Punten, saleresna konsep bioskop 21 teh sanes konsep alm Sudwi, namung kawitna  
konsep nu dikembangken di Amerika di akhir tahun 1960an. 






________________________________
From: MRachmat Rawyani <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sun, January 9, 2011 10:13:02 PM
Subject: Re: [kisunda] Tokoh - Elfa Secioria & Sudwikatmono

 


Puntennujumalesnarjamahkeun. Kaleresan tadi enjing kuring ngadamel seratan di 
handap ieu kanggo milis di UI.


baktos,

mrachmatrawyani


Terkenang akan Elfa dan Sudwikatmono 
Kemarin (09/01) ada dua orang yang cukup dikenal di kalangan media dan 
senantiasa mewarnai pemberitaan, yaitu pemusik  almarhum Elfa dan almarhum 
Sudwikatmono. TV one membuat acara khusus untuk mengenang Elfa dengan melakukan 
wawancara dengan pengamat musik Bens Leo dan beberapa orang lainnya yang 
berkecimpung di dunia musik. Sudwikatmono tidak terlalu banyak diketahui orang 
selain sebagai pebisnis yang cukup dikenal di kalangan para pengusaha kelas 
atas. Keduanya mempunyai peran penting untuk diketahui bersama, seperti yang 
akan dipaparkan di bawah ini.
Pada dekade tahun 1980 an, Elfa dikenal sebagai pemusik yang handal yang 
membuat 
grup “Elfas singer” melejit ketika menjuarai lomba musik pop nasional yang akan 
mewakili Indonesia mengikuti lomba musik di Budokan Hall Tokyo yang disponsori 
Yamaha. Beberapa nama pencipta dan pemusik yang selalu menjuarai lomba ini 
antara lain Adjie Bandi, Guruh Soekarnoputra dan lain-lain. Sejak menjuarai 
musik Pop itu, dia kemudian membuat grup musik sendiri membuat album musik 
sendiri dan menerima banyak tawaran bermain di berbagai kesempatan di tingkat 
nasional. Di tingkat internasional pun, Elfa kerap menjuarai  berbagai lomba 
musik di berbagai negara. Ada beberapa penyanyi hasil didikan Elfa, salah satu 
diantaranya Yana Julio. Aliran musik Elfa juga telah meramaikan blantika dunia 
musik Indonesia. Beberapa pemusik/penyanyi dan grup band yang kemudian muncul 
ada yang menganut aliran musiknya Elfa. 

Sudwikatmono orang mengenalnya sebagai pengusaha papan atas yang dekat dengan 
penguasa Orde Baru. Hal fenomenal yang dilakukan Sudwikatmono adalah membuat 
bioskop sinepleks yang dikenal dengan sinema 21. Suatu konsep membuat gedung 
bioskop yang berkapasitas 100 – 300 tempat duduk, tetapi dalam satu gedung ada 
beberapa bioskop, dimana masing-masing bioskop itu memutar berbagai film yang 
berlainan. Waktu itu konsep gedung bioskop berkiblat kepada Bioskop Djakarta 
theatre. Satu gedung besar yang berkapasitas hingga 1000 an tempat duduk. 
Film-film Barat yang diputar di Djakarta Theatre menjadi acuan bagi bioskop 
lainnya untuk memutar film tersebut. Tetapi harus menunggu cukup lama, sebelum 
bisa memutar film tersebut. Biasanya Liga Film Mahasiswa (LFM) ITB, entah 
darimana dapatnya, selalu bisa memutar film Barat seperti di Djakarta Theatre, 
terkadang diputar lebih dahulu daripada di bisokop-bioskop Jakarta. Penulis 
kebetulan tahu tentang ini, biasanya hari Sabtu sudah “cabut” ke Bandung, malam 
minggu bersama teman  yang kuliah di Bandung nonton di LFM ITB. Hari Minggu 
sudah balik lagi ke Jakarta.
Sudwikatmono dengan konsep Sineplek 21 ini, tidak saja membuat  beberapa 
bioskop 
kecil-kecil di berbagai tempat dan berbagai daerah, tetapi juga menjadi 
pengimpor film-film Barat dan memutarnya di grup sineplek 21. Film nasional 
tidak mendapat tempat diputar di sineplek 21, sehingga kalangan perfilman 
nasional berang dengan kebijakan ini dan memusuhinya. Pihak media pun turut 
pula 
“memusuhinya”. Namun ditengah-tengah ketegangan itu, seorang wartawati majalah 
Tempo (alumni FISIP UI) berhasil mewawancarai dan mengenal lebih dekat sosok 
Sudwikatmono. Karena berbagai persoalan, akhirnya perfilman nasional mengalami 
penurunan produksi, salah satu diantaranya, karena masyarakat lebih suka 
menonton film Barat yang selalu ditayangkan di sineplek 21. Namun ternyata ada 
hikmahnya juga, ternyata ada sutradara (Garin Nugroho alumni FHUI) yang membuat 
film nasional dengan orientasi kepada masyarakat di luar Indonesia dan selalu 
menyertakan filmnya dalam festival internasional. Tidak jarang mendapat 
apresiasi dan menyabet hadiah dari kalangan masyarakat perfilman luar negeri. 
(MRR)







      

Kirim email ke