)
By Aminudin Euy Today at 7:31am
Ketika Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) 
melansir data bahwa setiap hari ada 10 atau 100 bahasa ibu lenyap di muka bumi 
ini, apa yang ada di benak kita? Khawatir atau tertantang? Kalau mengutip puisi 
Widji Tukul, ”Hanya ada satu kata: lawan!” Melawan di sini bisa berarti timbul 
kesadaran dan kemauan lebih untuk mempertahankan dan mengembangkan Ki Sunda.

Sunda adalah sebuah ranah mahaluas dengan segala kearifan lokal (local genius) 
yang terus mengalami benturan. Tulisan ini berangkat dari banyaknya tanggapan 
yang seakan membuat kita peunggas harepan. Kita hanya diberi komentar-komentar 
yang dibarengi dengan solusi-solusi semu dan itu-itu juga.

Padahal, pergerakan orang-orang yang peduli akan Ki Sunda semakin hari semakin 
menggairahkan. Ada sebuah pencerahan dan optimisme bahwa orang-orang yang 
bergerak secara militan (tentu tanpa pamrih apa pun) telah dan tengah bergeliat.

Nasib bahasa Sunda

Hal utama yang biasa menjadi sorotan adalah penggunaan bahasa Sunda pada 
generasi sekarang. Zaman yang berubah dengan segala media di dalamnya mau tak 
mau turut menggerus budaya bertutur bahasa Sunda. Tidak elok jika generasi 
sekarang yang disalahkan. Ada banyak benang merah saling berkelindan, mengapa 
hal itu bisa terjadi.

Selain pengaruh globalisasi memang ada, faktor lain yang menghambat, di 
antaranya, tingkat gengsi masyarakat kita dalam menggunakan bahasa Sunda serta 
pola pendidikan yang kurang maksimal. Ada yang menyatakan, guru bahasa Sunda di 
sekolah ”asal” alias tidak sesuai dengan bidang.

Selain itu, penyediaan buku ajar/buku referensi tentang kesundaan kerap pacorok 
kokod dengan kisruhnya kepentingan proyek. Namun, hal ini berhubungan juga 
dengan pola kebijakan yang berwenang untuk tegas dan fokus memperbaiki kondisi 
ini secara konkret. Kalau terus sekadar menjadi wacana? Ya, keneh kehed.

Dalam kehidupan sehari-hari, faktanya penutur bahasa Sunda bagi generasi 
sekarang tidak parah-parah amat. Masih banyak remaja Sunda yang menggunakan 
bahasa ibu mereka. Namun, mungkin kalau ukurannya undak usuk basa, kondisinya 
bisa dikatakan jauh dari harapan. Hal ini hendaknya kita lakukan dengan konsep 
learning by doing.

Apakah mereka, misalnya, tetap akan menggunakan bahasa kasar ketika bicara 
kepada yang lebih tua? Akan lebih baik jika yang mengerti bahasa Sunda ikut 
ngageuing jika ada kata atau kalimat yang kurang berkenan dalam situasi 
tertentu. Dengan demikian, akan timbul pola belajar berbahasa yang tidak kaku.

Begitu pula dengan media lain, kita dituntut untuk bisa ngigelan paneka jaman. 
Ada banyak ruang untuk mengenalkan khazanah bahasa Sunda, misalnya dengan media 
internet. Telah banyak yang peduli dengan semangat militan untuk ngawanohkeun 
bahasa Sunda.

Cobalah sekali-kali kita mengunjungi situs web, blog, atau grup jejaring sosial 
yang berisi khazanah Sunda, dari bahasa, peperenian, hingga komentar anggotanya 
menggunakan bahasa Sunda. Ini menjadi bukti bahwa urang Sunda telah bersikap 
think local act global. Kita bisa melek dengan media yang ada tanpa terus 
humarurung memikirkan nasib, bak pemain badminton terus dihajar smes lawan.

