Sunda dalam Film Indonesia

PERMULAAN tahun 1920, di Bandung berdiri perusahaan film NV Java Film
Company yang didirikan L. Heuveldorp dan G. Krugers. Pada awalnya,
perusahaan film tersebut banyak membuat film dokumenter. Tetapi pada tahun
1926, NV Java Film Company mulai membuat film cerita berdasarkan cerita
rakyat Sunda "Loetoeng Kasaroeng". L. Heuveldorp yang menjadi sutradara
merangkap produser, sedangkan G. Krugers menjadi penata kamera. Film
"Loetoeng Kasaroeng" diputar pertama kali di Elita dan Oriental Bioscoop,
Bandung.

Setelah film "Loetoeng Kasaroeng", Heuveldorp tidak kedengaran aktivitasnya
lagi, sedangkan G. Krugers pada tahun 1927 mendirikan perusahaan film
sendiri Krugers Filmbedrijf. Produksi filmnya, antara lain "Eulis Atjih",
"Karnadi Anemer Bangkong", "Atma deVisser" (Nelayan Atma), dan "Terpaksa
Menikah". Film "Eulis Atjih" dan "Karnadi Anemer Bangkong", berdasarkan buku
karya sastrawan Sunda, Joehana.

Menurut H. Misbach Jusa Biran dalam bukunya Sejarah Film 1900-1950 Bikin
Film di Jawa (terbitan Komunitas Bambu dan Dewan Kesenian Jakarta, 2009),
buku Karnadi Anemer Bangkong merupakan buku yang cukup laris. Tetapi ketika
dibuat film, banyak yang protes, sebab dalam film tersebut ada adegan orang
pribumi (Karnadi) makan bangkong (kodok) karena dagangannya tidak laku.
Adegan tersebut dianggap mempermalukan orang Sunda.

Buku karya Joehana lainnya yang dibuat film "Eulis Atjih", merupakan sebuah
drama rumah tangga. Film tersebut diputar di Bandung bulan Agustus 1927.
Sementara di Surabaya, film tersebut diputar di bioskop Orient dari tanggal
8 hingga12 September 1927. Koran Pewarta Soerabaja memberikan resensi yang
baik, bahkan melaporkan bahwa selama pertunjukan film tersebut selalu
dibanjiri penonton. Bahkan film "Eulis Atjih" sempat diputar di Singapura.

Menurut Ensiklopedi Sunda karya Ajip Rosidi dkk. (terbitan Pustaka Jaya),
roman karangan Joehana tersebut terdiri atas tiga jilid, jumlah halamannya
masing-masing 50-60 halaman. Yang ada sekarang hanya jilid dua, itu pun di
Universitas Leidein, Belanda.

Kisah "Eulis Atjih" dibuat kembali tahun 1954 oleh Ardjuna Film milik Tan &
Wong, disutradarai Rd. Arifin. Pemainnya S. Bono sebagai Arsad, dan Sri
Uniati sebagai Eulis Atjih. Dalam film tersebut, nama pengarangnya
dicantumkan.

Yang menarik, dalam laju perjalanan produksi film Indonesia, cukup banyak
film Indonesia yang mengambil setting atau cerita dari Tatar Sunda, kecuali
"Loetoeng Kasaroeng", ada lagi film "Bunga Ros dari Cikembang" (1930),
"Rampok Preanger", "Tjiandjoer" (1938), "Tjiung Wanara" (1941), "Air Mata
Mengalir di Tjitarum", dll. Bahkan dalam film "Tjiandjoer" garapan The Teng
Chun, begitu kental menampilkan warna kasundaan, dengan menampilkan
lagu-lagu Sunda.

Tahun 1976, PT Diah Pitaloka Film menggarap film "Si Kabayan" yang
dibintangi Kang Ibing dan Lenny Marlina, disutradarai Bay Isbahi. Tahun
1989, PT Kharisma Jabar Film melakukan kerjasama dengan Pemerintah Provinsi
Jabar, menggarap film "Si Kabayan Saba Kota", "Si Kabayan dan Gadis Kota",
"Si Kabayan dan Anak Jin", serta "Si Kabayan Saba Metropolitan". Ketika
Yogie S. Memet diganti oleh Gubernur baru H.R. Nuriana, produksi kerja sama
masih berlanjut dengan menggarap film "Si Kabayan Mencari Jodoh". Semua film
Si Kabayan tersebut disutradarai H. Maman Firmansyah, kecuali film "Si
Kabayan dan Anak Jin", disutradarai oleh Henky Solaiman. Semua skenarionya
ditulis oleh Eddy D. Iskandar.

