Asa Siti yang tak Kunjung Padam... TIDAK ada kata berhenti belajar bagi seorang Siti Maryam Salahuddin. Pada usianya yang telah senja, Siti tak pernah patah semangat untuk terus memperkaya dirinya dengan ilmu pengetahuan. Pada wisuda Universitas Padjadjaran (Unpad) gelombang I tahun akademik 2010/2011, Siti dinobatkan sebagai peraih gelar doktor tertua di Unpad. Dia lulus dari bidang filologi, Fakultas Sastra, Unpad pada usia 83 tahun 4 bulan dengan disertasi tentang naskah-naskah kuno (manuskrip) Kab. Bima, Nusa Tenggara Barat.
Dalam jangka waktu tiga tahun, Siti menyelesaikan kuliah dan disertasinya. Dia mengerjakan disertasi dengan metode doctor by research karena langsung melakukan penelitian dengan manuskrip yang dimilikinya. Ibu dari tiga anak ini mengaku tidak menemui hambatan berarti selama kuliah dan menyelesaikan disertasi. Hanya, dia terpaksa bolak-balik Kota Bandung (Jawa Barat)-Kab. Bima (NTB) demi menyelesaikan program doktornya. Dengan kondisi fisik yang masih kuat, Siti bisa melewati hal tersebut. "Sejak dulu saya ini rajin olah raga, jadi sekarang tidak mudah lelah. Selama mengerjakan disertasi saya dibantu asisten yang membantu untuk mengetikkan, karena saya tidak bisa pakai komputer," tuturnya saat ditemui seusai wisuda, di Kampus Unpad, Jln. Dipati Ukur, Kota Bandung, Selasa (23/11). Minat Siti pada bidang filologi adalah karena kepeduliannya pada naskah-naskah kuno berisi catatan sejarah NTB yang terancam punah. Menurut dia, sebagai bangsa yang besar, seharusnya kita tidak boleh melupakan sejarah. Dia sangat prihatin karena banyak naskah kuno berisi sejarah Indonesia yang diperjualbelikan ke luar negeri. Sebagai wujud kepeduliannya, Siti akhirnya membangun museum naskah kuno yang dia beri nama Samparaja di daerah asalnya, Kab. Bima. Manuskrip yang Siti temukan, dia simpan dan awetkan sebelum akhirnya dimasukkan dalam museum yang dia miliki. Selain catatan sejarah, pada manuskrip yang dia temukan juga tertuang tentang hukum dan ilmu perbintangan. Kebanyakan naskah-naskah kuno itu diterbitkan pada tahun 1600-an sampai 1800-an. "Saya kumpulkan naskah-naskah kuno yang saya temukan ini. Kendati bahasanya tidak mudah dimengerti, karena memakai bahasa Arab gundul, tetapi saya coba untuk menerjemahkannya. Saya menemukan banyak cerita penting di situ, termasuk peristiwa meletusnya Gunung Tambora pada 1815 yang dinilai sangat dahsyat karena abunya sampai ke Eropa," ujar nenek dari 3 cucu dan buyut dari 2 cicit ini. Siti merupakan putri ke-6 Sultan Bima, Muhammad Salahuddin. Pada awalnya, sang ayah tidak mengizinkan Siti untuk bersekolah tinggi. Akan tetapi, Siti mendobrak hal tersebut, dan membuktikan dia bisa sukses menyelesaikan pendidikannya. Siti berhasil menyelesaikan pendidikan S-1 dan S-2 di Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada 1953 sampai 1960. Saat itu, Siti merupakan putra daerah yang pertama kali meraih gelar sarjana dan master di NTB. Setelah lulus kuliah di UI, Siti bekerja di Departemen Kehakiman RI. Akan tetapi, Gubernur NTB Ruslan Cakraningrat, yang saat itu menjadi gubernur pertama NTB memanggil Siti untuk membangun daerahnya. "Saat itu, NTB baru terbentuk. Saya dipanggil gubernur untuk membangun daerah. Akhirnya saya pulang dan menjadi staf gubernur selama hampir 35 tahun. Saya menjadi salah seorang yang membentuk Kota Mataram dan Kab. Bima. Saya juga sempat menjadi Pelaksana Tugas Bupati Bima pada 1966," kata Siti yang lahir di Kab. Bima, 13 Juni 1927. Istri dari S. Rahmat (alm.) ini menuturkan, dirinya selalu aktif di berbagai kegiatan. Ketika mendapat kesempatan dari Unpad pada 2007 untuk meraih gelar doktor, Siti langsung menyambut baik tawaran tersebut. Apalagi asanya untuk terus menimba ilmu tak pernah padam. Siti pun sengaja berkonsentrasi pada bidang ilmu filologi, karena tertarik dengan naskah-naskah kuno yang dia temukan. Selain ingin melestarikan manuskrip yang ada di NTB, Siti juga aktif berkeliling Indonesia untuk mencari naskah-naskah kuno. Dia sempat singgah ke Cirebon, dan menemukan Alquran yang ditulis tangan berabad-abad yang lalu. Siti bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional dalam bentuk memberi informasi jika ada manuskrip yang dia temukan. Tekad Siti saat ini adalah harus menguasai manuskrip yang dia temukan sebelum naskah-naskah tersebut rusak atau bahkan hilang. Dia juga ingin memberikan pelatihan kepada generasi muda agar bisa membaca manuskrip tersebut. "Mumpung saya masih hidup, ilmu saya membaca manuskrip ini harus dibagi-bagikan. Saya akan membuka pelatihan bagi generasi muda yang tertarik untuk turut serta melestarikan salah satu kekayaan yang dimiliki Indonesia ini. Generasi muda tidak boleh mengabaikan sejarah, dan sejarah tertuang dalam naskah-naskah kuno itu," ucap Siti. (Windy Eka Pramudya/ "PR")*** http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=165296
