Aya kitu menak, bangsawan nu nganggap biasa teu ngajarkeun diri maranehna  
turunan luhung?
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Dede Tursandi <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Wed, 2 Feb 2011 00:36:20 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Bls: [kisunda] Fwd: Dr HC pikeun kang Ajip Rosidi

upami  RAJA atanapi RADEN dianggap status sosial tos heunteu aya effek upami 
jaman ayeuna mah, janteun teu patos perlu lah... 

tapi upami RAJA atanapi RADEN dianggap sapertos nami sawajarna sah-sah wae 
numutkeun sim kuring mah...
janten nami Raden teh anggap we teu aya benteuna sareung nami Soleh, atanapi 
Abdullah atanapi Nurdin atanapi Jacky atanapi Boy atanapi Dede jeung sajabana...

tah makanyah upami aya batur nu didieu kagungan nami Raden teh teu sawios2 atuh 
dimumulukeun ge, candak we sareung teungeutan hikmah tina hartos Raden eta tea, 
sugan we tina nami eta teh tiasa janten sugesti pikeun janteun jalmi nu 
dipihareupkeun ku sepuhna...

sagala rupi tiasa janteun positif upami urang mandang tina sudut positifna
sagala rupi tiasa janten negatif upami urang mandang tina sudut negatifna



________________________________
Dari: "[email protected]" <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Sel, 1 Februari, 2011 01:28:03
Judul: Re: [kisunda] Fwd: Dr HC pikeun kang Ajip Rosidi

  
Jadi Raja, Raden ku sagala alesan masih perlu???????

Powered by Telkomsel BlackBerry®
________________________________

From:  Kumincir Wikidisastra <[email protected]> 
Sender:  [email protected] 
Date: Tue, 1 Feb 2011 12:47:34 +0700
To: Kisunda<[email protected]>; barayasunda<[email protected]>
ReplyTo:  [email protected] 
Subject: [kisunda] Fwd: Dr HC pikeun kang Ajip Rosidi
  
Inilah Kritik Ajip Rosidi Tentang Orang Sunda   
Senin, 31 Januari 2011 | 13:24 WIB
Besar Kecil Normal 
   
Ajip Rosidi. TEMPO/Yosep Arkian
TEMPO Interaktif, Jakarta - Budayawan Sunda Ajip Rosidi melontarkan kritik 
pedas 
soal  mental dan  perilaku orang Sunda. Kritik itu disampaikannya lewat orasi  
ilmiah  saat menerima penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa di bidang  Ilmu 
 
Budaya pada Fakultas Sastra dari Universitas Padjadjaran, di aula   kampus itu 
di Jalan Dipati Ukur, Bandung, Senin (31/1).

Ajip   memulai pidatonya tentang kondisi orang Sunda yang jarang tampil di   
gelanggang nasional sejak lama, padahal jumlahnya secara kesukuan nomor   dua 
diantara suku-suku bangsa yang membentuk Indonesia. Tidak ada orang   Sunda 
yang 
menjadi presiden. Adapun yang menjadi Wakil Presiden    hanya satu orang dan 
tidak menunjukkan prestasi yang membanggakan.   "Mungkin karena merasa menjadi 
ban serep saja," katanya, Senin (31/1).

Orang Sunda yang menjadi pejabat negara dan duduk di parlemen pun   jumlahnya 
sedikit. Selanjutnya Ajip merunut kiprah orang-orang Sunda   sejak jaman 
pergerakan sebelum proklamasi kemerdekaan dan sesudahnya   berdasarkan catatan 
sejarah. Kegelisahan tentang perasaan orang Sunda   yang seakan-akan tidak 
dihargai dalam lingkungan nasional itu muncul   hampir seabad lalu.

Ajip mengutip ucapan siswa STOVIA Dajat  Hidajat pada 1913 saat menggagas  
Pagoejoeban Pasoendan yang terbentuk  pada 1915. Dajat mempersoalkan  
sedikitnya 
orang Sunda yang menjadi  siswa kedokteran dibanding suku Jawa  dan Melayu. Ia 
pun menyinggung  berbagai jabatan di Tanah Pasundan yang  disandang suku lain. 
"Keadaan  orang Sunda di Tatar Sunda rasanya tak  banyak bedanya, bahkan lebih  
menyedihkan," kata Ajip.

Menurut dia, orang Sunda banyak yang  suka menipu diri sendiri dengan  jalan 
menutupi kenyataan dan kata-kata  yang menyenangkan hati sendiri.  Misalnya, 
orang Sunda itu berbudi  halus, suka mengalah, dan selalu  mendahulukan orang 
lain. Kenyataannya  banyak orang Sunda yang mau  melakukan apa saja demi 
kedudukan. "Artinya  munafik, perkataan tidak  sesuai dengan kata hati dan 
keinginannya,"  ujarnya.

Kemunafikan itu dianggap wajar akibat feodalisme yang  masih tebal  pengaruhnya 
dalam kehidupan orang Sunda. Pengaruh  feodalisme Jawa  setelah dijajah 
kerajaan 
Mataram pada 1624-1708, kata  Ajip, melahirkan  tingkatan (undak usuk) bahasa 
Sunda, serta takut  menyatakan pendapat  secara terus terang. 

Adapun akibat  penjajahan Belanda, orang Sunda menjadi terbiasa mengabdi,  
memiliki  mentalitas ingin terpakai oleh majikan atau atasan, dan tidak  berani 
 
bersaing dengan orang lain. 

Ajip Rosidi, 73 tahun, dilahirkan  di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat,  pada 
31 Januari 1938. Kiprahnya  sebagai sastrawan dengan membuat sajak  dan cerita 
pendek dirintisnya  sejak duduk di bangku sekolah menengah  pertama di Jakarta 
pada 1953.
(http://www.tempointeraktif.com/hg/bandung/2011/01/31/brk,20110131-310084,id.html)



 


Kirim email ke