Neraskeun di milist sanes 

 

Ii Sumirat

 

 
<http://3.bp.blogspot.com/_IXbQCOWxuEc/TR2IVPQPj_I/AAAAAAAAATM/nMribn0KAow/s
1600/5077817.jpg> Image removed by sender.

Adalah Moehamad Moesa dari daerah Garut seorang hoofpanghulu. Epitaf pada
nisan Moesa di belakang Masjid Agung Garut berbunyi, R. H. Mhd. Moesa lahir
pada 1822 dan wafat pada 10 Agustus 1886. Ia adalah seorang menak, putra
dari seorang patih, pangkat kedua tertinggi di

Kabupaten Limbangan. Beliau ini adalah tokoh utama dibalik bentuk baru
lahirnya tulisan sunda. Seorang tokoh yang melakukan lompatan

besar untuk kemajuan budaya sunda.

Moesa mendampingi Karel Frederik Holle, sahabatnya yang orang Belanda,
menerbitkan buku-buku berbahasa Sunda. Kolaborasi keduanya menghasilkan
buku-buku bermutu (untuk ukuran saat itu). Sebua sinergi dari seorang
kumpeni yang mengapresiasi budaya bangsa lain (sunda/Indonesia) dan seorang
penduduk lokal yang memiliki wawasan global dan mengerti bahwa kemajuan
suatu bangsa atau kelompok masyarakat sangat tergantung dari cara mereka
mengakses kalam/tulisan (baca: gemar membaca).

Membaca adalah perkara interaksi antara pembaca dan bahan bacaan. Adalah
kemustahilan, jika si pembaca tercerahkan jika tidak ada bacaan pencerahan.

Saat itu Limbangan berada dalam wilayah administrasi kolonial yang paling
maju dan makmur di Jawa. Jabatan penghulu yang disematkan kepada Moesa
adalah salah satu pangkat tertinggi untuk masyarakat Bumiputera, hampir
setara dengan regent atau bupati, patih, jaksa dan wedana.

Dalam komunitas masyarakat tradisional, panghulu memainkan peran penting.
Namun, ketika penghulu diintegrasikan ke dalam sistem administrasi bentukan
Belanda, peran agama dan politik mereka dibatasi. Pemerintah kolonial
memanfaatkan peran tradisional penghulu untuk memelihara orde kolonial jika
mereka setuju untuk bekerjasama dengan Belanda. Moesa menerima gaji sebsar
900 gulden per tahun ditambah uang kompensasi sebesar 720 gulden sebagai
tobang pelayanan buruh. Jumlah itu lumayan besar, karena gaji seorang
bupati, kedudukan tertinggi yang dijabat kaum Bumiputera pada periode yang
sama, hanya menerima gaji sebesar 1200 gulden. Sedangkan seorang patih hanya
menerima gaji sebesar 225-300 gulden. Jadi, hoofdpanghulu limbangan adalah
orang yang berkuasa dan kaya pada masa itu.

 

Moesa memiliki enam orang istri yang memberinya 17 anak dan 66 cucu. Sebuah
angka yang fantastic jika ditarik ke jaman sekarang. Seorang kyai yang
menikah lagi akan dicibir dan dijauhi. Jadi, bisa kita simpulkan bahwa
majunya budaya sunda, yang dihembuskan Musa lewat karya-karyanya seperti
yang terkenal "Wawacan Panji Wulung" adalah karena ia memiliki kekuasaan,
kekayaan dan anggota keluarga yang banyak. Siapa bilang poligami itu
menghambat kemajuan? :-)

Dalam hal pendidikan, Moesa tampaknya lebih sadar tentang manfaat dan arti
penting pendidikan Eropa daripada kawan-kawannya. Pendidikan sekuler Eropa
dipandang dapat mendatangkan kesejahteraan dan kemaslahatan bagi keluarga
dan jemaahnya. Sebenarnya hal ini cukup aneh. Ia sendiri tidak menguasai
bahasa Belanda, tetapi sangat memperhatikan masa depan anak-anaknya yang
harus dibekali dengan pendidikan Belanda yang layak - suatu jaminan yang
menurut pendapatnya efektif untuk menjaga prestise dan status keluarganya.

Untuk kepentingan keluarganya, Moesa mendirikan sekolah Eropa (bizondere
Europeesche School) di Garut; caranya, pemuka-pemuka setempat membayar gaji
guru tersebut. Sistem belajar dengan menggabungkan anak laki-laki dan anak
perempuan (sesuatu yang pantang dalam sistem pesantren).

Image removed by sender.

