Angklung Dalam Kurikulum Sekolah

Oleh Dindin Samsudin

Setelah penantian yang cukup panjang, akhirnya 18 November 2010, Kota
Nairobi Kenya di Afrika Timur menjadi saksi dalam peresmian dan penetapan
angklung sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia oleh PBB. Sebagai urang
Sunda dan orang Indonesia kita bersyukur dan berbangga diri karena alat
musik asli Jawa Barat ini telah mendapat tempat terhormat dan mendapat
pengakuan di jagat raya. Kita sudah sepantasnya bersyukur karena untuk
menempatkan angklung menjadi warisan budaya dunia bukanlah suatu pekerjaan
mudah. Pasalnya, untuk memperoleh pengakuan dan pengukuhan itu harus melalui
proses penelitian, penelusuran dokumen, dan penilaian dari seluruh anggota
UNESCO yang jumlahnya 147 negara.

Sungguh butuh perjuangan dan perjalanan yang panjang agar angklung ini dapat
diakui sebagai warisan budaya dunia asli Indonesia. Perjuangan panjang yang
dimaksud di antaranya Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata melalui Dirjen
Seni dan Nilai Tradisional harus mengumpulkan dokumen-dokumen sejarah yang
membuktikan bahwa angklung memang berasal dari Indonesia. Beruntung Dirjen
Seni dan Nilai Tradisional berhasil menemukan dan membuktikan dokumen
penting tersebut. Salah satu dokumen penting adalah terdapatnya prasasti
yang menunjukkan bahwa angklung pertama kali ada dan ditemukan di Sukabumi
Jawa Barat pada 1903 dan pernah dipersembahkan sebagai cendera mata kepada
Raja Thailand.

Pengukuhan angklung oleh badan PBB sebagai warisan budaya dunia asli
Indonesia ini sekaligus menambah daftar mata budaya Indonesia yang masuk
warisan budaya dunia. Angklung merupakan daftar mata budaya keempat
Indonesia yang sudah diakui sebagai warisan budaya dunia setelah sebelumnya
pengakuan terhadap wayang, keris, dan batik. Setelah berhasil memperjuangkan
pengakuan angklung oleh dunia, apakah sudah selesai perjuangan? Tentu saja
belum! Perjalanan ke depan setelah angklung resmi dikukuhkan sebagai warisan
budaya dunia asli Indonesia tentu bangsa Indonesia masih memiliki satu
tantangan dan kewajiban untuk terus berjuang agar angklung ini lestari.
Suatu perjuangan yang masih terasa cukup berat ketika bangsa ini harus
mewariskan alat musik goyang berbahan dasar bambu ini kepada generasi muda
penerus bangsa.

Tak dapat dimungkiri, keberadaan dan kelestarian angklung di masa depan
berada di tangan anak-anak sekarang sebagai generasi penerus bangsa di masa
depan. Pengenalan dan pembelajaran angklung sejak dini menjadi prioritas
utama yang harus dilakukan agar anak-anak menguasai dan mahir dalam
memainkan angklung. Jika sudah mengenal dan menikmati seni angklung, tentu
anak-anak akan memiliki rasa mencintai dan memiliki terhadap angklung.

Terdapat satu hal yang cukup menggembirakan dalam hal pelestarian angklung,
yaitu Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan cukup antusias dan memiliki
kepedulian dalam upaya terus melestarikan angklung. Menurut dia, Pemerintah
Provinsi Jawa Barat akan memasukkan angklung ke kurikulum sekolah sebagai
mata pelajaran muatan lokal. Selain itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga
akan mendukung pelestarian angklung dengan membangun gedung pertunjukan
khusus.

Pernyataan gubernur layak diberi apresiasi. Rencana pemerintah untuk
memasukkan kesenian angklung ke kurikulum sekolah patut segera
ditindaklanjuti secara serius. Untuk mendukung rencana baik ini tentu saja
diperlukan komitmen bersama dari semua pihak. Kebijakan untuk menjadikan
kesenian angklung sebagai salah satu mata pelajaran yang dipelajari di
sekolah-sekolah merupakan salah satu upaya yang efektif dalam rangka
pengenalan dan pembelajaran angklung sejak dini. Dengan cara memasukkan
kesenian angklung ke kurikulum sekolah atau menjadikan bagian dari pelajaran
ekstra di sekolah, diharapkan kesenian angklung akan menjadi bagian seni
budaya yang hadir di setiap sekolah sehingga angklung menjadi dekat dengan
siswa. Sekolah tentu saja menjadi tempat yang dapat diandalkan karena
keberadaannya tersebar di seluruh pelosok. Dengan demikian, sekolah sangat
memungkinkan untuk dijadikan sebagai tempat pengenalan dan pembelajaran
kesenian angklung sejak dini kepada anak-anak dibandingkan dengan tempat
lainnya.

Perlu diketahui, masuknya kesenian angklung sebagai kurikulum di sekolah
sebenarnya sudah dilakukan sejak era pemerintahan Orde Baru. Hal itu
tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 1968 yang
mewajibkan angklung sebagai pendidikan kesenian di sekolah seluruh
Indonesia. Akan tetapi, alunan merdu angklung sebagai pendidikan kesenian
wajib di sekolah mulai terhenti sejak berakhirnya zaman Orde Baru. Sekarang
merupakan saat yang tepat untuk mengaplikasikan kembali peraturan tersebut
karena sampai detik ini pun peraturan menteri tersebut belum pernah dicabut.


Ironisnya, belakangan ini pendidikan kesenian angklung di sekolah yang dulu
pernah dicanangkan di seluruh Indonesia sudah tergantikan dengan alat musik
modern. Kini, pendidikan kesenian di sekolah lebih banyak menggunakan alat
musik modern dengan alasan kemudahan mendapatkan sarana tersebut. Pendidikan
kesenian angklung di sekolah pun sudah lama vakum sehingga berdampak kepada
menurunnya jumlah tenaga pengajar, menjauhnya seni angklung dengan siswa,
dan terhambatnya peredaran alat musik angklung di sekolah.

Namun, akan lebih ironis lagi jika rencana memasukkan angklung ke kurikulum
sekolah yang dilontarkan oleh orang nomor satu di Jawa Barat tadi sekadar
wacana yang tak teraplikasikan. Di negeri ginseng Korea Selatan saja yang
notabene tidak punya budaya angklung justru memiliki kurikulum angklung yang
resmi dipelajari di sekolahnya. Menurut kabar, ada sekitar 8.000 sekolah di
Korea Selatan yang mempelajari angklung sebagai mata pelajaran. Bangsa lain
sudah peduli terhadap angklung, kini saatnya bangsa kita memedulikannya! ***

Penulis, pencinta seni dan staf Balai Bahasa Bandung, tinggal di Cibeunying
Kolot.

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=164899

Kirim email ke