leres, sanes primitif , komo animisme, dinamisme mah, hn+R3M 2010/12/10 hangjuang bodas <[email protected]>
> > > Ieu aya artikel ngeunaan masarakat adat jeung konotasi kecap primitif, > beunang nyair ti milis tatangga. > > Koran Tempo, 24 November > 2010<http://epaper.korantempo.com/KT/KT/2010/11/24/ArticleHtmls/24_11_2010_012_013.shtml?Mode=1> > *Mereka Bukan Primitif!* > *Oleh: Roy > Thaniago*<http://roythaniago.wordpress.com/2010/11/24/mereka-bukan-primitif/> > > *Kalau kita merasa tidak ada masalah dengan kata “primitif” yang > berkeliaran bebas, maka tulisan ini akan membuatnya tampak sangat > bermasalah. Dan kalau tetap merasa tidak ada masalah, mungkin masalahnya ada > pada diri Anda. Saran saya:segera temui psikiater terdekat.* > > > > *PRIMITIVE RUNAWAY*, sebuah tayangan televisi, yang mungkin merupakan > titik kulminasi hasil pemahaman kolektif masyarakat Indonesia tentang > masyarakat adat, adalah salah satu sumber masalah itu. Tayangan ini bukan > saja mengandung satu, tapi tiga masalah sekaligus: (1) mendiskriminasikan > masyarakat adat dengan menyematkan predikat “primitif”, (2) merekayasa > realitas kehidupan masyarakat adat, dan (3) mereproduksi dan menyebarkan > kesesatan berpikir mengenai masyarakat adat. > > > > Program baru Trans TV yang diputar seminggu sekali ini menayangkan kisah > perjalanan dan aktivitas pasangan selebritas di suatu komunitas masyarakat > adat. Jualan kecapnya sudah seksi sejak awal, yakni memperolok eksotisme dan > membenturkan modernitas dengan tradisionalitas. Ramuan ini melahirkan cerita > dan konflik. Pengusaha memang selalu tahu resep tokcer. > > > > Lantas apa masalahnya? Mari simak edisi 31 Juli 2010 dengan bintang tamu > Ramon dan Ladya Cheryl yang berkunjung ke suku Sakkudai, Mentawai. Lewat > sudut pandang yang diambil, pemirsa disuguhi kesesatan dan kebohongan > mengenai orang Sakkudai yang ditampilkan bodoh, terbelakang, dan jauh dari > santun. Ada adegan orang Sakkudai yang menjilati bingkisan yang diberikan. > Ada adegan di mana kedua bintang tamu oleh orang Sakkudai dipaksa mengenakan > pakaian adat, bahkan seorang perempuan tua bertelanjang dada “beraksi” > dengan berusaha melepaskan paksa busana “kota” Ladya. Tak kalah seru, > ditampilkan pula adegan pemaksaan melakukan tradisi kikir gigi dan tato > tubuh kepada para artis. > > > > Benarkah apa yang terlihat di layar kaca dibandingkan dengan situasi > sebenarnya? Mungkinkah suatu komunitas yang selama ini dikenal arif dalam > tradisinya, terlebih hanyalah kelompok minoritas, berani memaksakan > tradisinya kepada mereka yang datang dengan busana berbeda sambil menenteng > Blackberry dan menggotong kamera besar? Apakah saya ingin mengatakan itu > semua bagian dari rekayasa yang selama ini memang menjadi mainan para > pekerja industri televisi kita? Simpan dulu jawabannya. > > > > Edisi lain pada 28 Agustus dan 4 September 2010, yang masing-masing > bertempat di masyarakat adat Sasak Bayan (Lombok) dan Tuatunu (Pangkal > Pinang), pun menampilkan hal yang sama, bahwa masyarakat adat adalah bodoh, > terbelakang, dan tidak santun. Bahwa masyarakat adat selalu memaksa tamu > dari luar untuk turut menjalankan tradisi mereka. Bahwa masyarakat adat > adalah makhluk aneh yang perlu disorot handycam (dipegang oleh bintang tamu) > sepanjang waktu, sekalipun telanjang. > > > > Dan rupanya tayangan ini “berhasil” mereproduksi dan menyebarkan kesesatan > berpikir mengenai masyarakat adat, karena beginilah bunyi dari para * > follower* yang ada pada laman Twitter @primitiverunaway: *(1) lo boleh > komentar, episode kali ini kurang primitif nih.. but, it’s okay.. bs nambah > pngtahuan adat di bali.. , (2) yep, episode ini kurang primitive! klo blh > ksh msukan, ak prnah liat org luar k derah klimantan. ad tradisi ngeludah d > rmah, (3) Di suku pedalaman papua aja.. Yg msh kanibal.., (4) You’re great! > I love. Tapi edisi kali ini, kurang primitif & terlalu setting. Sorry. Maju > terus ya!