Film "Si Kabayan Saba Kota" mencapai sukses luar biasa, bahkan boleh disebut
sebagai satu-satunya film daerah yang sukses secara nasional. Kemudian
mendapatkan penghargaan sebagai Film Komedi Terbaik FFI ’89. Film produksi
PT Kharisma Jabar lainnya, "Glen Kemon Mudik".

Patut dicatat pula film tentang kepahlawanan dari Tatar Sunda, seperti "Toha
Pahlawan Bandung Selatan" (1961), "Anak Anak Revolusi", "Mereka Kembali",
"Perawan di Sektor Selatan", "Bandung Lautan Api", "Lebak Membara". Bahkan
film pertama NV Perfini milik Pelopor Film Indonesia Usmar Ismail - yang
tanggal pembuatannya (30 Maret - 1950) dijadikan Hari Film Nasional,
berjudul "Darah dan Doa", mengisahkan hijrahnya Pasukan Siliwangi dari
Jogjakarta ke Jawa Barat.

Film klasik produksi tahun 1934 - yang banyak mendapatkan pujian para
pengamat film, "Pareh" (Padi), yang dibintangi pasangan pemain Sunda Rd.
Mochtar dan R. Soekarsih, juga mengambil setting alam Sunda dengan seni
budayanya. Bahkan ada yang beranggapan, film tersebut lebih condong film
dokumenter drama.

Nuansa Sunda juga lekat dalam film yang dibintangi oleh sinden terkenal.
Sinden beken asal jalan Cagak, Subang, Titim Fatimah, bersama sinden
terkenal lainnya Mimi Mariani muncul dalam film "Si Kembar" (1961) produksi
Gema Masa Film.

Sinden termashur lainnya Upit Sarimanah tampil dalam film "Kasih Tak Sampai"
produksi PT Sarinande Film, yang disutradarai Turino Junaedy. Tentu harus
disebut pula nama Tati Saleh, seorang penembang serba bisa, yang juga
menonjol jika melantunkan lagu-lagu sinden. Tati Saleh, pernah tampil dalam
sejumlah film Indonesia, antara lain "Nyi Ronggeng" (Alam Rengga
Surawijaya), "Gadis Marathon" (Chaerul Umam), dan "Si Kabayan Saba Kota"
(H.Maman Firmansyah). Sementara dalang yang kaya dengan kreasi, Asep
Sunandar Sunarya, juga sempat muncul sebagai dukun dalam film "Si Kabayan
dan Gadis Kota".

Apabila menyimak kembali lembaran sejarah film Indonesia, maka film "Karnadi
Anemer Bangkong" dan "Eulis Atjih" (1927) - keduanya masih merupakan film
bisu, merupakan buku cerita (Sunda) yang pertamakali dibuat film.
Selanjutnya ada beberapa karya sastra Sunda lainnya yang dibuat film,
seperti "Sanggeus Halimun Peuray" karya Aam Amilia, "Boss Carmad" karya
Candrahayat, "Sri Panggung Doger Karawang" (judulnya diganti jadi "Arak
Arakan") karya Iskandarwassid, dan "Si Kabayan Saba Kota" karya Min Resmana
Bahkan film tempo dulu, yang umumnya digarap oleh keturunan Belanda dan
Tionghoa, kebanyakan menggunakan latar-belakang kehidupan orang Sunda.
Seperti dalam film "Bunga Ros dari Cikembang" (1930) produksi The
Bersaudara, menceritakan juragan turunan Tionghoa yang kawin dengan wanita
Sunda. Dalam bukunya, memang ada dialog bahasa Sunda, juga lirik lagu Sunda.

Begitu juga dalam film terbaru Starvision "Si Kabayan Jadi Milyuner", yang
beredar bulan ini, begitu banyak dialog dalam bahasa Sunda. (Eddy D.
Iskandar)***

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=168342

Kirim email ke