*Pajajaran dan Prabu Siliwangi Tak Ada*
  *DALAM* orasi ilmiahnya yang berjudul "Urang Sunda di Lingkungan
Indonesia", saat menerima gelar Doktor Honoris Causa (HC) untuk program
studi Budaya Fakultas Sastra dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Senin
(31/1), sastrawan Ajip Rosidi mengatakan, orang Sunda suka membohongi diri
sendiri dengan berpegang pada mitos-mitos yang tidak rasional dan tidak ada
buktinya.

Umpamanya, kata Ajip, percaya epada keagungan Kerajaan Pajajaran dan rajanya
Prabu Siliwangi, yang secara historis tidak ada buktinya pernah ada. Sebab
keduanya hanya terdapat dalam cerita pantun, dongeng, mitologi, dan
semacamnya.

"Hal itu menyebabkan orang Sunda tidak merasa perlu berusaha melakukan
sesuatu. Sebab terlalu percaya akan datangnya pertolongan dari Prabu
Siliwangi (padahal tak pernah datang)," ungkapnya.

Pada bagian lain orasinya Ajip mengatakan, kesadaran sebagai orang Sunda
perlu dibina, tapi dengan kesadaran bahwa Sunda sekarang berada di
lingkungan Indonesia. Orang Sunda sekarang bukan keturunan Prabu Siliwangi,
yang hendak mendirikan keagungan Kerajaan Pajajaran.

Pertama, karena sampai sekarang Kerajaan Pajajaran dan Prabu Siliwangi tidak
ada buktinya secara historis (dalam Saleh Danasasmita/2003 dan
Ayatrohaedi/1986). "Kedua, karena negara RI bukan lanjutan dari Kerajaan
Pajajaran atau kerajaan-kerajaan lainnya, yang pernah berdiri di Nusantara,
seperti Tarumanegara, Kutai, Sriwijaya, Majapahit, Samudera Pasai, Goa,
Ternate, dan lain-lain," terangnya.

Ajip juga menyoroti sudah lama kiprah orang Sunda kurang bergaung. Kiprah
orang Sunda tidak hanya terasa kurang bergaung di tingkat nasional, di
tingkat daerah pun tidak terasa. Padahal secara jumlah, konon orang Sunda
menjadi bagian dari 20% total penduduk Indonesia.

"Tidak ada orang Sunda yang menjadi Presiden RI, yang menjadi wakil pun
hanya seorang. Itu pun tidak memperlihatkan prestasi yang membanggakan.
Mungkin karena merasa menjadi ban serep saja," ungkapnya.

Sedangkan dari segi pendidikan, kata Ajip, tidak kalah menyedihkan. Misalnya
saja, didirikannya Paguyuban Pasundan hampir seratus tahun lalu oleh Dajat
Hidajat, untuk memajukan orang Sunda. Namun tidak berpengaruh sama sekali.
Namanya terdengar kalau mau mengadakan kongres, namun kemudian mati lagi.

"Paguyuban Pasundan pun mempunyai sekolah berpuluh-puluh, bahkan ada
universitasnya dengan moto teguh agamanya, tinggi ilmunya, dan luas
budayanya. Tapi tidak ada studi tentang budaya, bahasa atau bahkan sastra
Sunda. Jadi, budaya yang luas itu budaya yang mana?" tanyanya.

Menurut Ajip, kesadaran orang Sunda perlu dibina dengan kesadaran bahwa
mereka berada di lingkungan Indonesia, bukan keturunan Prabu Siliwangi yang
hendak mendirikan Kerajaan Pajajaran.

Bukan karena peninggalan kerajaan-kerajaan itu dianggap tidak ada, melainkan
warisannya terutama seni budaya, sastra, dan lainnya banyak sekali. Warisan
itu kemudian menjadi milik bangsa dan negara Indonesia yang harus dijaga.

Karena itu, Ajip memandang, jika ingin memajukan orang Sunda serta Tatar
Sunda, pemerintah daerah tidak hanya Jawa Barat melainkan Banten, ikut
bertanggung jawab. Termasuk menyediakan lembaga-lembaga yang memberikan
kesempatan kepada anak-anak Sunda, untuk menyerap ilmu dan melatih
kemampuannya dalam segala bidang.

"Tidak hanya cukup dengan menyediakan sekolah-sekolah formal, tapi juga
harus menyediakan perpustakaan sebanyak-banyaknya. Begitu pula gedung-gedung
untuk latihan dan pertunjukan berbagai kesenian dan kegiatan," ujarnya.

Jangan sampai, lanjutnya, berita orang Sunda yang dikenal adalah karena
menjadi korban meninggal akibat tertimbun sampah atau bencana longsor yang
menimbulkan rasa kasihan. Bukan prestasi seperti anak Palestina, yang
berhasil meledakkan bom bunuh diri di kubu musuh dan diberitakan di seluruh
dunia dengan penuh kagum.

*Biasa saja*

Bagi orang kebanyakan, mendapatkan gelar dari sebuah perguruan tinggi negeri
(PTN) merupakan hal yang membanggakan. Namun kegembiraan itu rupanya sama
sekali tidak tersirat pada wajah Ajip Rosidi.

Tidak ada luapan kegembiraan berlebihan. Ajip terlihat tenang. Begitulah
ekspresinya, apa adanya serta sederhana. "Gembira? Ah tidak. Biasa saja.
Buat apa?" ujarnya singkat saat ditanya wartawan di Aula Unpad, Jln. Dipati
Ukur, kemarin.

Menurut Ajip, rasa gembira berlebihan saat mendapatkan gelar, bukan
miliknya. Melainkan milik sebagian besar masyarakat Indonesia yang sudah
silau akan gelar. Bahkan hanya untuk sebuah gelar, berbagai cara negatif
dilalui.

"Plagiat, beli ijazah dan lainnya. Untuk apa gelar jika tidak ada
prestasinya? Seharusnya mengedepankan prestasi daripada mengejar gelar,"
ungkapnya.

Bukan tidak berdasar jika Ajip yang menerima gelar Doktor HC tepat di hari
ulang tahunnya, 31 Januari tersebut mengatakan demikian. Ajip yang kini
berusia 73 tahun, secara latar pendidikan hanya sampai di tingkat SMP yakni
di SMPN VIII Jakarta (1953). Sementara di Taman Madya, Taman Siswa Jakarta
(1956), tidak tamat.

Perjalanan hidup Ajip memang penuh karya. Melalui tangan dinginnya, sudah
tidak terhitung karyanya. Dimulai dari sajak, cerita pendek, roman, drama,
wayang, memoar/otobiografi, biografi, ensiklopedia, surat, bunga rampai
hingga publikasi penelitian pantun (dengan pengantar untuk setiap judul).

Dengan karyanya tersebut pula, menurut Rektor Unpad, Profesor Ganjar Kurnia
disetarakan dengan karya yang dihasilkan lulusan sarjana. Karena itulah,
pihaknya bisa memberikan gelar Doktor HC pada Ajip Rosidi. Pemberian Doktor
HC di bidang budaya merupakan yang pertama kalinya dilakukan Unpad.

"Jujur saja, untuk memberikan gelar tersebut memakan waktu yang cukup lama
sejak Rektor Prof. Himendra. Saya hanya meneruskan saja. Tapi karyanya yang
sudah dikenal dan tidak diragukan lagi serta sarat prestasi, maka bisa
disetarakan dengan lulusan sarjana," tuturnya. (rinny/"GM")**
http://www.klik-galamedia.com/indexnews.php?wartakode=20110201050938&idkolom=beritautama

Kirim email ke