sapuk lamun misi Ajengan nyaeta ngingetkeun aspek moral ka calon ekonom (boa2 khususon ka ekonom UI?) ulah kasima teuing ku Gordon Gecko "greed is good". Prof Mubyarto teu didenge...leres margi di UGM oge Mubyarto eleh ku Gordon Gecko.
JP Makarya Mawa Raharja ________________________________ Dari: Tubagus Rifki L <[email protected]> Kepada: [email protected] Terkirim: Jum, 17 Desember, 2010 08:04:53 Judul: [kisunda] Re: Kuliah Pupuhu PB NU perkara Ekonomi Ajengan ngingetan ka para calon ekonom Indonesa nu aya di FEUI kudu ngaggali deui ekonomi karakyatan anu paradigmana lain 'pasar.' Elmu ekonomi nu keur dipelajari di eta fakultas ngagem kana paradigma pasar, sanajan geus robah-robah ti jaman Adam Smith, Richardson, Keynes, Galbrait jeung sajabana. Model ekonometrikna, model statistikna, model nu dicandak ti wangunan pamikiran pasar jeung hasil riset empiris di nagara-nagara nu ngagem kana kapasaran. Kapungkur di dinya dugi ka aya istilah mafia 'berkeley.' Mahasiswa-mahasiswa ieu seueur nu janten panangtu kabijakan ngeunaan pangwangunan ekonomi di pamarentahan, utamina jaman Abah Harto. Duka tah ayeuna kang Ikhsan (Prof. M Ikhsan) ka lebet ka dinya heunteu?! Leupas ti VOC, Endonesa asup ka sungut buaya IMF jeung Bank Dunia. Tah eta gegedug mardan, nu ngajurung-jurung ekonomi pasar. Kiwari sarua dijajah-jajah keneh. Ngan teu karasa di titah kerja paksa. Padahal sarua, cape gawe ukur jang mayaran hutang saudug-udug, urang ayeuna jeung anak incu urang engke. Teuing iraha lunasna. Jiga Ilmu kedokteran meureun, teu aya nu sanggup nyehatkeun kabeh pasen. Samakin canggih elmu kadokteran, nu gering teu beak-beak. Kitu deui elmu ekonomi, ti baheula ngaburudul pakar ekonomi, tapi nu miskin angger bae janten masalah nasional bahkan masalah dunia. Elmu ekonomi eta elmu nu teu bisa ngaramalkeun kajadian atawa ramalanana loba maleset. Ekonom teu narima disebut kitu, kilahna, kami mah lain ahli nujum cenah. Mungguhing Prof. Paul Ormerod, Elmu ekonomi pasar teh geus paeh, geus lain jadi elmu deui, geus jadi edeologi sarua kawas Marxis. Kawas ekonomi pancasila jaman, abah Harto. Cape eta Prof. Mubyarto nulis buku, euweuh nu di denge. Saha nu teu percanten yen ekonomi Amerika anu cenah demokratis, anu cenah Adidaya, sabenerna rapuh. Karapuhan ieu bisa ditingali, salah sahijina, tina defisit anggaran pamarentah AS! Sok taroskeun ka para pengamat ekonom, lamun di dunia ieu geus teu makean kana USD, Amerika mah tinggal ngaran!Ajengan ngingetan, piraku maraneh rek di ajar kanu 'belegug?' Ajengan oge ngingetan yen lakulampah ekonomi kudu aya dina rel moral. Tah ieu nu utami. Sanajan ngagem ekonomi karakyatan, tapi rakyatna beuki maok, beuki korupsi...angger atuh eweuh hartian, angger nu masakat-masakat, nu baleuwih-baleuwih. Kitu meureun, bisa bener bisa salah, Allahu'alam. Ongkarana Sangtabean Pukulun Sembah Rahayu. Nu enya kudu dienyakeun tirilik --- In [email protected], MRachmat Rawyani <mrachmatrawy...@...