Transmigrasi
Mereka Pergi Menjemput Impian

"Geus Ma, tong ceurik wae. Do’akeun Syarif sing sehat tur bisa ngarobah
kahirupan di Gorontalo (Sudah Mak, jangan menangis terus. Doakan Syarif agar
sehat dan bisa memperbaiki kehidupan di Gorontalo)."

Tangisan Mak Ojoh pecah tatkala melepas kepergian putranya Syarifudin (29)
bersama istri, Titin Indrayani (26), Rabu (17/11). Dia sedih karena harus
berpisah dengan anak sulung dan menantunya itu. Seharian itu, Mak Ojoh hanya
bisa menangis. Jauh di lubuk hati, ia memendam perasaan khawatir jika anak,
menantu, dan cucunya kelak hidup dalam keadaan telantar di tempat yang baru.

Hari itu merupakan hari terakhir keluarga Syarifuddin berada di kampung
halaman, Desa Sindangasih, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis. Keesokan
harinya, bersama puluhan keluarga lainnya, keluarga Syarif diberangkatkan
menuju Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo. Sebenarnya, Mak Ojoh berharap
agar anak dan menantunya tetap bertahan di desa. Namun, tekad Syarif untuk
bertransmigrasi sudah bulat. Ia ingin meningkatkan kualitas kehidupan
keluarganya di lokasi yang baru.

Menurut Syarif, ayah dua anak itu, kemiskinanlah yang mendorong dia untuk
pergi ke daerah baru di luar Pulau Jawa. Di desanya, sehari-hari, Syarif
hanya berprofesi sebagai buruh tani, dengan penghasilan tidak menentu.
Penghasilan sebagai buruh tani tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari. Syarif dan Titin sangat berat untuk terus menjalani kehidupan
di Ciamis. Belum lagi untuk mencukupi kebutuhan lainnya, masih jauh dari
harapan. "Saya sudah bosan hidup miskin. Harapan saya, semoga saja di daerah
baru bisa berhasil," ujarnya.

Sesungguhnya, keluarga itu sudah mempersiapkan diri selama tujuh bulan untuk
pergi transmigarsi. Mulai berlatih menanam jagung, cokelat, hingga
berjenis-jenis usaha lainnya. Dia juga sudah mengurus administrasi
kepindahan sekolah anaknya ke Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis. Saat ini,
putri sulung Syarif, Sani Herliana, sudah duduk di bangku kelas III sekolah
dasar. "Karena Sani ikut, proses kepindahannya juga harus diurus. Sekarang
sudah beres, nanti di lokasi baru, bisa langsung daftar ke sekolah
terdekat," ujarnya.

Hal serupa juga melatari kepergian Darso, calon transmigran asal Desa
Sukajaya, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis. Bahkan, keluarga ini sudah
menunggu selama tiga tahun. Darso bersama istrinya, Yati, bertekad untuk
menggapai sukses di daerah yang baru. "Saya teu hayang ngagugulung kasusah
terus (Saya tidak mau memelihara kesulitan)," katanya.

Heriyanto (33) asal Desa Purwasari, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis
justru "nekat" bertransmigrasi karena melihat kesuksesan bekas tetangganya,
Saerun. "Saya ingin anak saya, Arista (7), nantinya bisa kuliah. Kalau tetap
bertahan di desa di Purwasari, apalagi tanpa pekerjaan tetap seperti ini,
tidak mungkin saya bisa menguliahkan anak. Makanya, saya harus
bertransmigrasi," katanya.

**

Kamis (18/11), Pemerintah Kabupaten Ciamis memberangkatkan lima belas
keluarga transmigran ke Gorontalo. Akhir bulan ini, sepuluh keluarga lagi
akan diberangkatkan menuju Kabupaten Konawe Utara, Provinsi Sulawesi
Tenggara.

Kepala Dinas Transmigrasi, Tenaga Kerja, dan Sosial Kabupaten Ciamis H.
Yasmin Sambas mengungkapkan, pada tahun 2010 ini, Ciamis memberangkatkan
lima puluh keluarga. "Kendati demikian, jumlah pendaftar terus bertambah.
Hingga kini, tercatat sudah ada 374 keluarga. Karena kuota terbatas,
terpaksa kami lakukan seleksi," katanya.

Ia mengatakan, bila dibandingkan dengan daerah-daerah lain di wilayah
Priangan timur, minat warga Kabupaten Ciamis untuk bertransmigrasi sangat
tinggi. Kepergian mereka karena latar kehidupan di kampung halaman yang tak
beruntung. "Ini diperkuat dengan jiwa petualangan warga Ciamis yang dikenal
sangat tinggi," tuturnya.

Pelaksana Harian Sekretaris Sekretaris Daerah Kabupaten Ciamis Tiwa
Sukrianto mengatakan, tingginya minat transmigrasi dikarenakan masih banyak
warga Ciamis yang hidup di bawah garis kemiskinan. Mereka berharap,
transmigrasi menjadi lantaran untuk bisa mengecap kehidupan yang lebih baik.
"Jujur kami katakan, kemiskinan merupakan masalah pokok yang menjadi
pendorong warga beramai-ramai menjadi transmigran. Kami dorong mereka,
dengan berbagai upaya, agar sejahtera di daerah baru," katanya.

Hanya, karena keterbatasan anggaran (dan kuota lokasi baru untuk ditempati),
belum semua pendaftar bisa diberangkatkan. "Semoga tahun depan ada yang
berangkat lagi dan kuota Ciamis bertambah," kata Tiwa.

Berdasarkan data, sejak tahun 2001 sampai bulan September 2010, jumlah warga
Kabupaten Ciamis yang bertransmigrasi sudah mencapai 1.858 orang. Hasil
kajian yang dilakukan oleh badan perencanaan pembangunan daerah, sebagian
besar warga yang bertransmigrasi menuai keberhasilan. "Ada juga yang gagal,"
ujarnya. (Undang Sudrajat/"PR")***

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=164676

Kirim email ke