Kisah Cinta Inggit-Soekarno Difilmkan *"Di balik kesuksesan seorang pria, ada wanita kuat dan istimewa di belakangnya."*
Petikan kalimat atau kata-kata mutiara yang amat populer tersebut tidaklah mengada-ada. Banyak bukti yang makin memperkuat pernyataan kalimat tersebut. Salah satunya ialah pasangan Presiden Indonesia pertama Soekarno dengan Inggit Garnasih. Peran Inggit amat besar dalam proses pembentukan Soekarno hingga dapat menjadi pemimpin yang disegani di negeri ini, juga di mata dunia internasional. Namun, sosok Inggit ini jarang diekspos sehingga perannya tak banyak diketahui orang. Atas pertimbangan itu pula, sutradara Benni Setiawan tergerak untuk mengangkat sosok Inggit ini ke layar lebar. Bak gayung bersambut, Mizan Productions yang disodorinya ide tersebut langsung tertarik hingga kedua pihak sepakat untuk bekerja sama. "Kisah mengenai sosok Inggit sarat nilai nasionalisme, patriotisme, dan humanisme. Penggalan sejarah yang sering terlupakan ini mudah-mudahan dapat menjadi inspirasi untuk kaum muda," kata produser Mizan Productions, Putut Widjanarko, saat konferensi pers di Gedung Indonesia Menggugat Bandung, Senin (1/11). Mengingat film ini merupakan kisah sejarah, proses pengumpulan data-datanya memakan waktu panjang karena harus terjamin keakuratannya. Membuat setting yang sesuai dengan masa perjuangan Inggit dan Soekarno merupakan kendala lain yang tak mudah, tetapi akan menjadi tantangan tersendiri bagi produser dan sutradara. Oleh karena itu, produser dan sutradara film ini tidak akan terburu-buru menggarapnya. Proses shooting baru akan dilakukan saat semua materi siap dan itu direncanakan berlangsung pertengahan tahun depan. Proses pengumpulan data ini sesungguhnya sedikit terbantu dengan materi yang dimiliki Benni. Maklum saja, sutradara "Bukan Cinta Biasa", "Cinta 2 Hati", dan "3 Hati, Dua Dunia, Satu Cinta" ini sudah sejak lama mengumpulkan fakta-fakta seputar Inggit. "Sejak SMP aku sudah membaca kisah tentang Inggit yang ditulis Ramadhan K. H. dalam buku Kuantar ke Gerbang. Saat itu pun aku bertanya-tanya, kenapa sosok sehebat ini kurang dikenal," ucap Benni dalam kesempatan yang sama. Keinginan terpendam untuk mengenalkan sosok Inggit ini ke masyarakat luas pun kembali muncul seusai ia menghadiri sebuah seminar di tahun 2006. Niat tersebut pun diutarakannya pada Ratna Djuami dan Tito Asmarahadi, anak dan cucu Inggit. Berbagai cerita mengenai Inggit diperolehnya dari kedua sumber penting tersebut. Saat skenario hasil wawancara dengan keduanya serta ditambah sejumlah referensi dari sejarawan, Benni pun mulai bergerak mencari rumah produksi yang berminat memproduksi film Inggit. "Sudah ada tiga rumah produksi yang bersedia, tetapi di tengah jalan tak menunjukkan keseriusannya. Baru Mizan yang betul-betul berkomitmen serius," ucapnya mengungkapkan lika-liku yang dihadapinya dalam memproduksi film ini. Lebih lanjut Benni membocorkan, filmnya nanti hanya akan mengangkat fragmen saat Inggit pertama kali bertemu dengan Soekarno hingga akhirnya berpisah damai. Kisah cinta keduanya dipastikan mewarnai film tersebut. Namun ia menjamin, filmnya tak akan menjadi film cinta yang sarat romantisme tanpa makna karena hal utama yang akan diangkat ialah sikap dan sifat Inggit yang perlu diteladani generasi muda. Mewakili pihak keluarga, Tito mengungkapkan alasannya mengizinkan kisah sang nenek diangkat ke layar lebar. "Saya nilai Mizan punya idealisme tinggi untuk mengangkat kisah sejarah sebagai persembahan bagi generasi mendatang supaya mereka tak melupakan sejarah," ucapnya. Kisah Inggit ini mencerminkan bentuk ideal pengabdian perempuan yang menawarkan nilai kepahlawanan. Keyakinan akan materi istimewa yang akan terkandung di film ini nanti membuat Benni melambungkan asa. "Mudah-mudahan saja film ini bisa menyentuh pemerintah pusat hingga akhirnya setuju menganugerahi gelar pahlawan nasional untuk Inggit," ucapnya. (Riesty Yusnilaningsih/"PR")*** http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=163112