* > > > > *Warisan kolonial* > > > > “Itu ucapan yang sangat kasar. Orang akan marah sekali,” dengan bahasa > Indonesia cadel seorang kawan Australia menanggapi pertanyaan saya tentang > “primitif”. Di negaranya, istilah “primitif” haram untuk digunakan, baik > dalam komunikasi verbal maupun media massa. Bahkan pemerintah Australia > sampai perlu mendirikan lembaga bernama Equal Opportunity Commission agar > masyarakat dapat mengadukan perlakuan diskiminatif yang terjadi. > > > > Istilah “primitif” datang dari bahasa Latin, primitivus, artinya “yang > pertama atau terawal dalam jenisnya”. Istilah ini pertama kali dipakai oleh > para penulis dan penjelajah barat dalam mendeskripsikan masyarakat di luar > budayanya. Mereka melukiskan masyarakat primitif sebagai tidak beradab, > biadab, ganas, dan kejam. Tujuannya jelas, dengan merendahkan, mereka bisa > menjajah dengan lebih leluasa. > > > > Pada 27 Februari 2009 di harian The Independent, direktur Survival > International Stephen Corry berpendapat bahwa pemerintah mengambil > keuntungan dari kekeliruan pemahaman masyarakat dalam memprimitifkan > masyarakat adat. “Kebodohan” dan “keterbelakangan” menjadi alasan pemerintah > untuk “mendidik” dan “memodernkan” masyarakat adat. Dan atas nama > pembangunan, “keprimitifan” menjadi alat pembenar untuk merampas tanah > masyarakat adat. > > > > Memprimitifkan adalah mental penjajah. Ia adalah warisan kolonial yang > kemudian malah diadopsi negara-negara yang baru merdeka pasca Perang Dunia > II (Domman, 2008:4-5 dalam Rizaldi Siagian, Kompas 13 Desember 2009). > Menggelikan, memprimitifkan orang lain dipakai para terjajah untuk menjajah! > > > > Adalah sebuah kepandiran ketika kita menghakimi suatu kebudayaan dengan > memakai kacamata budaya sendiri. Adalah ketidakadilan kalau kita mengukur > seseorang melalui ukuran kita. Itu adalah sikap etnosentris yang sangat > bertentangan dengan pendekatan kebudayaan yang relativis (Nakagawa, > 2000:8-9). Karena itu John Simpsons, editor BBC, berkata, “Tidak ada yang > primitif dalam masyarakat adat kecuali pandangan kita terhadap mereka.” > > > > Masyarakat adat hanya memiliki cara hidup yang berbeda dengan kebanyakan > orang, tapi mereka bukan primitif – tidakkah keteguhan cara hidup mereka > yang khas itu suatu keindahan? Mereka tidak tinggal di masa lalu, karena > kelompok masyarakat manapun selalu berubah dan beradaptasi seturut tuntutan > jaman – dan konteks sosial-kultural mereka memang tidak membutuhkan Bvlgari > dan Senayan City. Pun mereka tidak terbelakang, mengingat cara mereka dalam > mengatasi hidup – seperti kembali mengutip Simpsons, “Kerumitan > masyarakatnya, kemampuan yang luar biasa dalam melangsungkan eksistensi > mereka dan memanfaatkan alam sekitar, membuat kita bertanya-tanya.” > > > > Memprimitifkan suatu kelompok masyarakat adalah bentuk diskriminasi. Ini > merupakan sebuah pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia. Harian > terkemuka di Inggris seperti The Guardian dan The Observer, sejak 2009 sudah > melarang penggunaan terminologi “primitif” untuk mendeskripsikan masyarakat > adat. > > > > Primitif adalah pelabelan yang menyakitkan. Ia oleh masyarakat kebanyakan > dimaknai biadab, bodoh, terbelakang, dan “belum manusia”. Melihat situasi > sekarang – seorang ibu membakar anaknya hidup-hidup, pekerja LSM memperkaya > diri lewat proposal fiktif, bupati mengorupsi uang rakyat, agama menjadi > pembenar untuk melakukan kekerasan, dokter menolak pasien miskin, televisi > menebar kekerasan dan kebodohan – siapakah yang biadab? Siapakah yang > primitif? Anda boleh jawab sekarang. (ROY THANIAGO) > > http://roythaniago.wordpress.com/2010/11/24/mereka-bukan-primitif/ > > > > > > > >
