Riwayat sareng perjuangan pangersa Ir. Djuanda Kartawidjaja kedah teras diangkat sareng digaungkeun dina wacana politik dan budaya sareng jagat kahirupan umumna masyarakat di Tatar Sunda kanggo tuladaneun. Pohara ditungguna kiwari, "reinkarnasi" sang Djuanda. Mugia wae.
manar 2010/11/7 mh <[email protected]> > > > Ir. Djuanda Kartawidjaja: "Deklarator" Nusantara > > *"... adalah kewajiban mutlak kami tetap turut serta dengan seluruh rakyat > Indonesia, Pemerintah Republik Indonesia, serta segenap alat-alat kekuasaan > negara, membina dan membela dasar-dasar Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus > 1945 dalam keadaan apa pun juga adanya."* > (Pernyataan bersama Soekarno-Hatta, 13 September 1957). > > Sepintas mungkin ada yang bertanya, mengapa nama Djuanda, yang khas Sunda > itu, dijadikan nama bandara dan pelabuhan di luar Jawa Barat? Hal itu tak > lain karena jasa-jasa Djuanda, salah seorang putra terbaik Sunda yang telah > mengabdi bagi republik ini, sejak awal kemerdekaan, tanpa korupsi dan > menjilat atasan. Kinerjanya semakin diakui ketika ia menjabat perdana > menteri (1957-59). > > Kerja berat Djuanda Kartawidjaja begitu menjabat Perdana Menteri adalah > menyatukan kembali dwitunggal Soekarno-Hatta. Hubungan kedua tokoh bangsa > itu retak oleh berbagai hal, antara lain disebabkan adanya "gerakan protes" > sejumlah daerah. Melalui satu konferensi nasional, Djuanda mengumpulkan > tokoh-tokoh utama dari berbagai daerah untuk bertemu di Jakarta yang > kemudian menghasilkan Dewan Nasional. Misi utama perhelatan itu antara lain > untuk merekatkan kembali dwitunggal. Usaha itu berhasil dengan > ditandatanganinya Pernyataan Bersama oleh Soekarno dan Hatta. Kutipan di > awal tulisan ini memperlihatkan komitmen kuat keduanya untuk tetap menjaga > keutuhan Indonesia. > > Dengan langkahnya-langkahnya yang akomodatif tetapi didasari visi yang jauh > ke depan, kepemimpinan Djuanda segera dapat menggerakkan kembali roda > pembangunan Indonesia. Menjabat sebagai menteri hampir tanpa henti dengan > berganti-ganti posisi, Djuanda mengerti benar apa yang harus dia lakukan. > Sebelum menduduki kursi PM ia telah mendirikan pula biro perancang negara > yang menjadi cikal bakal Bappenas. Tanpa bermaksud mencemooh, kalangan pers > menjulukinya "Menteri Maraton". > > Lahir di Tasikmalaya, 11 Januari 1914, Djuanda melewatkan pendidikannya di > HIS, ELS, HBS, dan THS. Gelar insinyur dari THS ia raih pada 1933. Alih-alih > menjadi arsitek, Djuanda malah menjadi guru di sekolah Muhammadiyah di > Jakarta. Maklum, waktu itu ekonomi Hindia Belanda sedang jatuh, dikenal > sebagai malaise, lowongan pekerjaan sulit didapatkan. Atas saran Oto > Iskandar di Nata, Djuanda mengajar di AMS dan Kweekschool Muhammadiyah. > Sebelum memimpin Paguyuban Pasundan (PP) dan menjadi anggota volksraad, Oto > mengajar pula di sekolah ini. Atas rekomendasi Oto pula, Djuanda diangkat > sebagai direktur kedua sekolah itu. Sejumlah insinyur yang "menganggur" juga > ikut mengajar di sekolah tersebut. Kedekatan dengan Oto itu pula yang > membuat Djuanda sejak 1934 terlibat di PP. Ia diminta oleh Oto untuk menjadi > sekretarisnya. > > Masih adakah memori yang tersisa di tengah kita mengenai sosok Djuanda? > Sejumlah paparan berikut mungkin bisa memberikan sedikit jawabannya. > "Kata-katanya selalu tenang, rasional, datar. Kalau lazimnya > pembicara-pembicara waktu itu membangkitkan emosi para pendengar, kata-kata > Djuanda membikin orang berpikir," ujar Ukar Bratakusumah, sesama alumni THS > dan kawan seperjuangan di PP. "Tidak terburu-buru mengeluarkan pendapat. > Masalah dipelajarinya secara teliti lebih dulu, diperhatikannya situasi, > diperhitungkan waktu yang tepat untuk bicara, barulah beliau