Kenging nyomot ti Kompas dinten ieu:


Ronggeng Gunung, Teruslah Menari

Selasa, 4 Januari 2011 | 04:03 WIB

 

Bagja Teuing si Pangibing Kakara Sumping

Pangendang Kakara Datang

Panonton Kakara Tembong

Pangarang Palohok Bae

(Bahagia Sekali si Penyanyi Baru Datang

Tukang Gendang Baru Datang

Penonton Baru Kelihatan

Cahaya Bulan Melamun Saja)

Di bawah siraman kembang api dan pekak bunyi terompet tahun baruan,
memasuki 2011, lengkingan suara maestro tari ronggeng gunung terakhir, Raspi
(52), masih mampu mengajak penonton memasuki Lapangan Parkir Kebun Binatang
Bandung, Jumat (31/12). Lapangan itu menjadi panggung dadakan pertunjukan tari
ronggeng gunung yang kian langka dipentaskan. 

Berbaju kebaya merah muda dengan bunga dan selandang warna senada, tepat
pukul 00.00 WIB, Raspi menari ditemani anaknya, Nani Nurhayati (29), sepuluh
penari pendamping dan tiga pemusik. Selesai lagu pembuka, kedua lengan Raspi
lantas berlenggok memainkan selendangnya. Kakinya mulai beraksi memainkan
gerakan khusus berulang-ulang.

Gerakan itu seperti tanda bagi penari pendamping untuk masuk arena. Mereka
mengelilingi Raspi sembari mengikuti gerak kaki sang maestro. Penari pendamping
semuanya laki-laki, berbaju pangsi, berkerudung sarung, dan bersenjatakan golok
di pinggang. Sepintas mirip tari poco-poco.

Rangkaian tari itu ternyata membuat banyak penonton terbius menari bersama.
Sementara, Raspi menyanyikan lagu lainnya, lingkaran kecil berubah besar karena
banyak penonton yang tertarik ikut menari.

”Tari ini akhirnya menjadi milik semua yang hadir dalam panggung. Bukan
sekadar milik penari utama, penari pendamping, atau pemain musik, tapi semua 
yang
hadir,” katanya.

Minimalis

Ronggeng Gunung adalah tarian kuno khas yang banyak berkembang di daerah
pegunungan Ciamis, Jawa Barat. Misalnya, Banjarsari.

Penyajiannya sangat minimalis. Hal itu terlihat dari hanya ada satu penari
yang merangkap menyanyi dengan iringan musik kendang, ketuk, dan gong. Lagunya
pun tak banyak. Biasanya hanya enam sampai delapan lagu yang dibawakan secara
berulang-ulang dalam sekali pertunjukan.

Meskipun disajikan minimalis, ronggeng gunung punya kelebihan dari mayoritas
tari Sunda. Bila mayoritas tari Sunda memberikan porsi sama antara gerakan
tangan dan kaki, ronggeng gunung lebih menekankan gerakan kaki. Karena itu,
dibutuhkan keserasian dan kekompakan para penarinya.

Penari umumnya wajib memiliki fisik kuat. Ronggeng seperti Raspi, tak jarang
menari hingga enam jam dalam sekali pertunjukan.

Selain itu, penari juga harus memiliki jenis suara tinggi. Alasannya, semua
lagu dinyanyikan dengan suara tinggi, minim cengkok khas Sunda.

Seniman Ciamis, Godi Suwarna, berpendapat, cara mempelajari lagu untuk
ronggeng yang demikian terbilang sulit. Alasannya, banyak nada dalam lagu
ronggeng gunung sulit dicari padanannya di tangga lagu pop atau Sunda.

Dalam konteks itu, Maestro Karawitan Sunda (almarhum) Nano Suratno, pernah
kesulitan saat hendak memetakan lagu ke dalam tangga nada Sunda,
da-mi-na-ti-la-da.

Godi menambahkan, ciri lain ronggeng gunung bisa dilihat dari tema lagu.
Semuanya berkisah kerinduan penari pada orang yang dicintainya. Maka, saat
disajikan dalam nada tinggi, lagu pun terdengar menyayat hati sehingga bisa
membuat haru pendengarnya.

Contohnya, lirik lagu ”Golempang” yang berkisah tentang penantian pada
kekasih yang tak kunjung pulang.