Karena Moesa, sekolah ini mendapat subsisdi dari pemerintah kolonial sebesar
100 gulden per bulan. Menurut Moesa, pendidikan sama artinya dengan
penguasaan aksara dan bahasa - dan anak lelaki dan perempuan harus
dipisahkan begitu mereka menginjak usia pubertas. Suatu kompromi cerdik yang
mengerti esensi Islam secara dalam. 


Kakara ngangkat birahi,

menggah istri pamegetna,

saena geus lepas bae,

ajeuna sedeng diadjar,

ngolah ilmoe oetama,

sanggeus iskolana tjoekoep,

ladjeng kana padamelan

Ketika mencapai pubertas,

Anak-anak perempuan dan lelaki

Lebih baik dipisahkan

Sekarang waktunya untuk belajar,

Untuk memperoleh ilmu pengetahuan hebat.

Ketika pendidikan di sekolah sudah cukup,

Kemudian mereka pergi bekerja

        

Saniskara damel istri,

oelah aja kapetolan,

ngeujeuk njoelam njoet njongket,

kitoe deui olah-olah,

panedja sim koering mah,

lamoen iskolana tjoekoep,

aksara djeung basa-basa

Semua jenis pekerjaan wanita

Tidak seharusnya diabaikan

Menyulam dan menenun

Dan juga memasak

Apa yang saya harapkan adalah

Ketika pendidikan di sekolah sudah cukup

[mereka sudah menguasai] aksara dan bahasa

        

(Danoeredja 1929 : 52)

                

 

 

Harapan Moesa ternyata terkabul: anak-anaknya memperoleh kedudukan tinggi
dalam jajaran administrasi pemerintahan, dan anak-anak perempuannya menikah
dengan menak yang dididik secara Eropa. Sebagai contoh, anak lelaki Moesa
yang tertua, Soeria Nata Ningrat, menjadi Bupati Lebak di Kabupaten Banten.
Anak lelakinya yang kedua, Kartawinata menjadi patih di Sumedang. Anak
perempuannya yang pintar, Lasminingrat, menikah dengan Bupati Limbangan, dan
anak perempuan yang lain menjabat berbagai kedudukan resmi pula. Saya
menemukan keluarga-keluarga, trah-trah dan pemuka-pemuka bangsa ini memiliki
strategi yang sama seperti Moesa di zamannya.

 

Berkompromi dengan ketidakadilan, kekuasaan penindas untuk kelangsungan
hidup dan kemahsyuran keluarganya sehingga keturunannya menjadi orang yang
dihargai di masa depan. Orang-orang seperti Moesa ini sangat mengerti
bagaimana beradaptasi dengan kekuasaan. Memanfaatkan penjajah untuk
kepentingan keluarganya dan sebisa mungkin dibagi dengan warga pribumi
melalui sekolah dan buku-buku.

Moesa bisa dipandang sebagai pahlawan yang pragmatis. Dia tidak bersimbah
darah, tidak mengikuti perjuangan fisik dan politik hancur lebur yang
dilakukan tokoh-tokoh heroik yang kita kenal. Ia melakukan perjuangan
diplomasi dan budaya. Suatu perjuangan yang akan meminimkanresiko jatuhnya
korban tetapi efektif dalam jangka panjang. Bila kita menemukan nama-nama
menak di kalangan Sunda, mungkin itu adalah hasil Moesa berkompromi dengan
Kumpeni, sehingga kita menemukan tokoh-tokoh Sunda / keturunan Sunda jaman
sekarang : Nia Dinata (keturunan Otto Iskandar Dinata), Agum Gumelar, Aman
Wirakarta Kusumah (Ex. Rektor IPB / Pejabat UNESCO dari Indonesia), Jamie
Aditya (artis pemeran Kabayan, keturunan budayawan Sunda ternama), dan
mungkin masih banyak lagi nama yang tidak saya sebut yang mengharumkan nama
Indonesia dengan karya-karya mereka.

disadur dari buku "Semangat Baru: Budaya Cetak, dan Kesusastraan Sunda Abad
ke-19" KaryaMikihiro Moriyama
<http://www.goodreads.com/author/show/815755.Mikihiro_Moriyama> 

- gambar diambil dari http://masoye.multiply.com & http://www.goodreads.com
<http://www.goodreads.com/book/photo/5077817-semangat-baru> /


-- 
"Follow that will and that way which experience confirms to be your own." ~
Carl Gustav Jung



<<~WRD000.jpg>>

<<image001.jpg>>

<<image002.jpg>>

Kirim email ke