Saena mah atuh aya nu jadi ahli, ilmuwan minimal widang nyandung jeung jurig


Makarya Mawa Raharja

--------------------------------------------------------------

Ikatan Ilmuwan Indonesia 
Ilmuwan "Pulang Kampung" dan Berbagi
Kamis, 16 Desember 2010 | 08:55 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com — Sedikitnya 61 ilmuwan Indonesia yang bekerja di sejumlah 
negara dijadwalkan hadir dalam International Summit Ikatan Ilmuwan Indonesia 
Internasional, 16-18 Desember 2010 di Kementerian Pendidikan Nasional. 
Pertemuan 
itu, antara lain, akan membahas berbagai hal yang bisa disumbangkan mereka 
untuk 
Indonesia, termasuk penemuan-penemuan mereka yang sudah mendapatkan hak paten.
”Pertemuan ini merupakan pemikiran out of the box, yaitu keluar dari yang 
dipikirkan birokrasi atau institusi riset selama ini,” kata Zuhal, Ketua Komisi 
Inovasi Nasional, Rabu (15/12/2010) di Jakarta.
Menurut Zuhal, sejarah baru untuk memacu inovasi akan terbentuk jika para 
penemu 
paten di luar negeri itu menyepakati implementasinya di Indonesia. Kesepakatan 
itu pun sekaligus akan mendorong Komisi Inovasi Nasional menerobos semua 
hambatan aplikasi paten yang selama ini dihadapi.
Menurut Zuhal, birokrasi yang mengurusi paten masih berorientasi birokrat. 
Semestinya penanganan paten itu berorientasi korporat atau perusahaan yang 
lebih 
menghargai kecepatan dan ketepatan.
Ketua Panitia International Summit I-4 Willy Sakareza mengatakan, para ilmuwan 
Indonesia yang berkarya di sejumlah negara tersebut memiliki paten yang siap 
diaplikasikan di Indonesia sesuai dengan sistem yang ada sekarang. Paten itu 
antara lain berkaitan dengan teknologi penyimpanan vaksin berpendingin dan 
teknologi kamera yang mutakhir, paten di bidang kedokteran umum, paten yang 
berkaitan dengan antraks, serta paten yang berkaitan dengan kanker. (NAW)

Kirim email ke