menyampaikan > pandangan dengan kata-kata yang terpilih. Diupayakannya singkat, yang > diucapkannya jelas dan pasti," kata Ukar menambahkan. > > "Pak Djuanda adalah pelopor perancangan pembangunan nasional," ujar Prof. > Bintoro Tjokroamidjojo menjelaskan. "Pak Djuanda (dibantu oleh Ali > Budiardjo) yang memimpin Biro Perancang Negara, dan kemudian berhasil > menyelesaikan penyusunan Rencana Pembangunan Lima Tahun 1956-1960, suatu > rencana pembangunan nasional yang cukup menyeluruh dan yang pertama di > Indonesia," katanya. > > Dalam catatan Prof. Roosseno, wafatnya Djuanda pada 1960 bahkan telah > mengubah jalannya sejarah Indonesia. "Pada zaman pemerintahan Soekarno, ada > dua orang yang memengaruhinya, yaitu Djuanda dan Soebandrio. Jika Ir. > Djuanda tidak meninggal, Soekarno tidak akan dipengaruhi oleh PKI. Sesudah > Djuanda meninggal, Soekarno terseret oleh Soebandrio...." dari paparan > Roosseno itu, jelas bagi kita bahwa Djuanda bukanlah pejabat yang suka asal > bapak senang. Ia berani menyampaikan apa adanya, salah atau benar. > > Namun, sebagaimana lazimnya orang baik dan jujur di negeri ini, niscaya > banyak yang tidak suka kepadanya. Catatan Jenderal Besar Nasution bisa > dijadikan rujukannya. "Pak Djuanda serius mengupayakan > stabilitas/rehabilitasi, tetapi oleh rekan-rekan menteri lain diserang > secara terbuka dalam rapat-rapat umum." > > Pada 1952, bertempat di Fakultas Teknik Universitas Indonesia di Bandung > (kampus bekas THS), Djuanda menginisiasi lahirnya organisasi profesi > Persatuan Insinyur Indonesia. Ia pun terpilih jadi ketuanya yang pertama. > Lalu ketika menjabat PM, pada 1957, Djuanda memutuskan untuk "mendirikan" > ITB. Awalnya Kementerian Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan, bermaksud > memisahkan Fakultas Teknik di Bandung itu dari UI dan akan menggabungkannya > dengan Unpad yang baru didirikan. Djuanda pula yang menentukan rektor dan > dewan kurator ITB yang pertama. > > Salah satu puncak karier Djuanda dicapai pada 13 Desember 1957. Ia > memproklamasikan suatu deklarasi dengan memakai namanya yang kelak menjadi > tonggak keutuhan tanah-air-udara nusantara. > > Deklarasi itu berbunyi: "Segala perairan di sekitar, di antara, dan yang > menghubungkan pulau-pulau atau bagian pulau-pulau yang termasuk daratan > negara Republik Indonesia, dengan tidak memandang luas atau lebarnya adalah > bagian-bagian yang wajar dari pada wilayah daratan negara Republik Indonesia > dan dengan demikian merupakan bagian dari perairan nasional yang berada di > bawah kedaulatan mutlak daripada negara Republik Indonesia. > > "Lalu lintas yang damai di perairan pedalaman ini bagi kapal asing terjamin > selama dan sekedar tidak bertentangan dengan kedaulatan dan keselamatan > negara Indonesia. Penentuan 12 mil yang diukur dari garis-garis yang > menghubungkan titik-titik terluar pada pulau-pulau negara Republik Indonesia > akan ditentukan dengan undang-undang." > > Melalui perjuangan panjang yang dimotori ahli hukum laut Mochtar > Kusumaatmadja, deklarasi itu diakui dunia internasional pada 1982. Dengan > deklarasi itulah, Indonesia berhasil memperjuangkan perairan antarpulaunya > menjadi wilayah negara sehingga luas Indonesia bertambah sekitar 3,7 juta > km2. Dalam ungkapan Sarwono Kusumaatmadja, hasil itu dicapai dengan, "Tanpa > perang dan marah-marah, hanya pakai otak, kita menjadi negara kepulauan > terbesar di dunia." > > Jika Soekarno-Hatta disebut proklamator Republik Indonesia, kira-kira > julukan apakah yang layak disandangkan kepada sosok yang telah > "mempersembahkan" tambahan wilayah negara seluas 3,7 juta km2 itu? Mungkin > julukan sebagai "Deklarator Nusantara" layak untuk dipertimbangkan. (Iip, > dari berbagai sumber)*** > > > >