> wrote: > > Nyanggakeun eusi kuliah umum Pupuhu PB NU. > > Baktos, > > mrachmatrawyani > > Ekonomi Kerakyatan Sebagai Basis Pembangunan Peradaban > > > Pembangunan ekonomi merupakan prasyarat penting bagi pembangunan atau > restrukturisasi politik. Pembangunan ekonomi ini tidak hanya akan menjadi > landasan bagi pembangunan tetapi sekaligus merupakan basis material bagi > pembangunan kebudayaan dan peradaban. Mengingat pentingnya sektor ini, maka > pembangunan ekonomi mesti berjalan di atas moral ekonomi yang ada. Pancasila > sebagai grundnorm (norma dasar) bagi kehidupan bermasyarakat dan berbangsa >telah > > memberikan landasan moral bagi upaya pembangunan ekonomi ini dengan prinsip > Ketuhanan, Kemanusiaan, kebangsaan,kesetaraan/permusyawaratan dan keadilan. > > Norma-norma tersebut kemudian secara tegas diejawantahkan dalampasal 33 UUD >1945 > > yang berbunyi: (1).”perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan > atas > > asas kekeluargaan”. Dalam ayat tiga ditegaskan lagi, “Bumi dan air serta > kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai Negara dan dipergunakan >untuk > > sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Kedua ayat konstitusi ini perlu > ditegaskan > > kembali sebagai tolok ukur pembanguna ekonomi kita dewasa ini yang telah > menyimpang atau telah tidak sesuai dengan amanat konstitusi. > > Pentingnya sektor ekonomi bagi pengembangan organisasi ini telah lama > disadari, > > Syarekat Islam (SI) misalnya lahir dari Sarekat Dagang Islam (SDI). Begitu > juga > > Nahdlatul Ulama (NU) lahir dari Nahdlatut Tujjar (Gerakan dagang Santri). > Penguatan basis ekonomi ini yang menyebabkan NU berdiri tegak dan bersikap > non-kolaborasi (nonko) dengan pemerintah kolonial, tidak membutuhkan bantuan > tapi bisa terus berjalan. Dalam bidang ekonomi ini NU juga mengetengahkan > prinsip pembangunan ekonomi yang tertuang dalam mabadi khoiro ummah (Prinsip > pengembangan masyarakat) yaitu amanah, ta’awun (gotong royong), wafa bil ahdi > (trust), al’adi (adil) dan istiqomah (konsisten dan ulet). Inilah yang > dikenal > sebagai moral ekonomi kaum santri. > > Dilihat dari amanat konstitusi dan moral ekonomi itu ternyata ada banyak >masalah > > yang kita hadapi di sektor ekonomi ini. Pertama, sistem perekonomian dengan > spirit pasar bebas dan persaingan bebas yang digerakkan GATT maupun WTO > dengan > sendirinya bertentangan dengan asas kekeluargaan dan gotong royong > sebagaimana > dikehendaki oleh konstitusi. Persaingan bebas ini tidak hanya menghancurkan > usaha kecil, berbagai perusahaan nasional juga banyak yang gulung tikar > menghadapi persaingan keras yang tak kenal ampun ini. > > Kedua, terjadinya monopoli oleh kalangan swasta (asing) atas sector-sektor > strategis baik bumi, air, energyi tidak hanya bertentangan dengan konstitusi, > tetapi juga bertentangan dengan ajaran Islam yang menolak segala bentuk >monopoli > > terhadap sektor strategis negara. Karena hal itu akan melumpuhkan ketahanan > dan > > kemandirian Negara. Dengan demikian Negara tidak lagi memiliki biaya untuk > menggerakkan roda pemerintahannya sendiri dan tidak mampu menyejahterakan > rakyatnya. Akhirnya Negara hidup dalam lilitan hutang, yang mengancam >kedaulatan > > Negara. > > Sejak awal kemerdekaan para founding fathers kita telah mendisain > perekonomian > kita dengan berorientasi kebangsaan dan kerakyatan. Dalam kenyataannya > mengubah > > orientasi ekonomi kolonial yang eksploitatif, menjadi ekonomi nasional > tidaklah > > mudah perlu bertahun-tahun untuk memindahkannya. Belum lagi mengubah > orientasi > ekonomi