--- On Wed, 11/3/10, Nugroho Laison <[email protected]> wrote:

From: Nugroho Laison <[email protected]>
Subject: [eramuslim] Masjid tak Tersentuh Tsunami, 50 Orang Selamat
To: "Mualaf Indonesia" <[email protected]>, "Komunitas Tarbawi" 
<[email protected]>, "WarnaIslam yahoogroups" 
<[email protected]>, "eramuslim yahoogroups" 
<[email protected]>
Date: Wednesday, November 3, 2010, 3:31 AM







 



  


    
      
      
      http://groups.yahoo.com/group/Muhammadiyah_Society/message/33559
Masjid tak Tersentuh Tsunami, 50 Orang Selamat
Seperti mukjizat, air laut hanya sampai di teras masjid. D luar masjid, 
Zulfikar melihat dengan mata kepala sendiri gelombang tsunami mencapai delapan 
meter

"Sepertinya, di masjid air terbelah,
 sehingga lantai masjid pun tidak basah sama sekali,"

Yang ini karena yg mereka ucapkan adalah kalimah takbir jadi ga ada mistik2-an 
n sakti2-an
ini semua hanya karena kehendak ALLAH, karena hal ini juga kan pernah di alami 
oleh
nabi Musa dan jg saat banjir situ gintung sebuah masjid tetap berdiri kokoh 
jadi ga perlu ada Juru Kunci pantai Mentawai.

ALLAHUAKBAR...!!!

wassalam,
harman



 Selasa, 02 November 2010 , 08:55:00Masjid tak Tersentuh Tsunami, 50 Orang 
Selamat
Menelusuri Dusun Pasa Puat, Kampung yang Hilang
Foto udara keadaan lokasi yang terkena dampak gempa tsunami dari helikopter M17 
milik TNI AD di
 Eru Paraboat, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Senin (1/11). Foto: RAKA 
DENNY/JAWAPOSNaga tsunami membelah Bumi Sikerei di keheningan malam nan 
mencekam. Kehadirannya yang tak diundang itu telah memupuskan harapan penghuni 
pesisir pantai Dusun Pasa Puat, Kecamatan Pagai Utara. Saat semuanya hancur, 
sebuah masjid menatap pantai berdiri kokoh.
------------------------------------------
RICCO MAHMUDI -- Sikakap
-----------------------------------------
PAGI ITU, sekitar pukul 10.00 WIB, langit Sikakap tampak mendung. Di luar rumah 
tanah tampak lanyah. Pepohonan dan rerumputan masih basah setelah diguyur hujan 
deras sepanjang malam. Sebentar lagi, sepertinya hujan deras bakal turun. Ya, 
membasuh duka Bumi Sikerei.   

Di luar rumah, bau mayat menyengat. Aroma tak sedap menebar ditiup angin. 
Memang, hingga Jumat (29/10),
 mayat masih bergelimpangan di pinggir jalan. Pikiran saya langsung terbayang 
ratusan warga Pagai Selatan yang bertahan di perbukitan, dalam kondisi hujan 
badai. Selain menahan lapar, dinginnya malam, mereka harus melawan penyakit 
yang kini menyerang.      

Ternyata benar. Hujan deras mengguyur Sikakap. Tak hanya hujan, tapi juga 
badai. Di posko utama, para jurnalis dan relawan telah ber¬kum¬pul. Seperti 
biasa, setiap pagi kami siap-siap menyisir desa terpencil yang belum terjamah 
bantuan. Pagi itu, tim relawan dan jurnalis hendak menuju Dusun Pasa Puat di 
Pagai Utara. Dusun itu, semua rumah hancur. Mujur, tidak ada korban jiwa. 

Perjalanan menggunakan kapal kayu atau long boat. Kapal itu mampu memuat 12 
orang dan sedikit logistik untuk pengungsi. Berapa menit berlayar, gelombang 
dua meter menghadang. Pelayaran pun dihentikan. Setelah menunggu sekitar satu 
jam, boat yang dinakhodai Dayat itu
 dilanjutkan selama dua jam pelayaran. Sepanjang perjalanan, boat nyaris karam 
karena dipenuhi air. Kami sampai di tujuan sekitar pukul 17.00 WIB.

Dari pantai, Dusun Pasa Puat sunyi senyap. Sedikit pun tidak terlihat 
tanda-tanda seperti sebuah kampung. Permukiman penduduk rata dengan tanah. Tak 
satu pun rumah warga yang berdiri. Semua tiarap. Hanya ada satu bangunan 
berdiri kokoh menghadap pantai. Ya, sebuah masjid. Garin masjid itu juga 
selamat. Zulfikar namanya. 
Hari beranjak senja. Hujan belum juga reda. Zulfkar tampak bersiap menunaikan 
Shalat Maghrib. Dalam obrolannya, pria berusia 40 tahun itu mengaku telah 
tingal di dusun itu sejak kecil. Sama dengan usia masjid itu yang berdiri 
sekitar tahun 1960 silam. "Ini masjid tertua di dusun kami. Bentuk masjid itu 
sudah tidak asli lagi, karena terus diperbaiki," ujar Zulfikar.

Zulfikar menceritakan, masjid ini sama sekali tidak tersentuh tsunami pada 
malam itu. Padahal, lokasinya
 tidak jauh dari pantai. Sedangkan rumah-rumah warga di sekitar masjid, rata 
dengan tanah. Masjid inilah yang menjadi tempat perlindungan masyarakat saat 
gelombang besar datang. 

Seperti mukjizat, air laut hanya sampai di teras masjid. D luar masjid, 
Zulfikar melihat dengan mata kepala sendiri gelombang tsunami mencapai delapan 
meter. "Kami dalam masjid ada sekitar 50 orang, sedangkan warga yang lain telah 
menyelamatkan diri ke perbukitan yang berjarak satu kilometer dari masjid. 
Melihat masjid tidak kena sama sekali, kami merasa heran. Setelah itu kami 
sadar ini adalah kehendak Tuhan," jelas pria berjenggot itu. 

Zulfikar dan 50 warga lainnya tidak henti-henti mengucap kebesaran Allah. Di 
luar masjid, tsunami terus menerjang sebanyak tiga gelombang. Tiada yang 
menduga, tsunami menghindar dari masjid. "Sepertinya, di masjid air terbelah, 
sehingga lantai masjid pun tidak basah sama sekali," kenangnya.
 (*)

RELATED NEWS


      

    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke