Ceuk sikuring mah kulantaran can ngabogaan elmu semar “ nyumput dinu caang , 
nemrak tapi teu katembong” jadi salah guru. Nyanggakeun 

 

Baktos

Ii Sumirat

 

 



http://hukum.kompasiana.com/2010/11/09/akibat-ceroboh-konspirasi-gayus-cs-berantakan/

Sebuah konspirasi rahasia dapat saja berantakan atau terbongkar akibat dari 
suatu kecerobohan. Salah satu saja anggota konspirasi melakukan kecerobohan 
itu, maka terbongkarlah rahasia mereka. Apalagi apabila konspirasi terebut 
dilakukan tanpa persiapan yang matang, tanpa koordinasi yang profesional, yang 
bisa membuat para anggota yang terlibat di dalamnya tidak kompak, atau suatu 
kejadian tak terduga, sehingga secara tidak sengaja membongkar sendiri 
konspirasi rahasia mereka.
Barangkali itulah yang telah terjadi dalam suatu konspirasi rahasia, atau 
pertemuan rahasia yang melibatkan tersangka mafia pajak tahanan Gayus Halomoan 
Tambunan dengan seseorang di Nusa Dua, Bali. Tepatnya di lokasi  saat 
pertandingan Tennis Tournament Commonwealth Bank of Champions di Nusa Dua, 
Bali, pada Jumat dan Sabtu (5 dan 6 November lalu).
Rencana suatu kosnpirasi itu akhirnya gagal, karena beberapa faktor kecerobohan 
yang justru dilakukan oleh para aktornya sendiri, dan satu kejadian tak terduga.
Kehebohan berawal dari berita bahwa Gayus "menghilang" dari tahanan Mako Brimob 
Kelapa Dua, Depok, pada Jumat, dan Sabtu lalu (5 dan 6 November 2010).
Kemudian di pertandingan tenis di Nusa Dua, Bali itu, para wartawan pun heboh, 
ketika mendapat kabar dari seorang petugas penyobek karcis yang mengatakan dia 
melihat seseorang yang sangat mirip Gayus yang menonton pertandingan tersebut.
Para wartawan pun mencari-cari Gayus. Akhirnya wartawan Kompas Agus Susanto 
berhasil mengambil gambar dari jarak jauh seseorang yang sangat mirip Gayus. 
Dilihat dari foto tersebut, bisa dikatakan bahwa orang tersebut bukan saja 
mirip, tetapi kembar.
Dari foto pembanding antara Gayus dengan orang yang dikatakan mirip Gayus 
tersebut kelihatan sekali bahwa keduanya kembar. Penampilan orang yang 
disebut-sebut media "mirip Gayus" tersebut, kelihatan memakai rambut palsu, dan 
gerak-geriknya yang sebentar-sebentar membetulkan rambutnya, dan menutup hidung 
dan mulutnya, merupakan tanda-tanda orang yang sedang gelisah karena takut 
penyamarannya diketahui.
Kita tidak perlu seorang pakar telematika, atau sejenisnya untuk bisa 
memastikan hal tersebut. Orang awam pun bisa dengan mudah mengenalinya karena 
antara keduanya mempunyai ciri-ciri yang bukan hanya mirip, tetapi sama. 
Terbukti seorang amatir tukang sobek karcis pun dengan mudah mengenalinya.
Inilah yang saya maksudkan sebagai suatu kecerobohan dari seorang anggota yang 
melakukan konspirasi yang mungkin sedang punya rencana untuk melakukan suatu 
pertemuan rahasia dengan seseorang.
Ceroboh karena penyamarannya terlalu amatir, hanya menggunakan rambut palsu, 
sedangkan semua ciri khas dari wajahnya tetap terbuka, sehingga siapapun bisa 
dengan mudah mengenalinya.
Lokasinya sengaja dipilih di tempat ramai, pertandingan tenis tersebut, supaya 
tidak terduga dan tidak terlacak. Inspirasinya mungkin muncul karena yang punya 
skenario suka menonton film-film detektif, dan menirukannya.
Konspirasi atau rencana pertemuan rahasia dengan seseorang itu pun berantakan, 
berawal dari bocornya berita yang mengatakan bahwa Gayus "hilang" dari tahanan 
di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok.
Kemudian diikuti dengan "ditemukan" seorang laki-laki yang wajahnya sangat 
mirip dengan Gayus, bahkan hampir dapat dipastikan itu Gayus yang sedang 
menyamar dengan menggenakan rambut palsu.
Pertanyaannya: Apabila terbukti bahwa orang itu benar-benar Gayus, untuk apa 
dia hadir di sana? Apakah hanya untuk demi menonton langsung pertandingan tenis 
tersebut? Padahal dia mengaku tidak hobi dan tidak suka dengan tenis?
Pengakuan Gayus ini sekaligus merupakan kecerobahan kedua, akibat dari ketidak 
kompaknya mereka yang terlibat dalam konspirasi tersebut.
Sebelum "Gayus" ditemukan di antara penonton pertandingan tenis itu, Kepala 
Divisi Humas Polri, Irjen Iskandar Hasan, membenarkan bahwa pada hari Sabtu 
lalu, Gayus sempat dikeluarkan dari tahanan, dengan alasan berobat. Kata dia, 
Gayus stres berat, dan meriang, dan minta diperiksa, berobat ke luar tahanan.
Entah karena Gayus tidak tahu ada keterangan dari Irjen Iskandar Hasan itu, 
ketika ditanya wartawan, dia dengan tegas-tegasnya membantah pernah sakit, dan 
keluarrumah tahanan. Gayus mengatakan bahwa dia sehat-sehat saja, dan tidak 
pernah keluar tahanan di luar acara pengadilannya
Dengan adanya dua keterangan yang sangat bertentangan ini saja, kita patut 
curiga bahwa memang ada sesuatu misteri di balik ini. Ada suatu konspirasi 
busuk di balik semua ini.
Salah satunya, atau dua-duanya pasti berbohong. Dan, untuk apa dia atau mereka 
berbohong?
Gayus juga membantah bahwa dia keluar tahanan sampai pergi ke Bali untuk 
menonton pertandingan tenis tersebut.
Lalu siapa laki-laki yang diambil gambarnya oleh wartawan Kompas Agus Susanto 
itu? Masa iya ada orang yang sedemikian mirip dengan Gayus?
Untuk menjawab misteri ini, kalau memang orang itu bukan Gayus, hanya mirip 
sekali saja. Maka perlu diupayakan untuk segera menghadirkan laki-laki tersebut.
Rasanya, tanpa dicari pun, kalau benar ada laki-laki yang sangat mirip dengan 
Gayus menonton pertandingan tenis itu, dan diambil gambarnya oleh Agus Susanto 
itu, dia pasti yang bersangkutan sudah memunculkan dirinya ke publik. Karena 
peristiwa ini tentu saja sangat tidak mengutungkan baginya. Dia perlu muncul 
untuk segera melakukan klarifikasi.
Investigasi lain yang bisa ditempuh adalah dengan memeriksa manifes penumpang 
dari beberapa maskapai penerbangan yang mengambil rute Jakarta-Bali, atau rute 
lainnya yang mengarahkan seseorang menuju ke Nusa Dua pada hari-hari tersebut.
Penjelasan susulan Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Iskandar Hasan, yang baru 
melengkapi keterangannya untuk memperkuat penjelasan dia sebelumnya, juga 
mengindikasikan adanya suatu kejanggalan dan kecerobahan yang membuat kita 
malah semakin curiga.
Dalam keterangan susulannya itu Irjen Iskandar Hasan mengatakan bahwa Gayus 
benar sempat dibawa keluar dari tahanannya dengan pengawalan untuk memeriksa 
kesehatannya di Rumah Sakit Polri Sukanto Kramat Jati, Jakarta Timur.
Tetapi, "perkara setelah berobat terus ngeloyor ke mana itu perkara lain lagi. 
Ini akan kami seldidiki," katanya.
Apakah ini keterangan bukan sebagai suatu upaya awal cucitangan karena 
terlanjur Gayus ketahuan ke Bali?
Bagaimanapun penjelasannya tetap saja janggal. Karena bukankah untuk keluar 
tahanan sekalipun dengan alasan berobat harus memperoleh izin tertulis terlebih 
dahulu dari Ketua Majelis Hakim yang sedang memeriksa perkaranya? Sedangkan 
Ketua Majelis Hakim yang dimaksud, Albertina mengaku, tidak pernah menerima 
permohonan tersebut, apalagi memberi izin kepada Gayus keluar tahananya.
Apakah ini bentuk suatu kecerobahan lain? Memberi suatu keterangan alibi, 
tetapi ternyata keterangan tersebut malah mengungkapkan suatu kebohongan atau 
setidaknya suatu pelanggaran aturan hukum; seorang tahanan dikeluarkan tanpa 
izin dari majelis hakim yang meriksanya?
Apabila ternyata benar bahwa Gayus-lah yang ditemukan sedang menonton 
pertandingan tenis di sana, pertanyaannya, apakah benar hanya demi menonton 
pertandingan tenis itu dia nekad berkomplot dengan petugas di rumah tahanannya 
itu berangkat jauh-jauh ke Bali hanya untuk menonton langsung pertandingan itu? 
Apakah dia seorang fanatik olah raga tenis? Karena hanya seorang yang 
benar-benar fanatik, yang bisa nekad seperti itu. Tidak cukup hanya nonton di 
televisi.
Sedangkan Gayus sendiri mengaku bahwa dia tidak suka dengan olah raga tenis.
Untuk mengetahui dia benar-benar suka atau tidak suka tenis, gampang saja, 
dengan menelusuri hobi-hobi dan kebiasaannya selama ini.
Kalau benar Gayus hadir di tribun penonton tersebut, sedangkan dia tidak suka 
tenis, lalu untuk apa dia di sana?
Apakah ada hubungan dengan kemunculan Aburizal Bakrie, yang anehnya menonton 
pertandingan tersebut dari tribun kelas biasa, bukan VIP.
Apakah tidak janggal seorang sekaliber Aburizal Bakrie menonton pertandingan 
tenis kelas dunia itu dari tribun penonton kelas biasa, bukan VIP? Apalagi 
kesannya seperti sembunyi-sembunyi, sebelum akhirnya "ketahuan"?
Kehadiran Aburizal Bakrie secara tak sengaja "ketahuan" mantan Ketua KONI Agum 
Gumelar yang juga sedang menonton bersama istrinya Menteri Pemberdayaan 
Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Gumelar, dan anak mereka.
Agum lalu berteriak memanggil-manggil Ical untuk datang duduk bersama mereka di 
tribun VIP. "Hai, Ical, sedang apa kau di situ. Ayo, bergabung di sini!" 
Demikian teriakan Agum yang didengar wartawan, sehingga menarik perhatian 
mereka. Maka secara tak sengaja wartawan pun memergoki Abu Rizal Bakrie yang 
entah kenapa hadir sendiri di sana, nonton dari tribun bukan VIP.
Mungkin saja, terlihatnya dia oleh Agum Gumelar juga bukan sesuatu yang 
dikehendaki. Untuk apa dia seorang diri nonton dari tribun bukan VIP? Untuk 
tidak menarik perhatian, atau tidak diketahui oranglain? Kenapa?
Maka suatu kejadian tak terduga pun terjadi, yang semakin memperkuat dugaan ada 
sesuatu misteri, atau pertemuan rahasia di balik hadirnya Gayus Tambunan, dan 
kemudian Aburixal Bakrie di lokasi yang sama itu.
Menurut Anda? ***






Kirim email ke