hal ini terus dibiarkan, maka  tak menutup kemungkinan barang-barang yang 
terhitung langka dan  bersejarah tersebut akan musnah. 

"Selama ini pemerintah daerah tidak pernah  mengalokasi biaya pemeliharaan 
naskah. Padahal kami telah berulang kali  mengajukan biaya perawatan dalam 
setiap penyusunan anggaran pendapatan  dan belanja daerah setiap tahunnya," 
ujar 
Warjita.
Ia mengakui, dalam anggaran tahun 2011 mendatang  pihaknya telah mengajukan 
biaya pemeliharaan sebesar Rp 150 juta. Namun  sampai saat ini belum ada 
kepastian apakah dana tersebut akan disetujui  atau tidak. 

"Kami tidak tahu kenapa, setiap kali mengajukan  anggaran untuk pemeliharaan 
barang-barang bersejarah dan langka tersebut  selalu dicoret. Ini menunjukan 
perhatian terhadap sejarah ini sangat  kurang dan tentunya ini sangat 
disesalkan," ujarnya.
Ia mengatakan, untuk mencegah agar naskah tidak  sampai rusak, pihaknya terus 
berupaya tetap melakukan pemeliharaan  meskipun dengan cara-cara tradisional. 
Naskah kuno ini diperkirakan  dibuat pada abad ke 16 periode Hindu atau masa 
Kerajaan Padjadjaran.  Teks naskah kuno ditulis pada daun lontar dengan 
menggunakan Bahasa  Sunda dan Jawa Kuno dengan cara ditoreh.
"Jumlah naskah yang tersimpan di Kabuyutan Ciburuy  saat ini sebanyak 27 kropak 
yang tersimpan dalam tiga peti. Setiap  kropak jumlahnya bervariasi antara 15 
sampai 30 lempir (lembar-Red).  Tiap lempir naskah berukuran 28,5 x 3 
sentimeter 
dengan ukuran ruang  tulisan 25,5 x 2,5 sentimeter. Tiap halaman memuat empat 
baris tulisan,"  ujarnya menjelaskan.
Warjita mengakui, dari jumlah tersebut saat ini hanya  tinggal 10 kropak yang 
masih dapat dikatakan utuh. Sedangkan sisanya,  tidak lengkap karena sudah 
terlepas dari masing-masing ikatannya  ditambah lagi banyak lempiran yang patah 
dan hancur.
Naskah lontar yang berada di wilayahnya itu, tutur  Warjita, perlu dilakukan 
pengkajian ahli filolog. Soalnya hingga saat  ini isi naskah lontar tersebut 
belum sepenuhnya terungkap. Padahal tidak  menutup kemungkinan isi naskah 
tersebut mengandung unsur kearifan  lokal.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi D Dewan  Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) 
Garut, Helmi Budiman dengan tegas  membantah jika dikatakan pihaknya telah 
mencoret anggaran pemeliharaan  naskah lontar. Bahkan menurutnya, pemeliharan 
terhadap benda sejarah dan  budaya harus dilakukan dengan baik. (E-22)*** 


http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=161794
 

 

Kirim email ke