Seuereuh Lain Jambe Lain

Samayang Buah Dalima

Beubereuh Lain Bebene lain

Melangnya Kabina-bina

(Sirih Bukan Pinang Bukan

Nelayan Buah Dalima

Kabogoh Bukan yang Dicintai Bukan

Sungguh Terlalu Rasa Khawatirnya)

 

Romantis

Tema kesedihan itu terkait dengan salah satu versi awal mula ronggeng gunung.
Pegiat kesenian tradisi Ciamis dari Studio Titikdua, Tony Lesmana, mengatakan,
ronggeng gunung adalah tarian rindu dan romantis kerinduan berbalut dendam yang
dialami Dewi Siti Samboja atau dikenal dengan Dewi Rengganis, karena kekasihnya
yang bernama Raden Anggalarang tewas di tangan perompak (bajo).

Untuk membalas dendam kepada musuh-musuhnya, putri Prabu Siliwangi itu
menyamar sebagai penari. Tujuannya, membalas dendam pada para perompak pembunuh
kekasihnya. Rencana itu digambarkan lewat penari pendamping yang menutup
tubuhnya dengan sarung atau kain bersenjatakan golok.

Versi lain menyebutkan, tari ini adalah ungkapan syukur atas kesuburan dan
panen. Bagi Masyarakat Ciamis, Dewi Rengganis mirip dengan Dewi Sri Pohaci
(Dewi Kesuburan). Maka, tidak heran tarian ini kerap dimainkan selepas
menggarap sawah atau ladang.

Dalam perkembangannya, ronggeng gunung pun melahirkan turunannya. Ganjar
Kurnia dan Arthur S Nalan dalam Deskripsi Kesenian Jawa Barat mengatakan,
ronggeng gunung melahirkan ronggeng kaler dan ronggeng tayub.

Ciri ronggeng kaler, antara lain penarinya terdiri atas dua orang dengan
musik pengiring seperangkat gemelan lengkap dengan lagu kliningan.

Sementara, dalam ronggeng tayub, ada pembagian tugas antara pemain yang
menyanyi dan menari. Alat musik yang dimainkan pun lebih beragam.

Minim regenerasi

Ironisnya, justru kedua turunannya itu kini lebih diterima masyarakat.
Alasannya, gerak dan musiknya dianggap lebih variatif. Namun, kata Raspi, dia
tidak terlalu mempermasalahkan hal itu.

Menurut Raspi, kedua tari turunan tersebut masih mengandung unsur ronggeng
gunung. Ia yakin, selama keduanya masih ditarikan, maka ronggeng gunung akan
tetap hidup.

Diakui, saat ini regenerasi penari ronggeng gunung sangat minim. Sebab, kata
Raspi, butuh niat dan waktu lama agar penari pandai menari sembari menyanyi.
Selain itu, minat masyarakat juga semakin berkurang. Belakangan ini, misalnya,
masyarakat lebih suka menyewa organ tunggal dalam acara hajatan atau syukuran.

”Sekarang, dalam sebulan belum tentu ada yang menyewa ronggeng gunung.
Padahal, sekitar sepuluh tahun lalu, hampir setiap minggu selalu ada yang
meminta saya tampil,” papar Raspi.

Coco (50), pemimpin Lingkung Seni Puspa Manggul Rasa, Cikukang, Desa Ciulu,
Kecamatan Banjarsari, Ciamis, mengatakan, hal yang sama terjadi dalam
regenerasi pemusik ronggeng gunung. ”Saat ini usia rata-rata pemusiknya sudah
renta, di atas 50 tahun. Anak muda biasanya enggan belajar lantunan musik
ronggeng gunung karena dianggap tidak variatif dan terlalu kuno,” katanya.

Pengajar tari dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung, Mas Nanu Muda,
berpendapat, ronggeng gunung sepatutnya dipertahankan agar tidak punah. Jangan
sampai nasib ronggeng gunung sama dengan kesenian khas Jawa Barat, yang nyaris
punah karena jarang dipentaskan dan minimnya regenerasi, seperti gamelan ajeng
(Karawang) atau parebut seeng (Bogor).

”Pemerintah Kabupaten Ciamis dan Jawa Barat bertanggung jawab untuk
mengembangkannya. Saat ini, perhatian mereka sangat kurang. Kalau sudah punah,
sesal tidak akan cukup membayarnya,” katanya mengingatkan.

(Cornelius Helmy)


http://cetak.kompas.com/read/2011/01/04/04030049/ronggeng.gunung.teruslah.menari



      

Kirim email ke