kolonial yang elitis, kapitalis menjadi ekonomi kerakyatan merupakan > perjuangan yang belum berakhir hingga saat ini. Pengutamaan pertumbuhan > dengan > mengabaikan pemerataan semasa Orde Baru telah melumpuhkan ekonomi rakyat, > sehingga menjadikan pondasi ekonomi nasional rapuh, sekali ditimpa krisis > runtuh. > > Geralam reformasi telah cukup menghasilkan perubahan di sektor politik, >sehingga > > demokrasi politik relative dicapai. Tetapi demokrasi ekonomi justru semakin >jauh > > dari harapan. Runtuhnya usaha rakyat baik karena kalah dalam persaingan > maupun > mati karena regulasi masih terus terjadi. Keluhan sulitnya proses perijinan > usaha, semakin menyulitkan bangkitnya ekonomi rakyat. Akhirnya mereka menjadi > usaha sektor informal yang tidak mendapatkan perlindungan hukum dan tidak > mendapat akses permodalan. Bahkan mereka rawan grebegan dan penggusuran. >Padahal > > mereka ini berjasa dalam menghidupi masyarakat dengan menyediakan barang > murah, > > itulah yang dialami pedagang kaki lima. Ironisnya sektor ini bukan diberikan > modal, sebaliknya malah mau diperas oleh pemerintah sendiri dengan dikenakan > pajak tinggi. > > Kunci pembangunan perekonomian nasional sebenarnya tidak terlalu sulit kalau > kita kembali pada norma konstitusi Dengan dikuasainya sector strategis Negara > akan mampu mencukupi kebutuhan sendiri. Sementara untuk menumbuhkan >perekonomian > > rakyat juga tidak terlampau sulit. Sebenarnya bantuan modal tidak terlalu > penting, yang terpenting menyediakan pasar, bila produksi terserap pasar > dengan > > harga memadai, mereka akan mencari modal sendiri. Selain itu rakyat > membutuhkan > > keamanan usaha, walaupun tidak dimodali asal tidak diganggu dengan berbagai > macam regulasi dan monopoli, termasuk menggerojok dengan barang impor, > sebenarnya ekonomi rakyat akan tumbuh berdasar inisiatif sendiri. > > Saat ini masih menjadi salah kaprah orientasi kerakyatan seorang pemimpin >sering > > ditunjukkan dengan hadir di tengah masyarakat yang sedang menderita dengan > ikut > > bersedih. Ini sebenarnya tidak lebih hanya kepedulian personal, yang tidak > akan > > mengubah nasib rakyat. Tetapi yang terpenting seorang pemimpin adalah mampu > mewujudkan kepedulian tersebut dalam undang-undang dan kebijakan yang memihak > pada kepentingan rakyat dan kepentingan nasional. > > Untuk melindungi ekonomi rakyat dan untuk menyelamatkan aset Negara tidak > bisa > diserahkan pada mekanisme pasar bebas. Sebab dalam persaingan ini rakyat > dalam > posisi lemah, padahal jumlah mereka mayoritas, karena itu perlu campur tangan > Negara untuk melindungi mereka. Demikian juga hanya pemerintahlah yang akan > mampu menjaga kepentingan nasional. Penguatan pemerintah sangat penting guna > melindungi kepentingan ekonomi rakyat dan ekonomi nasional. Inilah amanat > dari > konstitusi kita dan itu pulalah tujuan didirikannya Negara Republik Indonesia. > > Pancasila haruslah tetap menjadi landasan moral ekonomi kita, demikian juga > pasal 33 UUD 1945 yang menjamin kesejahteraan masyarakat harus terus > dipertahankan. Dan itu tanggung jawab kita bersama. Terutama bagi yang peduli > martabat bangsa dan peduli pada kesejahteraan rakyat. > > Jakarta, 8 Desember 2010 > > Dr. KH. Said Aqil Siradj > Ketua Umum PB NU >
