Kenging ngorowot ti Kompas dinten ieu:
PESONA NUSANTARA

Ujung Genteng, Kecantikan yang Terabaikan

Selasa, 11 Januari 2011 | 03:49 WIB

 

Rini Kustiasih dan Timbuktu
Harthana

Bagi pencinta petualangan dan pelancong sejati, langit biru dan gelombang
laut di Pantai Ujung Genteng adalah kerinduan. Tepian pantai di wilayah selatan
Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, itu adalah tempat melepas
penat sekaligus menikmati karunia Ilahi. 

Riak air laut, yang kehijauan akibat bias warna lumut dan rumput laut, mampu
memagnet pengunjung untuk menjejakkan kakinya di pantai. Saat laut surut,
hingga jarak 100 meter dari garis pantai berpasir putih halus itu, ketinggian
air hanya sebatas lutut. Tanggal 24 Desember 2010 pagi, misalnya, puluhan orang
seolah berlomba berjingkat menyusuri pantai.

Sebaran batu karang bak melengkapi panorama pantai pasir putih, yang boleh
dibilang tercantik di sepanjang pesisir selatan Jawa Barat. Keelokannya semakin
terasa memesona kala mentari kembali ke peraduan.

”Bagus sekali pantainya. Apalagi, saya bisa berenang bebas di sini. Saya
jadi ingin kembali lagi,” komentar Indah (29), wisatawan asal Bandung,
Jawa Barat, yang menghabiskan liburan panjang akhir pekan bersama dua temannya
di sana.
Beberapa detik kemudian, dia langsung bergaya di depan kamera dengan latar
pantai, karang, dan birunya langit, mengabadikan keindahan Pantai Ujung
Genteng.

Dari Bandung, Ujung Genteng yang berjarak sekitar 210 kilometer itu bisa
ditempuh delapan jam. Rute berkendara adalah Bandung-Sukabumi- Lengkong-Jampang
Kulon-Surade-Ciracap.

Jalan alternatif memang ada, tapi kondisinya memprihatinkan. Rusak dan
berlubang di sana-sini. Kendati demikian, lukisan alam di sepanjang jalan tidak
mengecewakan. Seperti perjalanan membelah punuk-punuk bukit di daerah Pasir
Angin, yang terletak di ketinggian 750 meter di atas permukaan laut. Diri
seolah melaju di atas awan.

Dari kejauhan, garis pantai Ujung Genteng dengan deretan nyiur yang
menggoda, mengobati lamanya perjalanan. Sesampainya di kawasan pantai,
keletihan pun terbayar. Embusan angin laut mengusir peluh yang membasahi badan.

Umumnya wisatawan memesan penginapan 1-2 minggu sebelum kedatangan. Bahkan,
ada yang memesan sebulan sebelumnya-terutama saat kedatangan bersamaan dengan
libur sekolah. Tarif penginapan beragam, mulai dari Rp 200.000 hingga Rp
700.000 per malam.

Jika tak sempat memesan tempat menginap, tak perlu terlalu khawatir. Sebab,
sejumlah penduduk lokal biasanya bersedia menyewakan kamar dan rumah mereka.
Tarifnya tak jauh beda dengan tarif losmen. ”Paling murah Rp 150.000 per malam.
Tapi, pada musim liburan biasanya lebih mahal sekitar Rp 50.000-Rp 100.000,”
kata Sandi (28), tukang ojek di sana.

Pendatang

Entah bagaimana awalnya sampai kawasan Ujung Genteng kondang sebagai tempat
pelesir. Menurut cerita masyarakat setempat, sejak 20 tahun silam sudah banyak
orang berdatangan ke sana.
Tapi, baru sekitar tahun 1990-an pantai pasir putih ini dikenal wisatawan dari
kota-kota besar, bahkan sampai mancanegara. Ombaknya yang pas untuk berselancar
menarik peselancar dari berbagai penjuru dunia.

Karena itu, belakangan ini banyak orang dari luar daerah hijrah ke Ujung
Genteng, membentuk perkampungan. Vila,
pondok penginapan, losmen, warung makan, dan tempat main biliar pun kemudian
menjamur.

”Sebagian warga bekerja sebagai pelayan atau penunggu kamar di vila-vila
milik pendatang itu. Selebihnya, (yang bekerja di sektor jasa wisata) adalah
pendatang, karena dulunya daerah ini kosong. Orang-orang dari Palabuhanratu
(Sukabumi) dan (Kota)
Sukabumi banyak datang ke sini,” papar Adang Sholehudin, petugas penangkar
penyu di Kawasan Konservasi Taman Pesisir Penyu Pangumbahan, Ujung Genteng.

Diakui Rahmatillah (27), warga penduduk asli jarang yang bekerja di sektor
jasa pariwisata. Umumnya, mereka bertani, melaut, atau malah menjadi tenaga
kerja migran di luar negeri. Kalaupun ada, hanya sebagai tukang ojek, yang
menawarkan jasa pengantaran dari Ujung Genteng ke sejumlah lokasi wisata di
sekitarnya-pergi-pulang. Rendahnya minat warga berusaha di sektor wisata, bisa
dibilang, diserobot pendatang.

Buruknya infrastruktur pantai, seperti jalan rusak, minimnya penunjuk arah,
keterbatasan tempat sampah, serta lokasi penginapan yang tak tertata adalah
nila dalam susu sebelanga Ujung Genteng. Wisatawan butuh waktu 15 menit dengan
ojek bertarif Rp 50.000 (pergi-pulang) untuk menuju Kawasan Taman Pesisir Penyu
Pangumbahan. Tak sedikit mobil turis terjebak di jalan berlumpur ketika memaksa
lewat jalan rusak itu.

Suaka margasatwa

Menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat Herdiwan Iing
Suranta, Ujung Genteng memang bukan daerah tujuan wisata. Karena, kawasan ini
masih merupakan bagian dari Suaka Margasatwa Cikepuh. Pengelolaannya pun di
bawah kewenangan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat.

”Kawasan itu paling digemari turis asing untuk berselancar karena ombaknya
yang menantang. Namun, semestinya kunjungan ke kawasan itu diatur ketat dan
tidak boleh sembarangan,” katanya.

Itulah sebabnya fasilitas bagi wisatawan pun terbatas di sana. ”Akan lain 
jadinya jika Kementerian
Kehutanan mengubah statusnya menjadi kawasan wisata yang dibuka untuk umum.
Kami pun siap menyediakan fasilitas (pariwisata),” tambah Herdiwan.

Sekalipun bukan kawasan wisata, tingginya angka kunjungan ke Ujung genteng
sepatutnya menjadi perhatian BBKSDA dan pemerintahan. Kenyamanan dan
keselamatan pengunjung tentunya patut diutamakan.

Setiap saat, turis-turis yang datang bisa saja terancam gelombang tinggi dan
cuaca buruk. Tanpa adanya papan larangan di sekitar pantai ataupun penunjuk
arah, maka Ujung Genteng tak ubahnya rimba raya yang molek tetapi penuh
marabahaya.

Potensi wisata di sana
tak disangkal telah menjadi nadi perekonomian penduduk di selatan Ciracap itu.
Pembiaran kawasan Ujung Genteng tumbuh menjadi lokasi wisata ”liar” hanya akan
menguntungkan segelintir orang. Akankah penduduk lokal tak mendapat tempat di
nirwananya sendiri, dan tergeser pendatang yang berkekuatan modal?

 




      

Kirim email ke