Kearifan lokal

Kearifan lokal di Tatar Sunda adalah anugerah yang patut kita syukuri. Kearifan 
lokal dalam wujud seni, budaya, permainan, folklor (sastra), dan sebagainya 
tersebar hampir di setiap daerah. Kenyataannya, memang ada kondisi bahwa pegiat 
kearifan lokal di pinggiran seakan termarjinalkan. Hal ini terjadi karena 
beragam faktor, yaitu kurangnya peminat generasi selanjutnya untuk memelihara, 
kalah bersaing dengan budaya modern, serta minimnya unsur komersial. Pemahaman 
ini memang perlu didekonstruksi dengan tindakan di luar kebiasaan.

Contohnya adalah kisah alat musik Sunda, karinding, yang oleh pembuatnya 
dianggap akan lenyap oleh zaman. Namun, berkat sikap militan sebagian 
komunitas, karinding bisa ditampilkan dengan konsep lain. Maka, muncul 
Karinding Attack yang bersinergi dengan musik underground, seperti yang 
dilakukan Kimung Core dan kawan-kawan di komunitas Ujungberung Rebels.

Malah dalam ranah dunia maya (internet), baru-baru ini, saya tercengang dengan 
pemuda Sunda yang ngumbara di Jepang. Sosok Dhany Irfan dan kawan-kawan dalam 
naungan Masagi Studio telah melahirkan karya unik nan fenomenal. Karya itu 
berupa aplikasi waditra yang bisa digunakan di gadget terkini. Angklung, 
gamelan, dan kendang bisa dimainkan di telepon seluler dan gadget lain. Karya 
ini telah menjadi tren di luar negeri. Banyak pencinta seni di luar negeri 
mengunduh dan memakai aplikasi ini.

Bukan hanya dalam bidang seni, ngamumule dan ngawanohkeun Ki Sunda pun 
dilakukan oleh pelaku militan kesundaan lain. Kita mengenal forum sawala 
(diskusi) rutin yang dilakukan Pusat Studi Sunda, kegiatan wisata dan apresiasi 
sejarah Komunitas Aleut, kegiatan seni budaya Sunda oleh Daya Mahasiswa Sunda, 
kreasi dan apresiasi sastra baraya Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda, serta 
pelestarian kaulinan oleh Komunitas Hong.

Jika disebutkan satu per satu, mungkin tulisan ini tidak akan cukup menampung 
bagaimana kiprah orang-orang Sunda yang bergerak secara militan itu. 
Kenyataannya, walaupun bergerak di lini masing-masing (kadang tidak saling 
mengenal), toh pada akhirnya mereka juga dihubungkan oleh sejumlah simpul.

Untuk itulah, ke depan dibutuhkan ruang untuk menampung hasil karya mereka. 
Kalau sudah begini, kita patut reueus bahwa ”kematian” Ki Sunda ternyata 
hanyalah embusan angin lalu.

Patut digarisbawahi, media informasi yang terus berkembang hendaknya bisa 
menjadi media yang produktif untuk ngawanohkeun kegiatan orang-orang yang 
peduli dengan Ki Sunda. Salah satunya adalah kehadiran Kompas Jawa Barat yang 
rutin memberikan informasi mengenai khazanah kesundaan di berbagai daerah ini. 
Begitu pula dengan media lain, seperti internet, radio, atau televisi, kita 
bisa mengemasnya sehingga lebih mengena di masyarakat. Sudah waktunya kita 
tampil beda dan fleksibel dalam menggarap kekayaan Ki Sunda.

Zaman yang terus berubah menuntut kita berpikir lebih terbuka dan mampu 
menghasilkan sesuatu yang berbeda. Dengan catatan, isi dan maksud yang diemban 
tidak keluar jalur. Slogan hurip Ki Sunda atau hayu urang ngariksa jeung 
ngamumule Ki Sunda bukan sebatas lisan dan mendadak melempem ketika dituntut 
dalam tindakan nyata.

Urang Sunda jangan punya elmu ajug. Artinya, kepada orang lain kita bisa 
memberikan nasihat ini-itu, tetapi kita sendiri tidak mengaplikasikannya dalam 
keseharian.

Aminudin, Aktivis Kegiatan Sunda; Penulis Lepas

Sumber: 
http://cetak.kompas.com/read/2010/11/27/15350666/nasib.ki.sunda.dan.militansinya


      


------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke